Lima Tahun Kepergian Nikki Grahame, Pete Bennett Akui Trauma yang Tak Kunjung Usai
Baca dalam 60 detik
- Pete Bennett mengaku masih bergulat dengan duka mendalam atas kepergian Nikki Grahame, yang meninggal pada 2021 setelah bertahun-tahun berjuang melawan gangguan makan.
- Dalam wawancara dengan The Brighton Coach, ia mengungkapkan bahwa proses berduka membutuhkan waktu lima tahun dan masih memicu reaksi emosional yang kuat.
- Kisah ini menyoroti pentingnya dukungan kesehatan mental bagi mereka yang kehilangan orang terkasih, terutama setelah hubungan yang intens dan penuh kenangan.

Pete Bennett, mantan kekasih Nikki Grahame yang dikenal dari acara realitas Big Brother, mengungkapkan bahwa ia masih dilanda duka mendalam lima tahun setelah kepergian Nikki pada 2021. Dalam sebuah wawancara dengan The Brighton Coach, Pete secara terbuka menceritakan trauma yang ia alami akibat kehilangan sosok yang pernah menjadi bagian penting dalam hidupnya.
Nikki Grahame, bintang Big Brother yang wafat setelah bertahun-tahun bergulat dengan gangguan makan, meninggalkan luka yang tak mudah sembuh bagi Pete. Pria berusia 44 tahun itu mengaku bahwa pertanyaan tentang Nikki dalam wawancara tersebut sempat membuatnya tersinggung. "Saya benar-benar mengalami trauma tingkat lanjut selama bertahun-tahun. Saya baru saja bisa melewatinya, dan ke mana pun saya pergi, topik itu selalu muncul. Sangat sulit karena banyak orang ingin membicarakannya," ujarnya dengan nada kesal.
Pete menambahkan bahwa proses berduka membutuhkan waktu yang panjang. "Saya sedang berusaha sembuh sekarang. Butuh lima tahun bagi saya untuk bisa berduka atas kepergiannya dan atas apa yang terjadi, serta mencoba mencapai titik di mana hal itu tidak lagi memicu reaksi emosional. Karena seluruh peristiwa ini sungguh mengerikan," tuturnya. Ia juga menyampaikan kerinduannya yang mendalam. "Saya sangat merindukannya. Saya hanya berharap bisa mengatakan 'maaf' dan memberinya pelukan," tambahnya.
Hubungan Pete dan Nikki bermula di rumah Big Brother pada 2006. Setelah acara berakhir, mereka sempat melanjutkan pacaran, meski akhirnya berpisah. Namun, keduanya tetap menjaga persahabatan, dan Pete masih berkomunikasi dengan Nikki beberapa saat sebelum kematiannya. Pada 2021, Pete mengungkapkan upayanya menghubungi Kate Bush, idola musik Nikki, untuk memberikan semangat. "Saya ingin menghubungi Kate Bush untuk mengirim pesan kepada Nikki karena saya pikir dukungan dari idolanya akan membantunya merasa lebih positif dan pulih. Tapi kemudian kami mendapat kabar bahwa dia telah pergi. Terlalu terlambat," kenangnya kepada Heat magazine.
"Saya sedang berusaha sembuh sekarang. Butuh lima tahun bagi saya untuk bisa berduka atas kepergiannya dan atas apa yang terjadi, serta mencoba mencapai titik di mana hal itu tidak lagi memicu reaksi emosional." - Pete Bennett
Kisah Pete mencerminkan betapa kompleksnya proses berduka, terutama ketika kehilangan seseorang yang pernah sangat dekat. Dalam konteks Indonesia, di mana kesehatan mental masih sering diabaikan, pengalaman Pete menjadi pengingat bahwa dukungan psikologis sangat penting bagi mereka yang ditinggalkan. Gangguan makan seperti yang dialami Nikki juga masih menjadi tantangan di Indonesia, dengan stigma yang membuat banyak orang enggan mencari bantuan.
Ke depan, perhatian terhadap kesehatan mental dan gangguan makan perlu terus ditingkatkan. Apakah masyarakat dan sistem kesehatan kita sudah cukup siap memberikan dukungan bagi mereka yang berjuang, serta bagi keluarga dan orang terdekat yang harus melanjutkan hidup setelah kehilangan?



