Verstappen Perpanjang Kontrak di Red Bull hingga 2030: Lebih Dekat Pensiun daripada Pindah Tim
Baca dalam 60 detik
- Max Verstappen menandatangani perpanjangan kontrak dengan Red Bull hingga akhir 2030, mengakhiri spekulasi masa depannya di F1.
- Keputusan ini diambil setelah ia nyaris memilih pensiun karena frustrasi dengan regulasi mesin hybrid baru yang dianggap mengurangi esensi balapan.
- Kesepakatan ini memberi Verstappen kendali atas masa depannya dengan opsi keluar jika performa tim tidak sesuai harapan, serta membuka peluang meninjau kembali aturan mesin V8 pada 2031.

Max Verstappen akhirnya memutuskan untuk bertahan di Red Bull hingga akhir 2030, menepis segala spekulasi mengenai masa depannya di Formula 1. Dalam konferensi pers yang mengumumkan perpanjangan kontrak tersebut, pembalap asal Belanda itu melontarkan pernyataan menohok: "Saya lebih dekat untuk pensiun daripada pindah tim." Ucapan itu sekaligus menggambarkan betapa besar gejolak batin yang dialaminya sepanjang musim ini.
Keputusan Verstappen untuk bertahan bukanlah tanpa pertimbangan rumit. Musim ini, ia dihadapkan pada dua pertanyaan eksistensial: apakah ia masih ingin membalap di era regulasi mesin hybrid yang baru, dan apakah Red Bull masih menjadi tempat yang tepat baginya. Kekecewaannya memuncak setelah Grand Prix Jepang, di mana ia mengeluhkan soal "energy starvation"—kondisi mesin kehabisan daya listrik di tengah lintasan—yang membuat mobil kehilangan tenaga hingga 470 bhp. "Apakah ini sepadan?" tanyanya saat itu, "atau lebih baik saya menikmati waktu di rumah bersama keluarga?"
Verstappen dikenal sebagai pembalap purist yang ingin selalu mengemudi di batas limit. Regulasi baru yang mengharuskan pengemudi terus-menerus memulihkan energi untuk baterai dianggapnya merusak esensi balapan. Titik balik terjadi ketika ia ikut serta dalam Nurburgring 24 Hours pada bulan Mei, membalap dengan Mercedes AMG GT. Pengalaman itu membuka matanya bahwa balapan sejati masih ada di luar F1. Namun, setelah melalui diskusi panjang dengan FIA dan Formula 1, ia mulai menerima keadaan. "Saya masih mencintai balapan," ujarnya, "ini tetap mobil Formula 1."
Di sisi lain, keputusan untuk bertahan di Red Bull juga dipengaruhi oleh hubungan yang transparan dengan principal tim, Laurent Mekies, serta kebebasan yang diberikan tim untuk mengejar aktivitas di luar F1. Verstappen mengaku nyaman dengan situasi tersebut. "Red Bull mengizinkan saya melakukan hal-hal di luar Formula 1, itu nilai plus besar," katanya. Meski musim ini Red Bull kesulitan bersaing—Verstappen belum meraih kemenangan—ia tetap percaya pada proyek jangka panjang tim.
Kontrak baru ini, menurut sumber internal, mencakup kenaikan gaji kecil dari yang sudah menjadi tertinggi di F1, serta klausul yang memungkinkan Verstappen hengkang jika performa tim tidak sesuai harapan. Mekies menyebut kesepakatan ini sebagai "bukti kepercayaan Max kepada tim". Verstappen sendiri menegaskan bahwa targetnya tetap sama: mengakhiri karier di Red Bull, seperti yang pernah ia sampaikan kepada mendiang Dietrich Mateschitz.
Bagi penggemar F1 di Indonesia, keputusan ini memastikan bahwa salah satu pembalap terbaik era ini akan tetap menjadi pusat perhatian dalam beberapa musim ke depan. Dengan regulasi mesin baru yang akan disempurnakan, persaingan di papan atas diprediksi semakin ketat. Pertanyaannya, akankah Verstappen mampu kembali merebut gelar juara dunia kelimanya bersama Red Bull, atau justru tantangan dari pembalap muda seperti Kimi Antonelli akan semakin menekan? Musim-musim mendatang akan menjadi jawabannya.



