Mark Wood Sesali Performa di Ashes: 'Kami Seharusnya Menang di Perth'
Baca dalam 60 detik
- Mark Wood mengaku malu dengan penampilannya di Ashes 2021-22, terutama kekalahan telak di Tes pertama di Perth.
- Cedera lutut yang dideritanya sebelum tur membuatnya tidak siap tampil, dan ia menilai keputusan untuk bermain adalah kesalahan.
- Wood juga menyoroti tekanan media dan kontroversi di luar lapangan yang memengaruhi performa tim, meski ia menegaskan itu bukan alasan.

Bola cepat asal Durham, Mark Wood, secara terbuka mengaku menyesali penampilannya pada rangkaian Ashes 2021-22 di Australia. Dalam wawancara dengan Test Match Special, pemain berusia 36 tahun itu menyebut kekalahan di Tes pertama di Perth sebagai peluang emas yang terbuang sia-sia, dan ia merasa bertanggung jawab secara pribadi atas hasil buruk timnya.
Wood, yang saat itu baru pulih dari cedera lutut, tampil dalam pertandingan pembuka di Perth. Inggris sempat unggul 105 run dengan sembilan wicket di tangan pada sore hari kedua, namun kemudian mengalami kolaps dramatis dengan kehilangan sembilan wicket hanya dalam 99 run. Australia mengejar target 205 run dengan relatif mudah berkat penampilan gemilang Travis Head yang mencetak 123 run, memenangkan pertandingan dalam 28.2 over.
“Saya melihat ke belakang dengan rasa malu,” ujar Wood. “Kami seharusnya memenangkan pertandingan pertama itu. Seluruh tur akan berbeda jika kami menang di Perth.” Wood menggambarkan bagaimana ia menyadari pertandingan sudah berakhir saat ia melihat Head memukul bola-bola pendek dengan agresif. “Saya berhenti sejenak dan berkata kepada Gus Atkinson, 'Apa yang sedang kita lakukan? Ini jalan terakhir. Jika tidak mengubahnya sekarang, kita selesai.'”
Wood juga mengakui bahwa secara fisik ia tidak siap tampil. “Saya melihat ke belakang dan menyadari saya tidak siap sama sekali,” katanya. “Lutut saya tidak dalam kondisi baik, dan hamstring saya bermasalah – sesuatu yang belum pernah saya alami sepanjang karier. Saya pikir hamstring itu berusaha melindungi lutut.” Ia menambahkan bahwa ia mencoba meyakinkan diri sendiri di net, tetapi di lubuk hati ia tahu kondisinya tidak prima.
Selain masalah fisik, Wood menyoroti tekanan luar biasa yang dialami tim Inggris selama tur. Mereka menjadi sorotan media lokal sejak tiba di Perth, bahkan diikuti hingga ke lapangan golf dan akuarium. Insiden lain termasuk foto Wood dan dua pemain lain mengendarai e-scooter tanpa helm di Brisbane, serta keterlibatan anggota keamanan tim dalam pertengkaran dengan juru kamera TV. Wood menggambarkan suasana seperti “pressure cooker” yang memengaruhi keharmonisan tim. “Banyak dari kami memberikan wawancara dengan pernyataan kontroversial yang tidak membantu,” katanya. “Tetapi ini bukan alasan. Masalah utamanya adalah kami tidak bermain baik.”
Kontroversi lain adalah liburan tengah tur di Noosa, di mana beberapa pemain terlihat minum alkohol di tempat umum. Wood, yang tidak minum alkohol, menolak mengomentari pilihan rekan-rekannya, tetapi menegaskan bahwa ia tidak akan melakukan hal serupa karena memikirkan persepsi publik. Ia juga membahas kebiasaan tim bermain golf di bawah kepemimpinan Ben Stokes dan Brendon McCullum. Menurut Wood, golf bukanlah masalah besar, tetapi persepsi publik yang membuatnya terlihat buruk. “Mereka tidak hanya bermain golf, mereka juga membahas kriket dan melepas penat dari tekanan tur,” jelasnya.
Bagi penggemar kriket di Indonesia, kisah Wood menjadi pelajaran tentang pentingnya manajemen cedera dan kesiapan mental dalam olahraga profesional. Meski kriket belum sepopuler sepak bola di Tanah Air, momen seperti ini menunjukkan bahwa tekanan media dan ekspektasi tinggi dapat memengaruhi performa atlet, sebuah fenomena yang juga relevan bagi atlet Indonesia yang berlaga di kancah internasional. Bagaimana para pemain dan pelatih di Indonesia mengelola tekanan serupa? Mungkin mereka bisa belajar dari pengalaman Wood bahwa pengakuan jujur atas kelemahan adalah langkah awal menuju perbaikan.
Ke depan, Wood berharap bisa kembali ke lapangan dan membuktikan dirinya masih mampu tampil di level tertinggi. Namun, ia sadar bahwa kepercayaan publik dan seleksi tim tidak mudah didapat kembali. “Saya telah membuat banyak keputusan buruk dalam karier saya,” akunya. “Tetapi saya akan terus berusaha.” Pertanyaannya, mampukah ia bangkit dari keterpurukan ini dan kembali menjadi andalan Inggris? Atau justru pengalaman pahit ini menjadi penutup karier internasionalnya?



