Hadjar Sebut Balapan F1 Bahrain 'Lelucon' Usai Gagal Finis di Podium
Baca dalam 60 detik
- Isack Hadjar menyebut balapan F1 di Bahrain sebagai 'lelucon' setelah mobil Red Bull-nya kehilangan daya baterai dan performa.
- Meski finis kelima, Hadjar kecewa karena kehilangan podium di empat lap terakhir akibat masalah teknis yang tidak terduga.
- Red Bull meraih kemenangan pertama musim ini lewat Verstappen, tetapi Hadjar menilai hari itu sebagai bencana pribadi.

Pembalap Red Bull, Isack Hadjar, mengungkapkan kekecewaan mendalam setelah balapan Formula 1 di Sirkuit Internasional Bahrain, Minggu (6/4/2025), yang ia sebut sebagai "lelucon" akibat masalah teknis pada mobil RB22. Hadjar, yang memulai balapan dari posisi kedelapan karena penalti mesin, harus puas finis di urutan kelima setelah kehilangan podium di empat lap terakhir.
Balapan yang berlangsung dalam kondisi lintasan basah itu langsung diwarnai insiden. Pada lap formasi, Hadjar sempat keluar lintasan dan melewati kerikil. Namun, ia mampu memanfaatkan ban intermediate dengan baik begitu balapan dimulai, menyalip Liam Lawson untuk merebut posisi keempat pada lap keenam. Posisi tersebut ia pertahankan hingga George Russell mengalami retired pada lap 50, yang membuat Hadjar naik ke posisi ketiga.
Sayangnya, setelah periode safety car terakhir, Hadjar tidak mampu mempertahankan posisinya. Dua pembalap Ferrari, Charles Leclerc dan Lewis Hamilton, berhasil menyalipnya. Hadjar akhirnya finis di posisi kelima, terpaut hampir empat detik dari Hamilton. Ia mengeluhkan mobilnya yang kehilangan tenaga baterai pada dua lap pertama setelah restart, sehingga ia tidak bisa bertahan di trek lurus.
"Tidak ada kecepatan. Ada yang salah, karena saya tidak mungkin lebih lambat satu detik per lap. Mobilnya sangat buruk untuk dikendarai. Di dua lap terakhir, entah bagaimana baterainya habis. Jadi di trek lurus, saya tidak bisa bertahan dari Ferrari, dan kami kehilangan podium karena sesuatu yang bodoh," ujar Hadjar.
Hadjar juga mengungkapkan bahwa masalah utama bukan pada unit daya, melainkan pada sasis. Ia merasa kehilangan grip sejak awal restart dan mobil terasa tidak stabil. "Bahkan di belakang safety car, saya merasa tidak ada cengkeraman. Rasanya seperti selalu menggunakan ban yang sama. Ini lelucon," tambahnya.
Meskipun tim meraih hasil positif secara keseluruhan, Hadjar tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya. "Saya senang untuk tim, tapi ini bencana bagi saya," tegasnya. Ia bertekad untuk memperbaiki masalah tersebut dan tampil lebih baik di Grand Prix Singapura mendatang.
Insiden yang menimpa Hadjar menyoroti tantangan teknis yang masih dihadapi Red Bull pada musim ini. Kehilangan daya baterai secara tiba-tiba bukan pertama kalinya terjadi, dan hal ini dapat berdampak pada performa pembalap di balapan-balapan selanjutnya. Dengan kompetisi yang semakin ketat, perbaikan pada sistem energi dan sasis menjadi prioritas utama jika Red Bull ingin bersaing memperebutkan gelar.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah Red Bull dapat mengatasi masalah keandalan ini sebelum balapan di Singapura, dan apakah Hadjar mampu bangkit dari kekecewaan untuk membantu tim mengamankan posisi di klasemen konstruktor. Jika tidak, peluang mereka untuk menantang McLaren dan tim-tim lain bisa semakin tipis.



