David Brooks: Dari Kanker ke Panggung Eropa, Siap Hadapi Ronaldo
Baca dalam 60 detik
- Gelandang Bournemouth itu akan menjalani debut Eropa sekaligus berhadapan dengan Cristiano Ronaldo di Nations League.
- Perjalanan Brooks kembali ke level tertinggi setelah sembuh dari limfoma Hodgkin menjadi inspirasi tersendiri.
- Bournemouth, yang baru pertama kali lolos ke Eropa, menghadapi musim penuh tantangan dengan pelatih baru.

David Brooks, gelandang Bournemouth, mengawali musim ini dengan dua target besar: menaklukkan panggung Eropa bersama klubnya dan berhadapan langsung dengan idola masa kecilnya, Cristiano Ronaldo, saat membela Wales di Nations League. Namun di balik ambisi profesional itu, ada momen personal yang tak kalah pentingโmenyaksikan langkah pertama putrinya, Lottie.
Perjalanan Brooks menuju titik ini bukanlah jalan yang mudah. Lima tahun lalu, ia didiagnosis menderita limfoma Hodgkin stadium dua. Kemoterapi yang dijalaninya membuat berat badannya turun drastis dan tubuhnya melemah hingga sulit bangun dari tempat tidur. Namun, pada Mei 2022, ia dinyatakan bebas kanker dan kembali merumput pada Maret 2023. "Rasanya seperti kehidupan yang berbeda," ujarnya, menggambarkan masa sulit yang kini hanya menjadi kenangan.
Kini, Brooks menatap musim yang penuh kejutan. Di level internasional, Wales akan menghadapi Portugal, Denmark, dan Norwegia di Nations League A. Laga melawan Portugal di Lisbon pada 24 September menjadi momen yang dinantikan Brooks, yang mengaku pernah mengoleksi jersey Ronaldo. "Bermain di panggung itu melawan salah satu pemain terbaik sepanjang masa adalah pencapaian besar bagi saya secara pribadi," katanya. Ia juga menegaskan bahwa Wales tidak sekadar menjadi pelengkap, melainkan ingin membuktikan diri mampu bersaing dengan tim-tim terbaik Eropa.
Di sisi klub, Bournemouth mencatat sejarah dengan lolos ke kompetisi Eropa untuk pertama kalinya setelah finis keenam di Premier League musim lalu. Namun, arsitek kesuksesan itu, Andoni Iraola, telah hengkang ke Liverpool. Posisinya digantikan oleh Marco Rose, yang menurut Brooks langsung menciptakan suasana positif di ruang ganti. "Kami sedikit kecewa saat Andoni pergi, tapi perubahan itu wajar. Pelatih baru sangat ramah dan ingin mengenal semua orang," ungkap Brooks. Ia optimistis dengan persiapan tim yang berjalan baik selama pramusim.
Bournemouth akan memulai musim Premier League dengan laga tandang melawan Manchester City. Meski belum pernah menang di Etihad, Brooks melihat ini sebagai peluang untuk menciptakan sejarah baru. "Ini musim yang penuh pengalaman pertama," katanya. Ia juga menyinggung rekan setimnya yang telah pindah, Antoine Semenyo, yang masih bertahan di grup WhatsApp mereka. "Kami belum mengeluarkannya. Setengah dari grup ini bahkan sudah tidak di Bournemouth lagi," candanya.
Bagi Indonesia, kisah Brooks menjadi pengingat bahwa ketangguhan mental dan fisik adalah kunci untuk bangkit dari keterpurukan. Di tengah gempuran berita negatif tentang kesehatan mental atlet, perjalanan Brooks menunjukkan bahwa dukungan keluarga dan tekad kuat mampu membawa seseorang kembali ke puncak. Ini juga relevan dengan perkembangan sepak bola Indonesia yang tengah berbenah, di mana mentalitas juara dan manajemen krisis menjadi perhatian serius.
Dengan undian fase liga Europa yang akan digelar pada 28 Agustus, Brooks dan Bournemouth menantikan lawan-lawan berat. Pertanyaannya, mampukah mereka memanfaatkan panggung Eropa untuk membuktikan diri sebagai kekuatan baru? Atau justru tekanan kompetisi ganda akan menjadi ujian terbesar bagi konsistensi mereka? Musim ini akan menjadi jawabannya.



