Belanja Rp8 Triliun Tak Cukup: De Zerbi Gagal Sembuhkan Mentalitas Kalah Tottenham
Baca dalam 60 detik
- Tottenham kalah telak 0-3 dari Brentford di laga perdana Premier League, meski telah menggelontorkan dana besar untuk rekrutan anyar.
- Pelatih Roberto De Zerbi mengakui masalah utama bukan pada kualitas pemain, melainkan mentalitas dan kondisi fisik yang belum siap.
- Kekalahan ini menegaskan bahwa perubahan skuad tanpa perubahan budaya klub hanya akan mengulang kegagalan musim-musim sebelumnya.

Laga perdana Premier League menjadi mimpi buruk bagi Tottenham Hotspur. Bertandang ke markas Brentford, The Lilywhites tak berdaya dan harus menyerah 0-3. Kekalahan ini sekaligus menjadi tamparan keras bagi Roberto De Zerbi, pelatih anyar yang telah diberi kepercayaan besar untuk membangun ulang skuad dengan belanja pemain mencapai hampir 400 juta poundsterling atau sekitar Rp8 triliun.
Sejak ditunjuk pada Maret lalu, De Zerbi mengakui perannya lebih banyak sebagai psikolog ketimbang pelatih. Ia berhasil mempertahankan Tottenham di kasta tertinggi, meski hanya dengan kemenangan tipis atas Everton di laga pamungkas musim lalu. Kini, dengan dana segar yang melimpah, ia diharapkan mampu membawa Spurs bangkit dari keterpurukan. Namun, hasil di Gtech Community Stadium menunjukkan bahwa uang bukanlah segalanya.
Brentford tampil agresif sejak menit awal dan unggul cepat melalui gol Keane Lewis-Potter pada menit ke-12. Vitaly Janelt menggandakan keunggulan sebelum turun minum, dan Michael Kayode memastikan kemenangan telak pada menit ke-49. Penonton tuan rumah bahkan sudah banyak yang meninggalkan stadion lebih awal, menyaksikan Spurs yang kembali tampil tanpa perlawanan berarti.
De Zerbi memberikan debut kepada empat rekrutan anyar: Andrew Robertson, Marcos Senesi, Jan Paul van Hecke, dan Sandro Tonali. Namun, tak satu pun dari mereka mampu memberikan dampak signifikan. Tonali, yang diboyong dari Newcastle United dengan harga 100 juta poundsterling, justru tampil di bawah performa dan kalah dominan dari gelandang Brentford, Mamadou Sangare. Sementara Matheus Fernandes, yang dibeli dari West Ham seharga 85 juta poundsterling, hanya menjadi pemain pengganti.
Kekalahan ini menegaskan bahwa masalah Tottenham bukan hanya soal kualitas pemain, melainkan juga mentalitas dan budaya klub yang sudah lama tertanam. Dua musim beruntun Spurs finis di peringkat 17, dan pola kekalahan yang sama kembali terlihat. De Zerbi sendiri mengakui bahwa timnya belum siap secara fisik karena banyak pemain baru yang baru bergabung setelah Piala Dunia. Namun, ia menolak menjadikan itu sebagai alasan.
โSaya tidak ingin mencari alasan bahwa starting XI tidak cukup untuk bersaing. Semangat Brentford di lapangan luar biasa, itu harus menjadi contoh bagi kami,โ ujar De Zerbi kepada BBC Sport.
Konteks Indonesia: Bagi penggemar sepak bola di Indonesia, kekalahan Tottenham ini menjadi pelajaran berharga bahwa investasi besar di bursa transfer tidak menjamin kesuksesan di lapangan. Hal ini juga relevan dengan perkembangan sepak bola nasional, di mana klub-klub Indonesia mulai berani mengeluarkan dana besar untuk mendatangkan pemain asing. Namun, tanpa pembinaan mental dan budaya yang kuat, hasil di lapangan bisa tetap mengecewakan.
De Zerbi kini dihadapkan pada tugas berat untuk mengubah pola pikir para pemainnya. Ia harus segera menemukan formula yang tepat untuk membangkitkan kepercayaan diri skuadnya sebelum terlambat. Pertanyaan besarnya, apakah ia mampu mengubah budaya kekalahan yang sudah mengakar di Tottenham, atau justru akan menjadi pelatih berikutnya yang gagal membawa Spurs keluar dari keterpurukan?



