Novak Djokovic: 'Saya yang Paling Meragukan Diri Sendiri'
Baca dalam 60 detik
- Petenis Serbia itu mengaku dalam sebuah film dokumenter bahwa ia terus merasa tidak puas dan kerap 'memenjarakan' dirinya sendiri demi kesempurnaan.
- Di usia 39 tahun, Djokovic masih menargetkan Olimpiade Los Angeles 2028 dan menolak bicara soal pensiun selama masih bisa bersaing di level tertinggi.
- Masa kecilnya di tengah konflik Balkan membentuk mental juaranya, menjadikan tenis sebagai ruang aman dan identitas pribadinya.

Novak Djokovic, petenis dengan koleksi 24 gelar Grand Slam, mengakui bahwa keraguan terbesar justru datang dari dalam dirinya sendiri. Dalam film dokumenter terbaru produksi Amazon, pria 39 tahun itu menyebut dirinya sebagai 'peragu nomor satu' yang terus berusaha membuktikan bahwa dirinya salah. Pengakuan ini membuka sisi rentan dari seorang atlet yang selama dua dekade mendominasi tenis dunia.
Meski telah menyamai rekor Margaret Court dan memegang rekor gelar mayor untuk kategori putra, Djokovic mengaku tidak pernah merasa cukup. "Saya tidak bisa bilang saya puas dengan apa yang saya miliki dan siapa diri saya. Saya selalu ingin menjadi lebih baik, lebih cepat, lebih kuat. Sering kali saya merasa memenjarakan diri sendiri," ujarnya dalam dokumenter tersebut. Istri Djokovic, Jelena, menambahkan bahwa suaminya membawa beban 'tidak pernah cukup' dan tenis adalah tempat di mana ia merasa berharga.
Perjalanan Djokovic tidak bisa dilepaskan dari masa kecilnya di Belgrade yang dilanda pengeboman NATO pada 1999. Ia mengingat bagaimana ia harus berlari mencari perlindungan dan menyaksikan bom jatuh di dekat rumah sakit. Pengalaman traumatis itu, menurutnya, menjadi fondasi mentalnya. "Tidak ada penyesalan, justru rasa syukur. Semua terjadi karena suatu alasan," katanya. Ayahnya bahkan sempat meminjam uang dari 'orang-orang yang salah' untuk membiayai karier tenisnya, menjadikannya outsider di olahraga yang elitis.
Di lapangan, Djokovic dikenal lebih emosional dibandingkan rival-rivalnya, Roger Federer dan Rafael Nadal. Ia mengaku harus menekan banyak emosi yang kemudian meledak di lapangan. "Di lapangan saya merasa aman dan nyaman. Itu adalah tanah yang familiar," ujarnya. Tenis, baginya, bukan sekadar permainan, melainkan medan penentu jati diri.
Pertanyaan tentang pensiun selalu menghantui Djokovic setiap kali ia kalah di Grand Slam. Namun, ia menegaskan tidak memiliki 'tanggal kedaluwarsa' untuk kariernya. "Mengapa saya harus bicara soal pensiun ketika saya masih bisa membuktikan bahwa saya bisa menang? Selama saya punya dorongan, gairah, dan merasa bisa menjadi salah satu yang terbaik, saya akan terus bermain," tegasnya. Ia bahkan bercita-cita mengakhiri karier dengan membawa bendera Serbia di Olimpiade Los Angeles.
Bagi penggemar tenis di Indonesia, kisah Djokovic menawarkan pelajaran tentang ketangguhan mental dan dedikasi tanpa batas. Di tengah maraknya turnamen internasional yang disiarkan di tanah air, sosok Djokovic menjadi inspirasi bahwa kesuksesan sejati lahir dari perjuangan melawan diri sendiri, bukan hanya mengalahkan lawan.
Dengan rival-rival lamanya telah pensiun, pertanyaannya kini: mampukah Djokovic mempertahankan motivasi dan performa hingga 2028? Atau akankah tekanan batinnya akhirnya memaksa sang juara untuk berhenti?



