Cardano Melonjak 10% di Tengah Pasar Kripto yang Masih Terjebak Rentang Sempit
Baca dalam 60 detik
- ADA mencatat kenaikan 10% dalam 24 jam terakhir, menembus level tertinggi sejak Mei di atas 27 sen, sementara Bitcoin dan Ether hanya naik tipis.
- Sentimen positif didorong oleh produk RealFi yang menawarkan imbal hasil hingga 9% dari kredit institusional dan persiapan era Dijkstra untuk skalabilitas jaringan.
- Penguatan indeks dolar AS ke level tertinggi sejak April 2025 berpotensi menjadi hambatan bagi aset kripto, meski korelasi historis menunjukkan hubungan lemah.

Cardano (ADA) menjadi bintang di pasar kripto yang lesu. Token ini melesat 10% dalam sehari terakhir dan menembus harga di atas 27 sen, level tertinggi sejak Mei, menurut data CoinDesk. Sementara itu, Bitcoin dan Ether hanya bergerak naik masing-masing 1% dan 0,5%, masih terkurung dalam rentang perdagangan yang sudah akrab dalam beberapa pekan terakhir.
Penyebab pasti lonjakan ADA memang sulit dipastikan. Namun, peluncuran produk "RealFi" pada 1 Oktober lalu diduga menjadi katalis utama. Produk ini memungkinkan pengguna menyalurkan stablecoin ke kredit institusional dengan imbal hasil tahunan hingga 9%. Selain itu, persiapan menuju era Dijkstra—fase peningkatan skalabilitas dan optimasi jaringan—juga diperkirakan menarik modal masuk. Fase pertama pembaruan tersebut dijadwalkan bergulir antara akhir Desember 2026 hingga awal 2027, membawa Linear Leios dan transaksi bersarang untuk mendongkrak kapasitas pemrosesan transaksi secara signifikan.
Di sisi lain, pasar kripto secara keseluruhan masih bergerak dalam kisaran sempit. Bitcoin bertahan di antara $84.000 dan $87.000, sementara Ether tertahan di sekitar $2.712. Token-token lapis kedua seperti VVV, ENA, dan PEPE mencatat kenaikan sekitar 5% dalam 24 jam, lebih baik dari mata uang utama namun masih kalah dari performa ADA.
Di pasar tradisional, Indeks Dolar AS (DXY) melonjak ke 102,53 pada awal perdagangan hari ini, level tertinggi sejak April 2025, melanjutkan kenaikan dari titik terendah 98,60 pada 9 September. Kenaikan DXY yang berkelanjutan sering dianggap sebagai angin sakal bagi Bitcoin dan aset kripto lainnya, meskipun data korelasi menunjukkan hubungan yang lemah antara keduanya. Artinya, penguatan dolar tidak serta-merta menekan harga kripto secara langsung, tetapi tetap menjadi faktor yang perlu dicermati investor.
Bagi investor Indonesia, dinamika ini menawarkan beberapa implikasi. Pertama, diversifikasi ke aset kripto seperti ADA dapat menjadi alternatif di tengah ketidakpastian nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Kedua, produk RealFi yang menawarkan imbal hasil tetap dari kredit institusional bisa menjadi instrumen baru yang menarik, terutama jika stablecoin semakin diatur di kawasan Asia Pasifik. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia terus menggodok regulasi aset kripto, dan perkembangan seperti ini dapat mempercepat adopsi institusional di dalam negeri.
"Pasar kripto saat ini sangat selektif. Kenaikan ADA menunjukkan bahwa investor mulai melirik proyek dengan fundamental kuat dan inovasi nyata, bukan sekadar spekulasi," ujar seorang analis pasar kripto yang tidak ingin disebutkan namanya.
Ke depan, pergerakan ADA akan sangat bergantung pada kelanjutan adopsi RealFi dan persiapan teknis menuju era Dijkstra. Jika fase pertama Dijkstra berjalan mulus, Cardano berpotensi memperkuat posisinya sebagai salah satu jaringan blockchain yang skalabel. Namun, tekanan makro dari penguatan dolar AS dan kebijakan moneter global tetap menjadi tantangan. Investor perlu mencermati apakah lonjakan ini berkelanjutan atau hanya euforia jangka pendek.



