Juara FPL Dunia Bagikan Jurus Jitu: Konsistensi dan Pemain Murah Jadi Kunci
Baca dalam 60 detik
- Erik Ibsen, mahasiswa kedokteran Denmark, menjuarai FPL musim lalu di antara 11 juta pemain, meski baru pertama kali bermain.
- Strategi utamanya adalah fokus pada pemain murah bernilai tinggi dan akumulasi poin kontribusi bertahan untuk menjaga konsistensi skor.
- Ibsen menyarankan pemain untuk bersabar, merencanakan beberapa pekan ke depan, dan memanfaatkan akumulasi transfer hingga lima kali sebagai 'mini-wildcard'.

Erik Ibsen, mahasiswa kedokteran asal Denmark yang baru pertama kali bermain Fantasy Premier League (FPL), berhasil menjadi juara dunia musim lalu di antara 11 juta peserta. Pria 23 tahun yang juga penggemar Everton ini membagikan resep suksesnya yang justru lahir dari ketidaktahuannya akan permainan.
Ibsen mengaku bahwa statusnya sebagai pemula menjadi keuntungan besar. "Seribu persen menjadi baru di game ini membantu saya menang," ujarnya. Ia tidak pernah membayar layanan analisis atau mengikuti saran influencer, melainkan mengandalkan riset dan pilihan sendiri. Keberhasilannya ini menarik perhatian banyak penggemar FPL yang ingin memperbaiki peringkat di liga mini mereka.
Kunci utama menurut Ibsen adalah konsistensi. Banyak pemain menyerah setelah satu pekan buruk, padahal FPL berlangsung 38 pekan. "Saya tidak memulai dengan baik dan berada di peringkat delapan juta setelah pekan pertama," kenangnya. Namun, ia tetap tenang dan fokus pada rencana jangka panjang. Ia menyarankan pemain untuk melihat jadwal pertandingan beberapa pekan ke depan dan tidak terburu-buru menggunakan chip atau transfer.
Strategi lain yang ia tekankan adalah mencari pemain murah yang memberikan nilai besar, seperti Pascal Gross dari Brighton yang hanya dihargai ยฃ5,5 juta tetapi mengambil penalti, tendangan bebas, dan tendangan sudut. Ibsen juga mengincar pemain yang rajin mengumpulkan poin kontribusi bertahan (defensive contribution points). "Saya menargetkan hal ini sejak awal dan hasilnya tidak pernah ada pekan yang buruk," jelasnya.
Ibsen juga membahas pentingnya memilih pemain dari tim favorit. Sebagai penggemar Everton, ia mengaku menyukai Thierno Barry, tetapi karena berbagi menit bermain dengan Beto, ia tidak merekomendasikannya untuk FPL. "Jika Anda penggemar Manchester City, tentu bisa memilih Haaland. Tapi kalau mendukung Hull, ya semoga beruntung," candanya.
Mengenai Erling Haaland, Ibsen mengaku hampir selalu memasukkannya dalam tim musim lalu. Meski harganya sangat mahal, ia tetap berencana memasukkannya musim ini karena bisa membangun tim yang kuat di sekelilingnya. "Tidak ada yang seperti Haaland. Dia membuat permainan menjadi sederhana, terutama untuk menentukan kapten," katanya.
Ia juga menyoroti strategi menahan transfer. Pemain bisa menumpuk hingga lima transfer dan menggunakannya sekaligus, yang menurutnya seperti "mini-wildcard". "Saya biasanya melakukan dua atau tiga transfer sekaligus setelah menabung beberapa pekan," ungkapnya. Ini memungkinkan rotasi besar saat jadwal mendukung.
Menghadapi musim 2026-27 yang disebutnya paling sulit diprediksi, Ibsen merekomendasikan lini pertahanan Tottenham yang dihargai sekitar ยฃ5 juta per pemain, serta serangan Manchester City, Chelsea, dan Liverpool. Ia meyakini gaya menyerang Andoni Iraola yang sukses di Bournemouth akan terbawa ke Liverpool, meski ia meragukan pertahanan mereka.
Bagi penggemar FPL di Indonesia, strategi Ibsen bisa menjadi panduan berharga. Meski kompetisi ini berpusat di Inggris, prinsip manajemen skuad dan analisis data berlaku universal. Dengan semakin populernya FPL di Indonesia, pemahaman tentang nilai pemain dan perencanaan jangka panjang dapat meningkatkan peluang sukses di liga mini masing-masing.
Ibsen sendiri menargetkan finis di 25.000 besar musim ini, setelah menolak saran teman-temannya untuk pensiun dengan rekor 100% kemenangan. Akankah strateginya kembali berhasil? Atau akankah pemain baru lain muncul sebagai kejutan? Musim ini akan menjadi jawabannya.



