Menuju LA 2028: Anggar AS Berbenah, Targetkan 70.000 Anggota dan Terobosan Komersial
Baca dalam 60 detik
- USA Fencing mencatat rekor 45.157 anggota dan 752 klub, melampaui target 700 klub untuk 2028.
- Federasi menargetkan 70.000 anggota sebelum Olimpiade Los Angeles, didukung ekspansi pemasaran senilai $2,8 juta.
- Kemitraan dengan iHeartMedia dan program sekolah diharapkan mendorong partisipasi, dengan ujian sesungguhnya pada Brisbane 2032.

Menjelang Olimpiade Los Angeles 2028, USA Fencing berupaya keras melepaskan diri dari citra olahraga eksklusif dan mahal. Federasi anggar Amerika Serikat ini menargetkan 70.000 anggota pada ajang tersebut, setelah berhasil menembus rekor 45.157 anggota dan 752 klub afiliasiโangka yang sudah melampaui target awal 700 klub untuk 2028. Ambisi ini bukan sekadar angka; ini adalah upaya sadar untuk mengubah anggar menjadi olahraga arus utama di negeri Paman Sam.
Phil Andrews, CEO USA Fencing sejak 2022, mengakui bahwa pemasaran adalah kunci yang selama ini terabaikan. "Kami benar-benar berusaha memasarkan olahraga ini, yang sebelumnya tidak pernah terjadi," ujarnya dalam wawancara dengan Reuters. Langkah ini diwujudkan melalui kemitraan multi-juta dolar dengan iHeartMedia yang diumumkan pada 2025, memanfaatkan platform radio, podcast, digital, dan sosial untuk menjangkau audiens yang lebih luas.
Federasi tidak berhenti pada eksposur. Program "Fencing Across America" menawarkan acara perkenalan gratis di berbagai kota, di mana anak-anak, remaja, dan orang dewasa dapat mencoba ketiga senjata anggar serta parafencing dengan peralatan pinjaman dan pelatihan. "Menaruh olahraga ini di depan orang-orang agar mereka bisa mencobanya adalah bagian penting. Jumlah penonton saja tidak cukup; yang penting adalah membuat orang sadar bahwa mereka bisa mencobanya," tegas Andrews.
Selain itu, program berbasis sekolah "En Garde! Fencing" memperkenalkan anggar ke sekolah dasar dan ruang setelah sekolah, kemudian menghubungkan siswa yang berminat dengan klub lokal. Di luar federasi, World Fencing League yang diluncurkan pada April lalu, dengan investor terkenal seperti juara Formula Satu tujuh kali Lewis Hamilton, mencoba mengemas anggar dalam format yang lebih menghibur.
Namun, tantangan terbesar bukan hanya menarik penonton, melainkan membuat anggar lebih terjangkau. Program "Fencing the Gap" memberikan hibah kepada klub yang berupaya menghilangkan hambatan masuk, termasuk peralatan, beasiswa, transportasi, dan dukungan pelatihan. Pada 2026, lima klub menerima hibah $5.000, masing-masing diharapkan menjangkau 30 hingga 50 anak muda. "Anggar adalah olahraga mahal. Kami harus mengakuinya untuk menyelesaikannya," kata Andrews, seraya menekankan pentingnya filantropi untuk membuka pintu bagi mereka yang tidak mampu.
Organisasi seperti Peter Westbrook Foundation di New York telah membantu atlet seperti Lauren Scruggs, peraih dua medali di Olimpiade Paris 2024, yang biaya kompetitifnya bisa mencapai ribuan dolar per tahun. "Kami sangat senang dengan kesuksesan Lauren. Kami perlu menemukan lebih banyak atlet seperti dia," tambah Andrews.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi pelajaran berharga. Anggar di Tanah Air masih identik dengan kalangan tertentu, dan upaya USA Fencing menunjukkan pentingnya strategi pemasaran yang agresif serta program akar rumput untuk menjaring bakat. Keberhasilan mereka bisa menjadi inspirasi bagi Federasi Anggar Indonesia (IKASI) untuk memperluas basis atlet, terutama menjelang SEA Games dan ajang internasional lainnya.
Andrews menegaskan bahwa LA28 hanyalah awal. "Ukuran kesuksesan sebenarnya ada di Brisbane 2032. Biasanya ada efek setelah Olimpiade di rumah sendiri selama satu atau dua tahun. Ujian sebenarnya adalah: seperti apa olahraga ini empat tahun setelah LA?" Pertanyaan ini menggantung, mengingat banyak federasi olahraga yang gagal mempertahankan momentum pasca-Olimpiade. Apakah anggar AS mampu membuktikan diri sebagai olahraga yang bertahan, atau hanya bersinar sesaat?



