Iran Ubah Strategi Militer: Dari Bertahan ke Menyerang, Selat Hormuz Jadi Ujung Tombak
Baca dalam 60 detik
- Teheran mulai menggeser prioritas militernya dari respons balasan ke operasi ofensif, menandakan perubahan doktrin di tengah kebuntuan diplomasi dengan Washington.
- Kendali atas Selat Hormuz menjadi alat tekan utama Iran, dengan pengenaan biaya dan izin transit yang memicu ketegangan baru dan berisiko mengerek harga energi global.
- Para analis memperingatkan bahwa eskalasi ini bisa memicu jebakan deterensi timbal balik, membuat kawasan Teluk semakin tidak stabil meski kedua pihak belum tentu menginginkan perang besar.

Enam bulan setelah perang dengan Amerika Serikat meletus, militer Iran mulai meninggalkan posisi defensif dan beralih ke strategi ofensif. Langkah ini dinilai para pengamat sebagai upaya Teheran memanfaatkan momentum untuk memaksakan tuntutannya dan keluar dari kebuntuan negosiasi yang selama ini menemui jalan buntu.
Sejak serangan gabungan AS-Israel pada 28 Februari, Iran konsisten membingkai setiap serangannya terhadap Amerika, Israel, dan negara-negara Teluk sebagai bentuk pembalasan. Namun, dalam beberapa pekan terakhir, para pejabat tinggi Iran mulai berbicara terbuka tentang perlunya memprioritaskan operasi penyerangan, sambil tetap mempertahankan kendali penuh atas Selat Hormuzโjalur energi paling vital di dunia yang selama ini menjadi sumber pengaruh utama Teheran.
Pergeseran ini pertama kali terlihat dari perombakan jajaran komandan militer tertinggi yang dilakukan Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, awal bulan ini. Dalam arahan yang disampaikan, ia menekankan pentingnya "memperkuat deterensi maksimum dan menyiapkan operasi ofensif skala besar terhadap musuh". Pekan lalu, seorang wakil komandan Garda Revolusi juga mengindikasikan bahwa doktrin militer Iran sedang direvisi untuk memberi tempat utama bagi operasi penyerangan.
Menurut Sina Toossi, analis dari Center for International Policy, perubahan ini tidak serta-merta berarti Iran mengadopsi doktrin perang preventif. "Teheran tampaknya menyimpulkan bahwa jika konfrontasi tak terhindarkan, mereka harus meningkatkan eskalasi lebih awal dan lebih keras, daripada menunggu AS atau Israel menentukan aturan main," ujarnya. Pandangan senada disampaikan Ahmad Zeidabadi, pengamat hubungan internasional di Teheran, yang menilai Iran meyakini Washington telah mengesampingkan opsi perang total dan lebih memilih mempertahankan status quo, termasuk blokade laut dan tekanan ekonomi.
Kebuntuan diplomasi semakin nyata setelah gencatan senjata 17 Juni runtuh dan AS kembali menjatuhkan sanksi minyak serta memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran. "Iran percaya diplomasi akan gagal dalam iklim saat ini dan Amerika tidak akan menerima syarat-syarat mereka," kata Zeidabadi. "Akibatnya, mereka mungkin merasa terpaksa mengambil tindakan ofensif untuk memaksa AS menerima kondisi Iran dan memulai babak negosiasi baru."
Bagi Indonesia, eskalasi di Selat Hormuz memiliki dampak langsung. Sebagai negara pengimpor minyak, setiap gangguan pada jalur energi global akan berimbas pada harga BBM di dalam negeri dan stabilitas ekonomi. Pemerintah Indonesia perlu mencermati perkembangan ini, terutama dalam menjaga ketahanan energi nasional dan mengantisipasi potensi lonjakan harga komoditas.
Di tengah ketegangan, Teheran justru mengklaim kemenangan. Mohammad Bagher Ghalibaf, negosiator utama Iran, dalam pidatonya pekan lalu menyatakan, "Saya dapat menegaskan dengan yakin bahwa kami telah memenangkan perang ini, baik secara militer maupun politik." Klaim ini merujuk pada nota kesepahaman 17 Juni yang menurut Iran adalah bukti keberhasilan, meski perjanjian tersebut jauh dari tuntutan awal Presiden AS Donald Trump yang menginginkan "penyerahan tanpa syarat".
Serangan Iran terhadap pangkalan udara AS dan pusat komando di Yordania akhir Juli lalu disebut media Iran sebagai contoh pendekatan "preemptif" yang baru. Namun, Hossein Kanani-Moghadam, mantan jenderal Garda Revolusi yang kini menjadi pengamat, menilai operasi ofensif tidak selalu berarti serangan militer konvensional. "Operasi semacam itu bisa mencakup kombinasi perang siber, perang psikologis, operasi intelijen, dan perang ekonomi," jelasnya.
Meski demikian, risiko dari strategi baru ini sangat besar. Zeidabadi memperingatkan, "Jika ancaman ini serius, hasil dari skenario ini akan menjadi bencana bagi Iran dan kawasan." Toossi menambahkan bahwa strategi tersebut berarti "krisis di masa depan bisa meningkat jauh lebih cepat". Bahaya yang lebih luas, menurutnya, adalah "jebakan deterensi timbal balik", di mana masing-masing pihak menanggapi upaya deterensi lawan dengan eskalasi lebih lanjut, menciptakan lingkungan strategis yang semakin tidak stabilโmeski sebenarnya tidak ada pihak yang menginginkan perang besar.
Pertanyaannya kini, apakah Iran benar-benar siap mengambil risiko perang terbuka, atau ini hanya gertakan untuk memperkuat posisi tawar? Yang jelas, kebuntuan diplomasi dan meningkatnya retorika ofensif membuat kawasan Teluk berada di ujung tanduk, dengan konsekuensi yang tak hanya dirasakan Iran dan AS, tetapi juga seluruh dunia, termasuk Indonesia.



