Laba Kuartal II S&P 500 Melonjak 52%, Tapi Ketergantungan pada AI Mulai Mengkhawatirkan
Baca dalam 60 detik
- Pertumbuhan laba S&P 500 kuartal kedua mencapai 52% secara tahunan, ditopang lonjakan keuntungan perusahaan AI.
- Keuntungan mark-to-market dari Alphabet dan Amazon menyumbang besar, namun analis memperingatkan risiko fluktuasi pasar.
- Investor mulai waspada terhadap valuasi tinggi dan pendanaan melingkar di sektor AI, yang bisa memicu koreksi ke depan.

Musim laporan keuangan kuartal kedua perusahaan-perusahaan di S&P 500 ditutup dengan kinerja yang impresif, didorong oleh lonjakan laba dari perusahaan-perusahaan yang terkait dengan kecerdasan buatan (AI). Data terbaru menunjukkan agregat laba kuartal kedua melonjak 52% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, dengan sektor teknologi mencatatkan kenaikan laba hingga 74%. Namun, di balik angka gemilang ini, para analis mulai mempertanyakan keberlanjutan pertumbuhan yang sebagian besar ditopang oleh keuntungan akuntansi dari investasi di perusahaan AI rintisan.
Lonjakan laba tersebut tidak terlepas dari kontribusi raksasa teknologi seperti Alphabet dan Amazon, yang mencatatkan keuntungan besar dari investasi mereka di perusahaan AI seperti Anthropic. Menurut Tajinder Dhillon, kepala riset laba di LSEG, jika keuntungan mark-to-market ini dikeluarkan, pertumbuhan laba S&P 500 kuartal kedua diperkirakan hanya 33%. Meski masih menjadi yang terkuat sejak 2021, angka ini menunjukkan bahwa sebagian besar pertumbuhan tersebut bersifat 'kertas' dan belum tentu berkelanjutan.
Savita Subramanian, ahli strategi ekuitas di BofA Securities, mengingatkan bahwa keuntungan mark-to-market bisa berbalik menjadi kerugian secepat kilat. "Kami tidak mengatakan keuntungan ini buruk, namun kami tetap waspada bahwa meningkatnya ketergantungan laba pada faktor-faktor yang tidak dapat dikendalikan mengurangi visibilitas," tulisnya dalam catatan klien. Pernyataan ini menggarisbawahi kekhawatiran bahwa kinerja keuangan perusahaan-perusahaan besar kini semakin dipengaruhi oleh fluktuasi pasar yang di luar kendali manajemen.
Goldman Sachs juga menyoroti bahwa saham-saham infrastruktur AI menyumbang sekitar sepertiga dari pertumbuhan laba per saham S&P 500 pada kuartal kedua. Optimisme terhadap AI memang telah mendorong Wall Street ke level tertinggi, namun investor kini semakin gelisah dengan valuasi yang tinggi dan praktik pendanaan melingkar, seperti yang terjadi antara Nvidia dan pelanggannya. Nvidia, perusahaan paling bernilai di dunia, baru saja mengumumkan jaminan hingga US$105 miliar untuk membantu OpenAI menyewa pusat data di Ohio. Langkah ini memicu kekhawatiran tentang biaya pembangunan infrastruktur AI yang semakin besar.
Michael O'Rourke, kepala strategi pasar di JonesTrading, menilai bahwa perusahaan-perusahaan hyperscaler cenderung meminjam uang dan menjual saham untuk mendanai ekspansi AI. "Kita mungkin sedang mencuri masa depan. Semakin tinggi kita melompat, semakin besar potensi kekecewaan di tahun-tahun berikutnya," ujarnya. Pernyataan ini mencerminkan kekhawatiran bahwa pertumbuhan laba saat ini mungkin tidak berkelanjutan dan bisa berujung pada koreksi pasar yang signifikan.
Meski demikian, pertumbuhan laba juga datang dari sektor lain. Tujuh dari sebelas sektor utama S&P 500 mencatatkan pertumbuhan laba dua digit, dengan sektor energi melonjak sekitar 143%. Sekitar 85% perusahaan berhasil melampaui ekspektasi analis, dan lebih dari 450 perusahaan telah melaporkan hasilnya. Optimisme juga terlihat untuk kuartal ketiga, dengan proyeksi pertumbuhan laba naik dari 27,6% menjadi 29,2% sejak awal Juli.
Bagi Indonesia, fenomena ini memiliki implikasi penting. Sebagai negara yang tengah mengembangkan ekosistem digital dan AI, gejolak di pasar saham global akibat gelembung AI bisa berdampak pada aliran modal asing ke pasar emerging market, termasuk Indonesia. Investor asing cenderung menarik dana dari pasar berisiko ketika terjadi koreksi di Amerika Serikat. Selain itu, ketergantungan pada pendanaan melingkar di sektor AI global bisa menjadi pelajaran bagi perusahaan rintisan Indonesia yang sering mengandalkan valuasi tinggi tanpa fundamental yang kuat.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah pertumbuhan laba yang ditopang oleh keuntungan akuntansi ini dapat bertahan. Jika suku bunga AS tetap tinggi dan pasar obligasi bergejolak, biaya pendanaan untuk proyek AI akan semakin mahal, yang bisa memicu koreksi tajam. Investor, baik di Amerika maupun Indonesia, perlu mencermati apakah fundamental perusahaan benar-benar sekuat yang terlihat di laporan keuangan, atau hanya sekadar efek dari gelembung AI yang sedang memanas.



