Paus Leo XIV Kirim Duka Cita untuk Korban Gempa NTT: Seruan Solidaritas di Tengah 3.752 Gempa Susulan
Baca dalam 60 detik
- Pemimpin Gereja Katolik sedunia secara resmi menyampaikan belasungkawa melalui telegram kepada Uskup Agung Ende, menegaskan kedekatan spiritual dengan para penyintas bencana.
- Di tengah penanganan darurat yang masih berlangsung, data BNPB mencatat 75 korban jiwa dan hampir seribu luka-luka, sementara aktivitas seismik belum mereda.
- Langkah Vatikan ini menyoroti dimensi kemanusiaan yang melampaui batas negara, sekaligus menguatkan seruan kewaspadaan bagi masyarakat NTT menghadapi potensi gempa susulan.

Vatikan secara resmi menyampaikan duka mendalam atas bencana gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang meluluhlantakkan sebagian wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8). Dalam telegram yang diteken Sekretaris Negara Vatikan, Kardinal Pietro Parolin, Paus Leo XIV menyebut dirinya “sangat sedih” dan menyerukan solidaritas tanpa syarat bagi para korban.
Pernyataan itu diunggah melalui kanal media sosial Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Vatikan pada Kamis (20/8), atau lima hari setelah guncangan utama. Telegram tersebut dialamatkan langsung kepada Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD, sebuah sinyal bahwa perhatian Takhta Suci menyasar pusat keuskupan yang wilayahnya paling parah terdampak.
Di luar ungkapan simbolis, isi telegram memuat dorongan konkret agar para pemimpin Gereja dan otoritas sipil terus menggerakkan bantuan kemanusiaan. Paus juga memanjatkan doa bagi keluarga korban, seraya memohon kekuatan dan penghiburan bagi masyarakat yang tengah berjuang memulihkan diri dari reruntuhan.
Bencana ini meninggalkan duka yang dalam: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sedikitnya 75 orang tewas dan 907 lainnya luka-luka. Angka tersebut berpotensi bertambah seiring proses evakuasi yang masih berjalan di sejumlah titik terisolasi.
Yang mengkhawatirkan, aktivitas seismik di kawasan itu belum menunjukkan tanda-tanda mereda. BNPB mencatat hingga Kamis pukul 16.00 WIB telah terjadi 3.752 gempa susulan. Salah satunya dirasakan warga pada Kamis pukul 10.47 waktu setempat dengan kekuatan 5,7 magnitudo—cukup kuat untuk memicu kepanikan baru di tengah trauma kolektif.
Para ahli kebencanaan menilai bahwa rangkaian gempa susulan dengan frekuensi setinggi ini merupakan karakteristik khas sesar aktif di busur kepulauan Indonesia. Karena itu, imbauan BNPB agar masyarakat tetap waspada dan siaga bukan sekadar formalitas, melainkan langkah antisipatif terhadap risiko longsor dan kerusakan bangunan yang sudah rapuh.
Bagi Indonesia, perhatian dari pemimpin tertinggi umat Katolik sedunia ini memiliki makna lebih dari sekadar simpati diplomatik. NTT merupakan salah satu kantong populasi Katolik terbesar di Tanah Air, dan keterlibatan langsung Vatikan melalui jalur keuskupan menunjukkan bahwa solidaritas global dapat bergerak cepat ketika bencana menerpa komunitas keagamaan. Ini juga menjadi pengingat bahwa respons kemanusiaan tidak bisa berjalan sendiri-sendiri.
“Paus menyampaikan solidaritas dan kedekatan spiritual kepada seluruh masyarakat yang terdampak,” demikian keterangan resmi KBRI Vatikan yang mengutip isi telegram tersebut.
Ke depan, pertanyaan yang menggantung adalah seberapa cepat proses rehabilitasi dan rekonstruksi dapat berjalan di tengah keterbatasan akses dan ancaman gempa susulan. Pemerintah daerah dan pusat dituntut untuk tidak hanya fokus pada tanggap darurat, tetapi juga menyiapkan skema pemulihan jangka panjang—terutama bagi hunian warga yang rata dengan tanah.
Duka yang disampaikan Paus Leo XIV mungkin akan mereda seiring waktu, tetapi puing-puing di NTT masih menyimpan pekerjaan rumah besar. Apakah solidaritas global yang mengalir kali ini akan berbanding lurus dengan aksi nyata di lapangan? Waktu yang akan menjawab, sementara para penyintas masih menanti uluran tangan yang tidak berhenti pada kata-kata.



