Aramco Peringatkan Pemulihan Stok Minyak Global Butuh Dua Tahun, Harga Berpotensi Melonjak
Baca dalam 60 detik
- CEO Aramco Amin Nasser menyatakan perlu waktu hingga dua tahun untuk mengisi kembali cadangan minyak dunia yang terkuras akibat konflik AS-Iran.
- Sekitar 3 miliar barel pasokan hilang sejak perang dimulai, sementara hanya 1 miliar barel yang berhasil dikeluarkan dari penyimpanan.
- Ketegangan di Selat Hormuz dan ketidakpastian pasokan dapat memperparah tekanan harga minyak, dengan implikasi besar bagi ekonomi Indonesia.

Kepala eksekutif Saudi Aramco, Amin Nasser, memperingatkan bahwa pemulihan stok minyak global bisa memakan waktu hingga dua tahun, seiring berlanjutnya perang antara Amerika Serikat dan Iran yang mengganggu pasokan dunia. Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi Energy Intelligence di London, Senin (5/10/2026), dan menjadi sinyal bahwa tekanan di pasar energi belum akan mereda dalam waktu dekat.
Nasser mengungkapkan bahwa konflik telah menghapus sekitar 3 miliar barel pasokan minyak sejak dimulainya serangan militer AS dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari lalu. Dari jumlah tersebut, sekitar 1 miliar barel telah dikeluarkan dari cadangan strategis, terutama dari persediaan komersial. Menurutnya, sisa cadangan sekitar 6 miliar barel yang masih tersimpan "secara praktis tidak dapat diakses" karena kendala teknis dan logistik. "Sistem sudah berada di bawah tekanan berat," ujarnya, dikutip Reuters.
Pernyataan Nasser muncul tak lama setelah negara-negara G7 menyetujui pelepasan 100 juta barel diesel dan minyak mentah dari cadangan darurat pada Jumat lalu, menyusul desakan Presiden AS Donald Trump. Langkah ini diambil untuk meredam lonjakan harga, namun Nasser menilai bahwa penambahan pasokan dari cadangan tidak akan cukup menutup defisit yang terus melebar. Ia menekankan bahwa tekanan di kedua ujung rantai pasokโdari sumur minyak hingga kilangโakan terus meningkat sampai Selat Hormuz kembali dibuka penuh dan kepercayaan pasar pulih.
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran sempit yang strategis, dengan sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair dunia melewatinya. Gangguan di wilayah ini telah memicu gejolak di pasar energi global, dan pemulihan ekspor melalui jalur tersebut serta pipa East-West milik Arab Saudi masih berjalan lambat. Meski demikian, harga minyak pada Senin diperdagangkan sedikit lebih rendah karena ekspor minyak mentah Timur Tengah dilaporkan mulai meningkat. Brent untuk pengiriman Desember turun 0,1% menjadi US$102,20 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) untuk November melemah 0,5% ke US$90,64.
Bagi Indonesia, situasi ini menjadi perhatian serius. Sebagai negara net importir minyak, kenaikan harga minyak mentah global akan langsung menekan APBN melalui subsidi energi dan meningkatkan biaya impor. Pemerintah mungkin perlu memperkuat bantalan fiskal atau mempercepat transisi ke energi terbarukan untuk mengurangi kerentanan terhadap gejolak pasar minyak dunia. Selain itu, inflasi yang dipicu kenaikan harga BBM dapat menggerus daya beli masyarakat, terutama kelompok menengah ke bawah.
"Bahkan setelah itu, mengisi kembali persediaan sambil memenuhi permintaan bisa memakan waktu hingga dua tahun," kata Nasser, seperti dikutip Reuters.
Pernyataan Nasser ini juga mencerminkan kekhawatiran yang lebih luas di kalangan pelaku pasar energi. Sebelumnya, beberapa analis telah memperingatkan bahwa perang berkepanjangan di Timur Tengah dapat memicu krisis pasokan global yang lebih dalam, terutama jika konflik meluas ke negara-negara produsen minyak lainnya. Ketegangan di Selat Hormuz juga dapat mengganggu jalur perdagangan internasional, dengan dampak berantai pada sektor logistik dan manufaktur.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah gencatan senjata atau kesepakatan damai dapat segera tercapai untuk meredakan ketegangan. Tanpa penyelesaian konflik, risiko lonjakan harga minyak menuju level yang lebih tinggi akan terus membayangi, dan pemulihan ekonomi global bisa terhambat. Indonesia, sebagai bagian dari ekonomi dunia, perlu bersiap menghadapi skenario terburuk dengan memperkuat ketahanan energi domestik dan diversifikasi sumber pasokan.



