Hanya Empat Pemain Afrika di WSL: Potensi Besar Terhambat Regulasi dan Daya Saing Finansial
Baca dalam 60 detik
- Liga Super Wanita Inggris (WSL) baru menampung empat pesepak bola asal Afrika, jauh tertinggal dibanding liga Amerika Serikat yang agresif merekrut bakat benua tersebut.
- Regulasi Governing Body Endorsement (GBE) yang ketat dan minimnya liputan media menjadi penghalang utama bagi klub WSL untuk mendatangkan pemain Afrika.
- Dengan empat negara Afrika lolos ke Piala Dunia Wanita 2026, tekanan bagi WSL untuk membuka diri terhadap talenta Afrika semakin besar.

Liga Super Wanita Inggris (WSL) yang selama ini dikenal sebagai salah satu kompetisi terbaik dunia ternyata hanya dihuni oleh empat pemain asal Afrika. Padahal, gelaran Piala Afrika Wanita (Wafcon) yang baru saja usai di Maroko membuktikan bahwa benua tersebut dipenuhi talenta kelas dunia. Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar: mengapa pintu WSL begitu sempit bagi pesepak bola Afrika?
Dari sekian banyak bintang yang tampil memukau di Wafcon, hanya Chiamaka Nnadozie (Brighton/Nigeria), Aisha Masaka (Brighton/Tanzania), Rofiat Imuran (London City Lionesses/Nigeria), dan Ines Belloumou (West Ham/Aljazair) yang tercatat memperkuat klub-klub WSL. Jumlah ini kontras dengan deretan pemain top Eropa, Amerika, dan Asia yang membanjiri liga tersebut. Alexia Putellas, peraih Ballon d'Or dua kali, baru saja bergabung dengan London City Lionesses, menyusul nama-nama seperti Sam Kerr, Alyssa Thompson, dan Yui Hasegawa.
Ketiadaan pemain Afrika di WSL bukan lantaran minimnya kualitas. Sebaliknya, liga Amerika Serikat, National Women's Soccer League (NWSL), justru menjadi tujuan utama para bintang Afrika dengan tawaran finansial yang menggiurkan. Racheal Kundananji dari Zambia menjadi pemain termahal saat pindah ke Bay FC dengan nilai transfer ยฃ685.000 pada 2024. Rekan senegaranya, Barbra Banda, yang membela Orlando Pride, dinobatkan sebagai Pemain Terbaik versi BBC pada tahun yang sama. Nama-nama seperti Temwa Chawinga (Kansas City Current) dan Monique Ngock (Washington Spirit) juga bersinar di Amerika.
Salah satu hambatan terbesar bagi klub WSL adalah regulasi Governing Body Endorsement (GBE) yang ketat. Pemain asing harus memenuhi poin minimal di lima kategori, termasuk jumlah caps tim nasional, penampilan di Liga Champions Wanita, dan peringkat klub asal. Aturan ini secara tidak langsung mempersulit pemain Afrika yang kerap berasal dari liga dengan peringkat rendah. Selain itu, klub WSL harus bersaing dengan gaji dan biaya transfer yang ditawarkan NWSL, sementara sumber daya pemantauan masih difokuskan ke Eropa.
Masalah lain yang tak kalah penting adalah minimnya liputan media terhadap sepak bola wanita di Afrika. Pada Wafcon edisi kali ini, sempat terjadi kebingungan ketika CAF menunjuk Channel 4 sebagai mitra siaran di Inggris, tetapi tidak ada satu pun pertandingan yang ditayangkan pada babak awal karena kesepakatan belum final. Turnamen ini bahkan sempat ditunda hanya 12 hari sebelum jadwal kick-off di Maroko. Kapten timnas Swiss, Lia Walti, yang baru bergabung dengan Brighton, menilai bahwa kualitas siaran yang buruk memengaruhi cara penonton menikmati pertandingan. "Kamu tidak melihat kecepatan, taktik, atau apa pun, dan kamu tidak menikmati menonton pertandingan," ujarnya.
Meski demikian, ada secercah harapan. Kiper Nigeria, Chiamaka Nnadozie, yang menjadi kiper Afrika pertama yang masuk nominasi Ballon d'Or Wanita, percaya bahwa waktunya akan tiba. "Kami punya banyak pemain bagus dan mereka hanya butuh kesempatan untuk menunjukkan kemampuan mereka," katanya. Ia mencontohkan Piala Dunia U-17 yang akan digelar di Maroko sebagai bukti bahwa Afrika serius mengembangkan sepak bola wanita. "Sepak bola wanita sedang naik daun dan Afrika tidak boleh tertinggal," tegasnya.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi pelajaran berharga. Meski sepak bola wanita di Tanah Air masih berkembang, regulasi yang terlalu ketat dan minimnya investasi bisa menghambat talenta lokal untuk bersaing di kancah global. Sebaliknya, pembinaan yang serius dan dukungan media yang memadai dapat membuka jalan bagi pemain-pemain berbakat untuk menembus liga-liga top Eropa, sebagaimana yang dicapai Malawi yang untuk pertama kalinya lolos ke Piala Dunia Wanita.
Ke depan, pertanyaan yang menggantung adalah apakah WSL akan melonggarkan aturan GBE atau justru semakin tertinggal dalam perburuan bakat Afrika. Dengan semakin banyaknya turnamen internasional yang digelar di Afrika dan meningkatnya kualitas kompetisi, tekanan bagi liga-liga Eropa untuk beradaptasi akan semakin besar. Jika tidak, bukan tidak mungkin para bintang Afrika akan memilih berlaga di Amerika Serikat atau bahkan liga-liga Asia yang mulai agresif merekrut pemain asing.



