Verstappen Akhiri Puasa Kemenangan, Mercedes Terancam Krisis Internal
Baca dalam 60 detik
- Max Verstappen mempersembahkan kemenangan perdana Red Bull di musim 2026 setelah tampil dominan di GP Malaysia, menyelamatkan tim dari tahun tanpa podium tertinggi.
- Kegagalan mesin yang menimpa George Russell di Sepang mempersempit peluangnya mengejar rekan setim, Andrea Kimi Antonelli, yang kini unggul 84 poin.
- Insiden software saat formation lap basah memaksa balapan dihentikan sementara, memicu pertanyaan serius tentang kesiapan regulasi teknis Formula 1 2026.

Max Verstappen mengakhiri paceklik kemenangan Red Bull Racing di Sirkuit Sepang, Malaysia, Minggu (5/10/2026), dengan penampilan yang nyaris tanpa cela. Pebalap asal Belanda itu memanfaatkan kekacauan awal balapan untuk menyalip George Russell dan Andrea Kimi Antonelli, lalu mengendalikan jalannya lomba hingga garis finis. Hasil ini memastikan Red Bull tidak mengakhiri musim 2026 tanpa kemenangan—sebuah skenario yang sempat membayangi setelah performa buruk di China dan Jepang.
Kemenangan tersebut terasa istimewa karena datang dari paket upgrade terakhir yang diperkenalkan tim. Sebelumnya, di Baku, Verstappen sempat menyindir bahwa timnya "gagal memanfaatkan peluang terbaik" untuk menang. Namun, di Sepang, ia justru tampil sebagai tolok ukur sejak sesi latihan bebas, kualifikasi, hingga balapan. "Ini bukan berarti semua masalah selesai," ujar Verstappen, dikutip dari Motorsport.com. "Tapi setidaknya kami tidak pulang dengan tangan kosong sepanjang tahun."
Bagi Mercedes, balapan di Malaysia meninggalkan tanda tanya besar. Paket aerodinamika baru yang ditunggu-tunggu, dengan lantai redesain sebagai andalan, tidak serta-merta memberikan keunggulan. Kondisi aspal Sepang yang kasar dan suhu panas ekstrem membuat karakter mobil W17 sulit diprediksi. "Kami masih percaya upgrade ini bekerja," kata Toto Wolff, principal Mercedes. "Kami hanya perlu memahami mengapa tidak di sini."
Kegagalan Russell di akhir balapan menjadi pukulan telak. Insiden itu mengingatkan pada musim 2016, ketika Lewis Hamilton mengalami nasib serupa di Sepang dan kehilangan momentum juara. Kini, Russell harus mengejar ketertinggalan 84 poin dari Antonelli dengan sisa balapan yang semakin sedikit. Sementara Antonelli, yang finis kedua, terus mengukuhkan posisinya sebagai pemimpin klasemen.
"Kami tidak boleh panik. Masih ada balapan, tapi kami harus memahami mengapa mobil ini tidak bekerja di kondisi seperti ini." — Toto Wolff, Principal Mercedes
Di kubu Aston Martin, hasil Alonso menjadi sinar harapan di tengah musim yang sulit. Tim asal Silverstone itu untuk pertama kalinya menempatkan kedua mobil di Q2, dan Alonso membuktikan pace-nya bukan sekadar keberuntungan. "Ini adalah akhir pekan paling kompetitif kami tahun ini," ujar Lance Stroll. Meski belum mengubah nasib tim secara keseluruhan, raihan poin di Sepang bisa menjadi fondasi untuk pengembangan mobil 2027.
Namun, sorotan tajam tertuju pada manajemen Formula 1. Insiden software saat formation lap basah—yang memaksa balapan dihentikan sementara—membuka kembali diskusi tentang kesiapan regulasi teknis 2026. Padahal, uji coba tertutup di Barcelona awal tahun seharusnya menjadi momen untuk mengidentifikasi masalah semacam itu. "Pertanyaan serius perlu diajukan: apa yang dilakukan saat tes itu?" tulis Motorsport.com dalam analisisnya. Alih-alih memberikan balapan basah ke kering yang menarik, penonton justru disuguhi kekacauan prosedural.
Dengan musim yang memasuki babak akhir, Verstappen dan Red Bull telah membuktikan bahwa mereka masih bisa kompetitif. Sementara Mercedes harus segera mencari jawaban atas inkonsistensi performa jika ingin menjaga peluang Antonelli. Pertanyaannya, akankah kejutan seperti di Sepang terulang di balapan-balapan berikutnya, atau justru menjadi titik balik yang menentukan arah juara?



