AIA Catat Pertumbuhan VONB 10% di Semester I, Asia Tetap Jadi Mesin Utama
Baca dalam 60 detik
- Nilai bisnis baru AIA naik 10% secara tahunan pada semester pertama, didorong ekspansi di seluruh lini distribusi kecuali Thailand.
- Kebijakan pajak baru China atas polis asuransi Hong Kong berpotensi meredam permintaan nasabah daratan, menjadi risiko yang dipantau pelaku pasar.
- Dividen interim naik 10% menjadi 53,90 sen Hong Kong per saham, mencerminkan optimisme manajemen terhadap prospek jangka panjang di kawasan Asia.

PT AIA Financial, bagian dari grup asuransi raksasa Asia, mencatatkan kinerja solid pada paruh pertama tahun ini. Nilai bisnis baru (value of new business/VONB) perusahaan melonjak 10 persen secara tahunan, mencapai 3,21 miliar dolar AS dengan kurs konstan. Angka ini sejalan dengan estimasi konsensus analis yang dihimpun perusahaan, yakni sekitar 3,2 miliar dolar AS.
Pertumbuhan tersebut ditopang oleh ekspansi di hampir semua kanal distribusi dan segmen bisnis, kecuali Thailand yang masih dibayangi perlambatan ekonomi. Jika Thailand dikeluarkan, laju pertumbuhan VONB bahkan mencapai 14 persen secara tahunan. Capaian ini menjadi sinyal bahwa permintaan produk asuransi jiwa dan kesehatan di kawasan Asia tetap kokoh di tengah ketidakpastian global.
Namun, di balik kinerja positif itu, ada awan gelap yang membayangi industri asuransi Hong Kong. Sejak awal Agustus, beredar laporan bahwa otoritas pajak China mulai memungut pajak penghasilan pribadi sebesar 20 persen atas imbal hasil polis asuransi yang diterbitkan di Hong Kong. Kebijakan ini memicu kekhawatiran bahwa pengawasan yang lebih ketat terhadap investasi luar negeri akan menekan minat nasabah asal daratan China, yang selama ini menjadi salah satu motor utama pertumbuhan penjualan polis di bekas koloni Inggris tersebut.
Bagi pasar Indonesia, perkembangan ini relevan mengingat banyak warga negara Indonesia yang juga membeli polis asuransi di luar negeri, termasuk Singapura dan Hong Kong, sebagai bagian dari diversifikasi aset. Meski demikian, analis menilai dampaknya terhadap industri asuransi domestik relatif terbatas karena pangsa pasar polis luar negeri masih kecil dibandingkan total premi nasional.
Lee Yuan Siong, Group Chief Executive dan Presiden AIA, menegaskan bahwa Asia tetap menjadi peluang pertumbuhan paling menarik bagi industri asuransi jiwa dan kesehatan. Menurutnya, dorongan struktural di kawasan iniโseperti meningkatnya kelas menengah, kesadaran akan perlindungan finansial, dan penuaan populasiโterus memperkuat permintaan produk AIA. Pernyataan ini sejalan dengan strategi perusahaan yang agresif berekspansi di pasar-pasar berkembang seperti Indonesia, Vietnam, dan Filipina.
Di Indonesia, AIA beroperasi melalui PT AIA Financial dan telah lama menjadi pemain utama di segmen asuransi jiwa. Perusahaan ini terus berinovasi dengan meluncurkan produk-produk yang menggabungkan perlindungan jiwa dengan investasi, serta memanfaatkan kanal digital untuk menjangkau generasi muda. Meski persaingan dengan pemain lokal seperti Prudential dan Allianz ketat, AIA optimistis dapat mempertahankan pertumbuhan dua digit di tahun-tahun mendatang.
Kinerja AIA juga menjadi barometer bagi industri asuransi Asia secara keseluruhan. Jika AIA mampu tumbuh di tengah tekanan regulasi dan ekonomi, maka pemain lain diprediksi akan mengikuti jejak serupa. Namun, pertanyaan besarnya adalah: apakah kebijakan pajak China akan benar-benar mengubah lanskap permintaan polis Hong Kong dalam jangka panjang? Atau justru menjadi peluang bagi pasar domestik seperti Indonesia untuk menarik minat investor yang mencari alternatif? Jawabannya akan menentukan arah kompetisi industri asuransi di kawasan ini pada tahun-tahun mendatang.



