Newcastle dan Hull Berebut Julian Hall, Bomber Muda MLS yang Sedang Naik Daun
Baca dalam 60 detik
- Newcastle United dan Hull City dikabarkan saling sikut untuk mendapatkan tanda tangan penyerang New York Red Bulls, Julian Hall, yang baru berusia 18 tahun.
- Hall tampil impresif di MLS musim ini dengan torehan 12 gol dan 4 assist dari 22 penampilan, menarik minat klub-klub Eropa seperti RB Leipzig dan Atletico Madrid.
- Kontrak Hall yang akan habis pada 2026 menjadi peluang bagi klub peminat, namun New York Red Bulls memiliki opsi perpanjangan satu tahun yang bisa memperkuat posisi tawar mereka.

Newcastle United dan Hull City dikabarkan memasuki persaingan untuk merekrut penyerang muda New York Red Bulls, Julian Hall. Pemain berusia 18 tahun itu tengah dalam performa terbaiknya di MLS, dengan catatan 12 gol dan 4 assist dari 22 pertandingan di semua kompetisi musim ini. Ketertarikan kedua klub Inggris tersebut muncul di tengah kebutuhan mendesak akan tambahan daya gedor di lini depan.
Bagi Newcastle, kepergian Anthony Gordon ke Barcelona dan Bruno Guimaraes ke Arsenal pada bursa transfer musim panas ini meninggalkan lubang besar di sektor serangan. Meski Hall masih hijau dan belum tentu langsung berdampak di Premier League, potensinya yang besar membuatnya menjadi target menarik. Sementara itu, Hull City yang baru promosi ke kasta tertinggi juga ingin memperkuat skuad demi bertahan di liga, dengan pelatih Sergej Jakirovic yang mencari amunisi baru.
Menurut jurnalis Ben Jacobs, persaingan tidak hanya melibatkan dua klub Inggris tersebut. RB Leipzig dikabarkan juga berminat, dan Atletico Madrid bahkan sudah melakukan pendekatan. Hal ini menunjukkan bahwa Hall bukan sekadar talenta lokal, melainkan prospek yang diincar banyak klub Eropa. Kontraknya yang akan berakhir pada akhir 2026 menjadi faktor kunci, meskipun New York Red Bulls memiliki opsi perpanjangan satu tahun yang bisa memperkuat posisi mereka dalam negosiasi.
Scout sepak bola Jacek Kulig pernah memuji kemampuan finishing Hall pada Mei lalu, menyebutnya sebagai "finisher instingtif dengan pergerakan luar biasa di dalam kotak penalti." Data statistiknya di MLS musim ini pun impresif: 9 gol dari 13 pertandingan, dengan konversi 39% dan xG 8.50. Angka-angka ini menunjukkan bahwa Hall bukan sekadar pemain muda berbakat, tetapi juga produktif dan efisien di depan gawang.
Bagi Newcastle, kebutuhan akan penyerang sangat mendesak. Musim lalu, Yoane Wissa yang menjadi andalan justru sering cedera dan hanya mencetak satu gol di Premier League, sementara Nick Woltemade jarang mendapat menit bermain. Kehadiran Hall, meski berisiko, bisa menjadi investasi jangka panjang yang menjanjikan. Di sisi lain, Hull City tidak memiliki banyak opsi di posisi penyerang tengah; Oli McBurnie dan Joe Gelhardt adalah pilihan utama, dengan Gelhardt yang hanya mencetak dua gol dari 35 penampilan Premier League. Hall bisa menjadi solusi segar bagi lini depan The Tigers.
Bagi pembaca di Indonesia, kabar ini menarik karena menunjukkan bagaimana klub-klub Eropa semakin berani merekrut pemain muda dari liga-liga non-utama seperti MLS. Ini juga menjadi pelajaran bagi pengembangan sepak bola Indonesia: talenta muda yang konsisten dan produktif di liga domestik bisa menembus pasar Eropa. Jika Hall berhasil menembus Premier League, ia akan menjadi contoh nyata bahwa usia muda bukan halangan untuk bersaing di level tertinggi.
Pertanyaannya, apakah Newcastle atau Hull berani mengambil risiko dengan pemain yang belum teruji di Eropa? Atau justru Hall akan memilih klub yang bisa memberikan jaminan menit bermain lebih banyak, seperti RB Leipzig yang dikenal gemar mengembangkan pemain muda? Keputusan ini akan menentukan arah kariernya dalam beberapa tahun ke depan.



