Starship SpaceX Cetak Rekor Orbit, tapi Mesin Gagal dan Misi Dipangkas
Baca dalam 60 detik
- Uji terbang ke-14 Starship berhasil mencapai orbit rendah Bumi untuk pertama kalinya, sekaligus menempatkan 26 satelit Starlink generasi V3.
- Kegagalan tiga mesin Raptor memaksa tim misi memangkas durasi penerbangan dari 10 jam menjadi sekitar tiga jam sebelum akhirnya mendarat di laut.
- SpaceX masih harus membuktikan kemampuan manuver orbital, pengisian bahan bakar di antariksa, dan pendaratan di Bulan sebelum misi Artemis III dan IV dapat dilaksanakan.

SpaceX menorehkan tonggak baru dalam program Starship. Wahana raksasa itu untuk pertama kalinya berhasil mencapai orbit rendah Bumi, sebuah pencapaian yang selama ini menjadi ambang batas krusial bagi ambisi perusahaan untuk mengangkut kargo dan manusia ke Bulan serta Mars. Namun, di balik keberhasilan tersebut, serangkaian gangguan mesin memaksa tim misi mengakhiri uji terbang ke-14 lebih cepat dari rencana.
Peluncuran yang berlangsung dari fasilitas Starbase di Boca Chica, Texas selatan itu juga menandai debut operasional Starship sebagai kendaraan komersial. Wahana tersebut melepaskan 26 satelit Starlink V3 ke orbit, mengubah status Starship dari sekadar roket eksperimental menjadi aset produktif yang dapat mendatangkan pendapatan. Menurut perkiraan yang beredar, satu peluncuran komersial Starship menelan biaya sekitar 90 juta dolar AS, sementara satelit-satelit yang baru saja dilepaskan diproyeksikan menghasilkan 2,6 miliar hingga 3,9 miliar dolar AS selama lima tahun masa operasinya.
Kendati demikian, keberhasilan itu tidak lepas dari catatan. Satu mesin Super Heavy mengalami kegagalan, meski booster masih mampu melepaskan Starship dan mendarat di Teluk Meksiko—walau dengan pendaratan yang lebih keras dari yang diharapkan para insinyur. Setelah itu, dua mesin Starship juga mati, membuat kru darat sempat berencana membatalkan penyisipan orbit. Beruntung, pengendali misi memutuskan untuk membakar mesin yang tersisa lebih lama dan berhasil mendorong wahana tersebut ke orbit pertamanya. Namun, karena kondisi mesin yang tidak sepenuhnya normal, SpaceX memilih memperpendek misi dari 10 jam menjadi sekitar tiga jam sebelum melakukan pendaratan darurat di laut.
Insiden ini menyisakan pekerjaan rumah besar bagi SpaceX. Perusahaan harus segera mengidentifikasi penyebab kegagalan mesin Raptor dan memastikan seluruh mesin dapat beroperasi andal di setiap peluncuran. Selain itu, Starship dituntut mampu mempertahankan orbit selama beberapa hari, bukan hanya beberapa jam, serta membuktikan kemampuan bermanuver di antariksa. Kedua kemampuan tersebut menjadi prasyarat mutlak sebelum misi Artemis III yang akan menguji pertemuan dan penyandaran antara Starship dan wahana Orion, serta antara Orion dan Blue Moon milik Blue Origin.
Lebih jauh, SpaceX perlu beralih dari metode pendaratan di laut ke penangkapan booster dan Starship menggunakan lengan mekanik "sumpit" di landasan peluncuran. Langkah ini krusial untuk mewujudkan penggunaan ulang secara penuh. Tak kalah penting, perusahaan harus mendemonstrasikan pengisian bahan bakar di orbit rendah Bumi—sebuah operasi rumit yang melibatkan peluncuran beberapa tanker Starship untuk bertemu dan menyandar dengan wahana utama yang akan menuju ruang angkasa dalam.
Untuk mewujudkan semua itu, SpaceX dituntut meningkatkan frekuensi peluncuran. Uji terbang ke-14 berlangsung sekitar dua bulan setelah uji ke-13. Jeda antar peluncuran harus dipersingkat menjadi hitungan minggu jika jadwal Artemis III dan IV ingin terpenuhi. Sebelum Artemis IV—misi pendaratan berawak pertama di Bulan sejak Apollo 17 pada 1972—Starship juga harus membuktikan kemampuannya mendarat di permukaan Bulan dan lepas landas kembali dari sana.
"Begitu Anda mencapai orbit Bumi, Anda sudah setengah jalan ke mana pun di tata surya," ujar penulis fiksi ilmiah Robert Heinlein, yang dikutip untuk menggambarkan betapa pentingnya pencapaian orbit rendah Bumi bagi eksplorasi antariksa.
Meski masih menyisakan banyak pekerjaan, langkah yang dicapai Starship kali ini tetap patut dicatat. Di tengah situasi dunia yang dilanda berbagai konflik dan ketegangan politik, aktivitas di Starbase Boca Chica menjadi pengingat bahwa umat manusia masih memiliki kapasitas untuk menorehkan kemajuan besar. Ketika Apollo 17 meninggalkan Bulan, astronaut Gene Cernan berpesan bahwa suatu hari manusia akan kembali dengan damai dan harapan bagi seluruh umat. Cernan wafat sebelum janji itu terwujud, dan kini tongkat estafet berada di tangan generasi baru—termasuk pendiri SpaceX, Elon Musk, yang bahkan belum berusia dua tahun saat manusia terakhir kali berjalan di Bulan.
Pertanyaannya kini: mampukah SpaceX mempercepat perbaikan teknis dan meningkatkan irama peluncuran sebelum tenggat Artemis yang semakin dekat? Jika berhasil, sejarah antariksa akan kembali ditulis oleh orang dan peristiwa yang tak terduga.



