Houthi Klaim Serang Bandara dan Fasilitas Aramco di Arab Saudi, Eskalasi Konflik Yaman Mengkhawatirkan
Baca dalam 60 detik
- Kelompok Houthi Yaman mengaku melancarkan serangan drone ke Bandara Najran dan fasilitas Aramco di Arab Saudi, menandai eskalasi terbaru konflik regional.
- Serangan ini terjadi setelah Houthi membatalkan gencatan senjata 2022 dan mengumumkan blokade maritim, mengancam jalur pelayaran vital di Bab al-Mandab.
- Konflik yang meluas berpotensi mengguncang pasar minyak global dan berdampak pada harga energi serta stabilitas kawasan, termasuk kepentingan Indonesia di jalur perdagangan.

Kelompok pemberontak Houthi yang berbasis di Yaman mengklaim telah menyerang Bandara Najran dan fasilitas milik raksasa minyak Arab Saudi, Aramco, di kawasan selatan kerajaan tersebut. Serangan drone yang dinyatakan berhasil ini menandai babak baru dalam konflik yang telah berlangsung lebih dari satu dekade, sekaligus mengirim sinyal bahwa gencatan senjata yang rapuh benar-benar runtuh.
Dalam pernyataan yang disiarkan melalui Telegram, juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengatakan dua operasi dilancarkan secara terpisah: satu menargetkan bandara Najran dan yang lainnya menyasar instalasi Aramco di kota yang sama. Wilayah Najran memang berbatasan langsung dengan Yaman dan kerap menjadi sasaran serangan lintas batas. Klaim ini muncul hanya beberapa jam setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran memperingatkan bahwa Arab Saudi tidak akan mampu menahan laju serangan Houthi.
Eskalasi ini merupakan kelanjutan dari keputusan Houthi pada Juli lalu yang secara sepihak membatalkan gencatan senjata 2022 dengan pemerintah Yaman yang didukung Saudi. Sejak saat itu, kelompok yang didukung Iran tersebut meningkatkan agresi, termasuk mengumumkan blokade maritim terhadap Arab Saudi dan menyerang kapal-kapal, bandara, serta fasilitas minyak. Pekan ini, seorang menteri Yaman mengungkapkan kepada AFP bahwa Houthi berencana merebut wilayah di sepanjang Selat Bab al-Mandab, salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.
Langkah Houthi untuk menguasai area strategis itu dikonfirmasi oleh tiga sumber militer kelompok tersebut dan juru bicara pasukan pemerintah Yaman yang bertempur di dekat perairan tersebut. Mereka menyebut rencana untuk maju ke selatan dari wilayah kekuasaan Houthi saat ini. Jika terealisasi, ancaman terhadap Bab al-Mandab akan semakin nyata, mengingat selat ini dilalui sekitar 12 persen perdagangan minyak dunia dan menjadi titik rawan bagi rantai pasok energi global.
Bagi Indonesia, konflik ini bukan sekadar berita mancanegara. Sebagai negara pengimpor minyak, setiap gejolak di Timur Tengah berpotensi mendongkrak harga minyak mentah dan pada akhirnya membebani anggaran subsidi energi. Lebih jauh, Selat Bab al-Mandab merupakan jalur yang dilalui kapal-kapal menuju Terusan Suez, rute utama ekspor-impor Indonesia ke Eropa. Gangguan di titik ini dapat memicu kenaikan biaya logistik dan mengganggu rantai pasok komoditas.
Analis menilai bahwa serangan Houthi kali ini bukan sekadar aksi militer, melainkan pesan politik yang ditujukan kepada Arab Saudi dan sekutunya. Dengan memanfaatkan drone yang relatif murah, Houthi menunjukkan kemampuan untuk menyerang target strategis di tengah upaya internasional meredakan ketegangan. Namun, respons Saudi yang selama ini cenderung defensif dapat berubah menjadi ofensif, memicu siklus balas dendam yang sulit diputus.
โSerangan ini menegaskan bahwa Houthi tidak akan tinggal diam selama tuntutan politik mereka tidak dipenuhi,โ ujar seorang pengamat Timur Tengah yang enggan disebut namanya.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah komunitas internasional mampu menekan kedua belah pihak untuk kembali ke meja perundingan, atau justru membiarkan konflik ini melebar menjadi perang regional yang lebih luas. Dengan Iran yang semakin vokal mendukung Houthi dan Arab Saudi yang bertekad mempertahankan keamanan wilayahnya, prospek perdamaian masih jauh dari kata pasti. Yang jelas, stabilitas kawasan dan harga energi dunia akan terus menjadi taruhan di tengah ketidakpastian ini.



