Petani Jepang Beralih Kerja Malam demi Selamat dari Gelombang Panas Ekstrem
Baca dalam 60 detik
- Gelombang panas ekstrem memaksa petani Jepang menggeser jam kerja ke malam hari, dengan 60% petani telah mengubah jadwal mereka.
- Pada 2024, sektor pertanian Jepang kehilangan 926 juta jam kerja akibat panas, setara kerugian ekonomi US$46 miliar atau 1% PDB.
- Regulasi baru 2025 mewajibkan perusahaan menyusun prosedur laporan heatstroke, sementara adopsi teknologi smart farming terus didorong.

Di tengah malam, rumah kaca milik Motoaki Iijima di utara Tokyo menyala terang bagaikan lentera raksasa. Pria 36 tahun itu memetik bunga gerbera berwarna pink dan oranye, menghindari terik matahari siang yang kini semakin mematikan. Fenomena ini bukan hanya dialami Iijimaโdi seluruh Jepang, para petani mulai menulis ulang ritme kerja mereka: dari pagi hingga malam, demi bertahan dari gelombang panas yang kian ekstrem.
Perubahan ini dipicu oleh kenyataan pahit: suhu di luar ruangan yang kerap menembus 35 derajat Celsius dapat mendorong suhu di dalam rumah kaca hingga di atas 40 derajat. Tiga tahun lalu, seorang pekerja paruh waktu di kebun Iijima jatuh pingsan akibat heatstroke saat memetik bunga matahari. Sejak itu, Iijima memutuskan untuk bekerja di luar ruangan sepanjang malam, hanya berhenti ketika matahari pagi kembali menyengat. "Jam-jam menjelang senja sangat berharga. Saat itulah kami bisa berada di luar," ujarnya, seraya menyeka keringat di bawah lampu halogen. "Kami perlahan menjadi makhluk nokturnal. Ini tentang melindungi tubuh kami, dan pada akhirnya, nyawa kami."
Fenomena serupa terjadi di berbagai belahan dunia, dari petani padi di Vietnam hingga pekerja kebun anggur di Spanyol. Namun, Jepang menjadi salah satu negara yang paling rentan. Sekitar 70 persen petani di Negeri Sakura berusia 65 tahun ke atas, kelompok yang sangat rentan terhadap stres panas. Kelembapan tinggi di Jepang juga memperparah risiko. Data mencatat rekor 59 pekerja pertanian meninggal akibat panas ekstrem pada 2024, lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun 2021. Survei Asosiasi Cuaca Jepang tahun lalu mengungkapkan, sekitar 60 persen petani berusia 20-50 tahun pernah mengalami heatstroke atau mengenal orang yang mengalaminya. Hampir 60 persen petani juga telah menggeser jam kerja mereka ke waktu yang lebih pagi atau lebih malam.
Dampak ekonominya sangat nyata. Menurut Lancet Countdown, kolaborasi riset yang memantau dampak kesehatan akibat perubahan iklim, paparan panas pada 2024 menyebabkan sektor pertanian Jepang kehilangan 926 juta jam kerjaโwaktu yang tidak bisa dihabiskan pekerja di ladang dengan aman. Di semua sektor, jam kerja yang hilang akibat panas hampir dua kali lipat dari rata-rata tahun 1990-an, setara kerugian pendapatan sekitar US$46 miliar atau sekitar 1 persen dari produk domestik bruto Jepang.
Di kebun Iijima, adaptasi dilakukan secara manual. Para pekerja kini mulai bekerja hingga dua jam lebih awal. Miyoko Asada, 68 tahun, tiba di kebun sesaat setelah matahari terbit. "Kami harus berlomba dengan waktu," katanya sambil buru-buru memotong bunga aster ungu bersama delapan pekerja lainnya, sebelum suhu naik melewati batas aman. Sementara itu, di kota tetangga, peternak ayam Tetsuya Usuba menghadapi krisis yang berbeda. Enam tahun lalu, ia kehilangan lebih dari 500 ayam petelur akibat heatstroke selama tiga hari panas ekstrem. Pengalaman itu masih membekasโia dan ayahnya harus menggunakan forklift dengan ember raksasa untuk mengeluarkan bangkai ayam dari kandang.
Kini, rutinitas tengah malam Usuba sudah pasti: lampu di dua kandangnya menyala otomatis pukul 02.30 untuk membangunkan 4.400 ayam agar makan sebelum panas menekan nafsu makan mereka. Ia juga memasang kipas tambahan, menyemprot air ke atap logam kandang, dan menambahkan asam sitrat ke air minum ayam. Namun, ketika suhu tiba-tiba melonjak di atas 35 derajat bulan lalu, ia tetap kehilangan 130 ekor. "Musim panas telah menjadi ancaman baru bagi produsen seperti kami, sesuatu yang menakutkan seperti wabah flu burung," ujar pria 48 tahun itu. Saat ia memeriksa ayam-ayamnya suatu sore, termometer menunjukkan 33 derajat Celsius, dan banyak ayam terengah-engah dengan paruh terbuka.
Pemerintah Jepang merespons dengan regulasi baru yang mulai berlaku pada 2025, mewajibkan pengusaha menyusun prosedur pelaporan heatstroke dan rencana tanggap darurat. Selain itu, teknologi pertanian pintar seperti drone dan robot juga digalakkan untuk mengurangi paparan panas pekerja. Namun, di kebun Iijima, adaptasi masih sangat manual. Pada pagi buta, para pekerja buru-buru memeriksa bunga yang dipanen untuk memastikan tidak ada daun layu sebelum dimuat ke truk. Belum pukul 08.00, udara pagi masih bersahabat. "Lihat, daun-daun itu sudah mulai layu," teriak seorang pekerja. Iijima berhenti sejenak dan menatap langit yang mendung. Sebentar lagi, panas akan kembali.
Fenomena ini menjadi pengingat bagi Indonesia, yang juga berjuang melawan gelombang panas dan dampaknya pada sektor pertanian. Dengan jutaan petani yang bekerja di bawah terik matahari, adopsi jam kerja fleksibel dan teknologi adaptif bisa menjadi kunci. Namun, apakah kebijakan dan kesadaran akan risiko heatstroke sudah cukup masif di Indonesia? Atau justru kita perlu belajar dari Jepang untuk mulai memikirkan ulang cara kita bekerja di tengah perubahan iklim?



