Tunisia vs Cape Verde: Kisah Kejutan Piala Dunia yang Mengguncang Afrika
Baca dalam 60 detik
- Federasi Sepak Bola Cape Verde resmi menunjuk Humberto Bettencourt sebagai pelatih anyar, menggantikan Bubista yang hengkang ke klub Maroko.
- Keputusan ini diambil setelah Cape Verde tampil impresif di Piala Dunia 2026, lolos dari fase grup dan hanya kalah dramatis dari Argentina di babak 32 besar.
- Bettencourt, yang telah enam tahun mendampingi tim, dihadapkan pada tugas berat mempertahankan performa tim di kualifikasi Piala Afrika 2027.

Federasi Sepak Bola Cape Verde (FCF) resmi mengumumkan Humberto Bettencourt sebagai pelatih kepala tim nasional, menggantikan Bubista yang memimpin skuad 'Tubarรตes Azuis' hingga babak 32 besar Piala Dunia 2026. Penunjukan ini menjadi sinyal kesinambungan bagi tim yang musim panas lalu mencatatkan sejarah sebagai debutan paling mengejutkan di turnamen empat tahunan tersebut.
Bettencourt, 51 tahun, bukanlah sosok asing bagi sepak bola Cape Verde. Selama enam tahun terakhir, ia mendampingi Bubista sebagai asisten pelatih dan memahami betul karakter pemain yang mayoritas berkarier di liga-liga Eropa. Keputusan FCF untuk mempromosikan dari internal dianggap langkah strategis untuk menjaga stabilitas, terutama saat tim harus beradaptasi dengan kepergian arsitek utama di balik sukses mereka.
Prestasi Cape Verde di Piala Dunia 2026 memang sulit dilupakan. Bermain di grup yang dihuni raksasa seperti Brasil dan Serbia, mereka lolos sebagai runner-up grup dan hanya kalah 1-2 dari Argentina di babak 32 besar setelah melalui perpanjangan waktu. Penampilan itu tidak hanya membanggakan 500 ribu penduduk negeri kepulauan, tetapi juga menjadi bukti bahwa sepak bola Afrika semakin kompetitif.
Kepergian Bubista ke Renaissance Berkane, klub asal Maroko yang musim lalu menembus semifinal Liga Champions Afrika, menjadi kehilangan besar. Namun, FCF bergerak cepat dengan menunjuk Bettencourt yang telah lama menjadi bagian dari ruang ganti. Meski demikian, FCF belum mengumumkan durasi kontrak atau rincian lainnya, menimbulkan spekulasi bahwa penunjukan ini bersifat sementara sambil mencari kandidat yang lebih berpengalaman.
Bagi Indonesia, kisah Cape Verde menawarkan pelajaran berharga tentang bagaimana sebuah negara kecil bisa bersaing di panggung dunia. Dengan populasi yang hanya sepersepuluh dari Jakarta, Cape Verde membuktikan bahwa pembinaan pemain diaspora dan strategi permainan yang solid dapat mengangkat prestasi. Hal ini relevan dengan upaya PSSI yang tengah gencar menaturalisasi pemain keturunan untuk memperkuat Timnas.
Bettencourt kini menghadapi ujian pertamanya pada September mendatang saat Cape Verde memulai kualifikasi Piala Afrika 2027 melawan Mali dan Rwanda. Dua laga tersebut akan menjadi tolak ukur apakah tim mampu mempertahankan performa tanpa Bubista. Pertanyaannya, akankah Bettencourt mampu meneruskan warisan sang pendahulu, atau justru menjadi awal dari kemunduran?



