Sandra Bullock Ungkap Duka Mendalam: Kehilangan Pasangan akibat ALS dan Beban Rahasia di Tengah Pandemi
Baca dalam 60 detik
- Aktris Sandra Bullock mengaku mulai berduka empat tahun sebelum Bryan Randall meninggal, karena penyakit ALS telah mengubah kondisi fisik dan mentalnya.
- Permintaan Bryan untuk merahasiakan diagnosis membuat Bullock merasa terisolasi, hanya berbagi dengan saudara perempuannya dan dua sahabat dekat.
- Kisah ini menyoroti tantangan pengasuh pasien ALS, terutama saat harus menjaga rahasia di tengah tekanan pandemi dan karier.

Sandra Bullock akhirnya membuka tabir kesedihan yang ia pendam selama bertahun-tahun. Dalam wawancara di podcast SmartLess, bintang film *Practical Magic 2* itu mengaku telah berduka jauh sebelum Bryan Randall, pasangannya, mengembuskan napas terakhir pada Agustus 2023. Randall meninggal di usia 57 tahun setelah berjuang melawan amyotrophic lateral sclerosis (ALS), penyakit degeneratif yang menyerang sel saraf motorik. Namun, yang lebih menyayat, Bullock mengungkapkan bahwa secara emosional ia kehilangan Randall jauh sebelum raganya pergi.
“Perjalanan penyakitnya, baik secara fisik maupun mental, membuat saya mulai berduka empat tahun sebelum dia pergi. Ada sesuatu yang berubah,” ujar Bullock kepada Jason Bateman, Sean Hayes, dan Will Arnett. “Orang yang saya cintai pergi lebih awal dari tubuhnya. Saya tidak pernah benar-benar menghadapi itu sampai setelah dia tiada, karena kita seperti berada di treadmill yang tak berhenti.”
Bullock, yang kini berusia 62 tahun dan memiliki dua anak adopsi, Louis (16) dan Laila (13), juga mengungkapkan alasan di balik kerahasiaan diagnosis Randall. Sang aktris mengaku memahami permintaan Randall untuk tidak membagikan kabar tersebut ke publik, tetapi keputusan itu justru membuatnya merasa terisolasi. “Dia meminta saya untuk tidak berbagi. Saya tahu alasannya,” tuturnya. “Awalnya saya pikir, ‘Oh, saya bisa menangani ini. Saya bisa diam. Saya tidak ingin menyakiti orang lain karena pekerjaan saya.’ Jadi, tidak berbicara untuk sementara waktu terasa baik.”
Namun, situasi menjadi semakin rumit ketika diagnosis ALS datang bersamaan dengan pandemi COVID-19. Bullock harus merawat Randall yang kondisinya memburuk, mengurus dua anak kecil, dan menjaga rahasia besar dari publik. “Saya punya anak dengan asma parah, saya panik. Saya punya dua anak kecil yang harus melewati masa itu, terutama seorang putri yang menganggapnya sebagai sosok ayah. Saya tidak boleh memberi tahu siapa pun. Hanya saudara perempuan saya yang tahu untuk beberapa waktu. Itu beban yang sangat berat,” kenangnya.
Beban itu akhirnya mendorong Bullock untuk curhat kepada dua sahabat dekatnya: Amanda Anka, istri Jason Bateman, dan Jennifer Aniston. Kombinasi antara merawat gejala Randall, membesarkan anak-anak, dan pandemi disebutnya sebagai “trifecta yang cukup kelam”. Ia bahkan harus tetap tampil di karpet merah untuk promosi film, sementara hatinya hancur. “Saya melihat wajah saya di karpet merah dan berpikir, ‘Lihat wajahmu. Kau seperti balok kayu,’” ungkapnya.
Kisah Bullock menyoroti realitas pahit yang sering dialami pengasuh pasien ALS. Di Indonesia, meski data pasti jumlah penderita ALS sulit ditemukan, penyakit ini dikenal sebagai salah satu gangguan neurologis yang progresif dan membutuhkan perawatan jangka panjang. Yayasan ALS Indonesia dan komunitas pasien kerap mengangkat isu beban psikologis keluarga, terutama ketika diagnosis harus dirahasiakan karena stigma atau alasan privasi. Pengalaman Bullock menjadi cermin bahwa dukungan sosial dan keterbukaan, setidaknya kepada orang terdekat, sangat krusial bagi kesehatan mental pengasuh.
Para ahli kesehatan mental menilai bahwa fase berduka yang berkepanjangan, seperti yang dialami Bullock, adalah respons alami terhadap kehilangan yang “antisipatoris”. Namun, ketika proses itu dijalani sendirian, risikonya adalah munculnya kelelahan emosional dan depresi. “Merawat pasien ALS bukan hanya tantangan fisik, tetapi juga psikologis. Pengasuh sering mengabaikan kebutuhan diri sendiri,” kata seorang psikolog klinis yang menangani keluarga pasien neurodegeneratif di Jakarta. “Kisah Bullock mengingatkan kita bahwa meminta bantuan bukanlah kelemahan.”
Kini, setelah Randall tiada, Bullock perlahan mulai pulih. Ia mengaku bahwa berbicara terbuka di podcast adalah bagian dari proses penyembuhannya. Pertanyaannya, bagaimana publik dan sistem kesehatan di Indonesia dapat lebih mendukung para pengasuh pasien ALS agar tidak merasa sendirian? Apakah akan ada ruang aman bagi mereka untuk berbagi tanpa takut dihakimi? Kisah Bullock mungkin menjadi titik awal untuk diskusi yang lebih luas tentang pentingnya kesehatan mental bagi mereka yang berjuang di balik layar.



