PSG Kian Perkasa di Ligue 1: Enam Gelar Beruntun di Depan Mata, Siapa Berani Menantang?
Baca dalam 60 detik
- Paris Saint-Germain memulai musim dengan skuad bertabur bintang dan ambisi mempertahankan mahkota Ligue 1 untuk keenam kalinya.
- Kekalahan di Trophée des Champions membuka celah bagi para pesaing, namun kedalaman skuad dan dukungan finansial membuat PSG tetap favorit.
- Ligue 1 musim ini akan menjadi panggung pembuktian bagi pelatih anyar dan talenta muda, dengan persaingan yang diprediksi lebih ketat.

Paris Saint-Germain (PSG) kembali menjadi kandidat terkuat juara Ligue 1 musim 2025/2026. Dengan ambisi meraih gelar keenam secara beruntun dan yang ke-15 secara keseluruhan, raksasa Prancis itu telah mempersiapkan diri dengan belanja pemain besar-besaran. Namun, kekalahan mengejutkan di ajang Trophée des Champions pekan lalu menjadi sinyal bahwa dominasi mereka tidak lagi mutlak.
Kehadiran Ferran Torres, pahlawan final Piala Dunia 2022, menjadi suntikan tenaga baru di lini serang. Pelatih Luis Enrique tak ragu memujinya, "Ferran pemain level internasional, dia cocok dengan apa yang kami cari. Bisa bermain di mana pun di lini depan, dengan mentalitas hebat." Selain Torres, PSG juga mendatangkan Maghnes Akliouche dan Lucas Digne, dua pemain yang masuk skuad Prancis di Piala Dunia, serta pemain muda Belgia Mika Godts yang direkrut dari Ajax Amsterdam.
Kekuatan finansial yang ditopang investor asal Qatar membuat PSG selalu mampu menarik talenta terbaik. Namun, kekalahan 0-1 dari Racing Lens di Trophée des Champions membuka peluang bagi tim lain untuk bermimpi. Lens, yang musim lalu finis kedua dengan selisih enam poin, kini dilatih Dino Toppmöller setelah Pierre Sage hengkang ke Crystal Palace. Kemenangan di ajang super cup itu menjadi modal berharga bagi Lens untuk percaya diri menantang PSG.
Lille, yang finis ketiga musim lalu, kini dipercayakan kepada pelatih muda Davide Ancelotti, putra Carlo Ancelotti. Sementara itu, Monaco yang tampil mengecewakan di posisi ketujuh, menunjuk mantan bek Brasil Filipe Luis sebagai nahkoda baru. Mereka juga melepas Paul Pogba yang kerap cedera dan minim kontribusi. Olympique de Marseille, yang dua kali menjadi runner-up dalam lima musim terakhir, tengah dalam masa transisi di bawah Bruno Genesio. Klub yang terakhir kali juara pada 2010 itu diprediksi butuh waktu lebih dari satu musim untuk kembali bersaing di papan atas.
Ligue 1 musim ini juga menyajikan cerita menarik dari tim promosi. Troyes dan Le Mans menggantikan Nantes dan Metz yang terdegradasi. Sementara Nice mempertahankan statusnya setelah menang atas Saint-Étienne dalam play-off promosi-degradasi. Pertandingan pembuka akan mempertemukan Marseille melawan Racing Strasbourg di Stade Vélodrome, Jumat malam.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, persaingan di Ligue 1 selalu menarik untuk diikuti. Banyak pemain yang tampil di liga ini kemudian bersinar di pentas internasional, termasuk beberapa yang memperkuat timnas negara-negara Asia. Selain itu, gaya bermain yang atraktif dan persaingan ketat di papan tengah membuat Ligue 1 layak menjadi tontonan alternatif di sela-sela Liga Inggris atau La Liga.
PSG sendiri akan memulai musim tanpa bermain di kandang sendiri karena kondisi rumput Parc des Princes yang kurang baik. Laga perdana mereka melawan Stade Rennais pada Minggu dipindahkan ke Roazhon Park, markas Rennes. Ini menjadi ujian awal bagi skuad asuhan Luis Enrique untuk menunjukkan kesiapan mereka di tengah situasi yang tidak ideal.
Dengan segala perubahan yang terjadi, pertanyaan besarnya adalah: akankah PSG tetap mendominasi seperti musim-musim sebelumnya, atau justru muncul kejutan dari tim-tim seperti Lens, Lille, atau Marseille? Jawabannya akan terjawab sepanjang musim yang diprediksi berlangsung sengit ini.



