World Athletics Rombak Aturan Lari dan Lompat: Atlet Pilih Lintasan Sendiri, Jump-off Penentu Juara
Baca dalam 60 detik
- World Athletics memperkenalkan 'lane draft' untuk nomor 200 meter, di mana atlet memilih lintasan berdasarkan peringkat dunia.
- Format baru menjamin pemenang mutlak di lompat tinggi dan galah melalui adu lompat (jump-off) jika hasil seri.
- Inovasi ini bagian dari upaya menarik generasi muda dan meningkatkan daya tarik siaran, dengan grafis prediksi kemenangan.

World Athletics resmi meluncurkan format baru bernama Ultimate Championship yang akan digelar pertama kali di Budapest pada 11-13 September mendatang. Sejumlah perubahan radikal diperkenalkan, termasuk kebebasan bagi sprinter untuk memilih lintasan sendiri dan sistem adu lompat untuk menentukan pemenang di nomor lompat tinggi serta lompat galah.
Langkah ini merupakan bagian dari visi Presiden World Athletics, Sebastian Coe, untuk menyegarkan olahraga atletik agar lebih diminati generasi muda. Coe menilai format tradisional terlalu kaku dan kurang menghibur, sehingga perlu sentuhan yang lebih dinamis dan interaktif. Ultimate Championship dirancang sebagai ajang yang memadukan kompetisi kelas dunia dengan elemen hiburan khas acara televisi modern.
Salah satu inovasi paling mencolok adalah sistem "lane draft" untuk nomor 200 meter putra dan putri. Sehari sebelum perlombaan, para atlet akan memilih heat semifinal dan lintasan secara langsung di hadapan media dan penggemar, dengan urutan pemilihan berdasarkan peringkat dunia. Sistem ini diharapkan menambah ketegangan dan strategi, karena atlet dapat memilih lawan dan posisi start yang dianggap paling menguntungkan.
Tidak hanya itu, untuk nomor lompat tinggi dan lompat galah, World Athletics memastikan tidak akan ada hasil seri untuk posisi pertama. Jika terjadi deadlock, pemenang akan ditentukan melalui jump-off, sebuah adu lompat yang menegangkan. Sementara itu, untuk nomor lapangan lainnya, atlet hanya akan mendapat dua kesempatan sebelum jumlah peserta dikurangi dari delapan menjadi enam, lalu empat, sehingga fokus tetap pada para kandidat utama.
Aspek siaran juga mendapat perhatian besar. Penonton televisi akan disuguhkan grafis augmented reality yang menampilkan proyeksi posisi akhir dan probabilitas kemenangan secara real-time. Ini merupakan terobosan yang belum pernah ada sebelumnya dalam siaran olahraga atletik. Selain itu, pengenalan atlet di stadion dan elemen presentasi lainnya dikembangkan bersama Noah Lyles, juara Olimpiade 100 meter, sementara Mondo Duplantis, pemegang rekor dunia lompat galah, menciptakan anthem resmi ajang ini.
Bagi Indonesia, perubahan ini membuka peluang sekaligus tantangan. Atlet-atlet Indonesia yang berkompetisi di level internasional perlu beradaptasi dengan format baru yang lebih mengandalkan strategi dan mental. Sistem lane draft, misalnya, menuntut pemahaman mendalam tentang karakteristik lintasan dan lawan. Sementara itu, bagi penggemar di tanah air, inovasi ini bisa menjadi daya tarik tersendiri untuk mengikuti ajang atletik, yang selama ini mungkin kurang mendapat sorotan dibandingkan sepak bola atau bulu tangkis.
Langkah World Athletics ini juga sejalan dengan tren global olahraga yang semakin mengedepankan pengalaman penonton. Dengan adanya grafis interaktif dan elemen hiburan, diharapkan atletik mampu bersaing dengan olahraga lain dalam merebut perhatian generasi muda yang terbiasa dengan konten digital. Namun, pertanyaan yang muncul adalah apakah perubahan ini akan mengubah esensi olahraga itu sendiri atau justru semakin memperkuat posisinya di kancah internasional.



