Liverpool Hadapi Enam Pelatih Baru di Enam Laga Awal: Ujian Taktik Andoni Iraola
Baca dalam 60 detik
- Rekor baru Premier League: Liverpool menjadi tim pertama yang berjumpa enam manajer anyar dalam enam pekan pembuka.
- Persiapan Liverpool bertumpu pada departemen analisis untuk memetakan gaya calon lawan yang masih minim data.
- Duel akhir pekan melawan Newcastle menjadi ujian awal bagi strategi Iraola yang belum terkalahkan dalam 18 laga terakhirnya.

Liverpool memasuki musim ini dengan tantangan yang belum pernah terjadi di era Premier League: enam lawan pertama mereka semuanya dilatih oleh manajer baru. Rekor sembilan klub yang berganti pelatih pada bursa musim panas membuat jadwal The Reds menjadi ujian taktik paling berat, sekaligus momentum bagi pelatih anyar Andoni Iraola untuk membuktikan kapasitasnya di Anfield.
Fenomena ini bukan sekadar angka. Menurut catatan Opta yang dihimpun BBC Sport, tidak ada satu pun tim dalam sejarah kasta tertinggi Inggris yang menghadapi enam pelatih baru dalam enam pertandingan awal. Bagi Iraola, yang baru bergabung dari Bournemouth pada Juni lalu, situasi ini menuntut kerja ekstra di ruang analisis. "Kami menghadapi banyak pelatih baru, jadi ada pekerjaan tambahan yang harus dilakukan," ujarnya. Ia menambahkan bahwa analisis mendalam tentang rekam jejak lawan di klub sebelumnya menjadi kunci untuk mengantisipasi kejutan taktik.
Departemen analisis Liverpool yang dipimpin Jansen Moreno kini menjadi garda terdepan. Mereka mempelajari pola permainan enam calon lawan: Oliver Glasner (Nottingham Forest), Gary O'Neil (Ipswich), Enzo Maresca (Manchester City), Matthias Jaissle (Newcastle), Alvaro Arbeloa (Fulham), dan Marco Rose (Bournemouth). Meski tiga di antaranya pernah berhadapan dengan Liverpool di klub lama, sisanya masih misteri. Analis harus bekerja cepat, bahkan hingga menit-menit terakhir saat susunan pemain diumumkan.
Menariknya, persiapan ini tidak hanya mengandalkan rekaman pertandingan. Sejak 2016, seluruh klub Premier League sepakat berbagi data pelacakan pemain untuk meningkatkan kualitas analisis, seperti diungkapkan Ian Graham, mantan direktur riset Liverpool, dalam bukunya How To Win the Premier League. Namun, data tersebut tetap memiliki keterbatasan. Seorang manajer internasional yang enggan disebut namanya menjelaskan bahwa fokus utama adalah membaca formasi dasar dan perubahannya saat tim unggul atau tertinggal. "Kemudian Anda menggali lebih dalam: siapa yang mereka umpan, bagaimana mereka membangun serangan, dan seberapa berani mereka mengambil risiko," katanya.
Meski demikian, analis sepakat bahwa rekaman pramusim jarang dijadikan patokan utama. "Yang lebih penting adalah melihat filosofi pelatih di klub sebelumnya dan memperkirakan bagaimana mereka akan menerapkannya," ungkap sumber lain yang memahami analisis level atas. Karena itu, elemen kejutan tetap tinggi, terutama di awal musim.
Bagi publik Indonesia, dinamika ini menarik untuk disimak karena banyak pelatih Eropa kini merambah pasar Asia, termasuk Liga 1. Pola adaptasi cepat terhadap pelatih baru menjadi pelajaran berharga bagi klub-klub Indonesia yang kerap berganti arsitek di tengah musim. Selain itu, ketertarikan terhadap Premier League yang tinggi di Tanah Air membuat laga-laga awal Liverpool layak menjadi tontonan wajib.
Duel akhir pekan ini melawan Newcastle di St James' Park menjadi ujian pertama yang sesungguhnya. Jaissle, yang belum pernah kalah di laga perdana bersama tiga klub sebelumnya, mengaku belum mau membuka strategi. "Masih ada satu minggu menuju laga melawan Liverpool. Saya tidak bisa menunjukkan kartu saya saat ini," katanya. Di sisi lain, Iraola memiliki rekor impresif: tak pernah kalah dalam enam pertemuan melawan Newcastle (tiga menang, tiga imbang).
Pertanyaannya, akankah keunggulan analitis Liverpool mampu meredam kejutan taktik dari para pelatih anyar? Atau justru elemen ketidakpastian yang akan mendominasi awal musim ini? Jawabannya akan mulai terlihat akhir pekan ini, saat sembilan manajer baru menunjukkan kartu mereka di pentas Premier League.



