Emerson Fittipaldi Ungkap Beban Berat Gantikan Jochen Rindt di Lotus: 'Selamat Datang di Dunia Tekanan'
Baca dalam 60 detik
- Emerson Fittipaldi menceritakan momen terakhir bersama Jochen Rindt sebelum kecelakaan fatal di Monza 1970 yang mengubah kariernya.
- Legenda Brasil itu mengaku mendapat tekanan luar biasa saat dipercaya Colin Chapman memimpin Lotus di usia 23 tahun.
- Kisah di balik layar ini mengungkap sisi manusiawi Chapman dan kerasnya era F1 yang menelan banyak nyawa pembalap.

Legenda Formula 1 asal Brasil, Emerson Fittipaldi, membuka kenangan kelam tentang kehilangan rekan setimnya, Jochen Rindt, yang tewas dalam sesi kualifikasi Grand Prix Italia 1970 di Monza. Dalam wawancara eksklusif dengan Autosport, pria yang kini berusia 79 tahun itu mengungkapkan bahwa dirinya dan Rindt sempat sarapan bersama beberapa jam sebelum kecelakaan maut tersebut terjadi.
Fittipaldi, yang saat itu baru berusia 23 tahun, mengingat bagaimana Rindt menawarinya kursi di ajang Formula 2. "Dia mengundang saya untuk menggantikannya di F2. Saya menerima, kami berjabat tangan, dan beberapa jam kemudian dia meninggal," ujarnya mengenang. Kejadian itu menjadi titik balik dramatis dalam karier Fittipaldi, yang sebelumnya hanya pembalap muda berbakat dari Brasil.
Kepergian Rindt tidak hanya mengguncang dunia balap, tetapi juga mengubah struktur tim Lotus. John Miles, pembalap reguler lainnya, memutuskan hengkang setelah tragedi tersebut. Kondisi ini memaksa bos tim, Colin Chapman, menunjuk Fittipaldi sebagai pembalap utama. Keputusan itu diambil di tengah musim yang penuh ketidakpastian dan tekanan psikologis yang tinggi.
Dalam percakapan tersebut, Fittipaldi mengaku sempat ragu menerima tawaran Chapman. "Saya bilang, 'Colin, saya tidak punya pengalaman'. Tapi dia meyakinkan bahwa tim akan mendukung saya 100 persen," kenangnya. Meski demikian, bayang-bayang Rindt yang merupakan pembalap fantastis terus menghantuinya. "Saya merasa tanggung jawab yang sangat besar, menggantikan Jochen di usia yang sangat muda. Tekanan maksimal. Selamat datang di dunia tekanan," tambahnya.
Tekanan itu ternyata mampu dikelola dengan baik oleh Fittipaldi. Ia justru tampil gemilang dengan memenangi balapan berikutnya di Watkins Glen, sekaligus memastikan Lotus meraih gelar konstruktor keempat. Prestasi itu menjadi fondasi kesuksesan berikutnya, termasuk dominasi di musim 1972.
"Orang tidak menyadari betapa besar penderitaan Colin setiap kali kehilangan pembalapnya. Suatu hari, akhir 1972, dia menatap mata saya dan berkata, 'Emerson, saya tidak ingin terlalu dekat denganmu, saya takut suatu hari kehilanganmu'."
Fittipaldi juga menyoroti sisi manusiawi Chapman yang sering dianggap dingin oleh publik. Menurutnya, Chapman adalah sosok yang sangat peduli dan emosional, terutama setelah kehilangan Jim Clark pada 1968 dan Rindt dua tahun kemudian. "Dia jenius, tapi juga sangat manusiawi. Saat saya menang di Brands Hatch 1972, dia memeluk saya dengan penuh kegembiraan," ujarnya.
Lebih dari setengah abad kemudian, Fittipaldi merasa sangat beruntung masih hidup. Ia mengenang rekan-rekannya yang telah tiada dan bagaimana Jacky Ickx pernah memeluknya di Spa, mengatakan, "Kita adalah penyintas." Fittipaldi menegaskan bahwa era tersebut sangat sulit karena banyak teman dan kolega yang meninggal di lintasan.
Kisah Fittipaldi ini menjadi cermin kerasnya dunia balap pada 1970-an, di mana keselamatan pembalap belum menjadi prioritas utama. Kini, dengan standar keselamatan yang jauh lebih tinggi, pertanyaannya adalah apakah tekanan mental yang dialami pembalap muda seperti Fittipaldi masih relevan? Ataukah tekanan kini telah bergeser ke ekspektasi komersial dan media yang tak kalah berat?



