Patrick Vieira Resmi Tangani Senegal: Misi Pulang ke Kampung Halaman
Baca dalam 60 detik
- Legenda Arsenal dan timnas Prancis itu diumumkan sebagai pelatih anyar Senegal, menggantikan Pape Thiaw yang dipecat pasca kegagalan di Piala Dunia 2026.
- Vieira dihadapkan pada tugas berat membenahi skuad Singa Teranga yang sempat tercoreng insiden walk-out di final Piala Afrika 2025.
- Kontrak dan tanggal mulai bekerja masih dalam pembahasan, dengan laga perdana diprediksi pada kualifikasi Piala Afrika 2027 bulan depan.

Patrick Vieira resmi ditunjuk sebagai pelatih kepala tim nasional Senegal, membawa pulang legenda Arsenal dan Prancis itu ke tanah kelahirannya. Keputusan ini diumumkan Federasi Sepak Bola Senegal (FSF) sebagai bagian dari ambisi memperkuat staf teknis level tinggi, sekaligus menjawab kerinduan publik akan sosok pemimpin baru setelah kegagalan di Piala Dunia 2026.
Vieira, yang lahir di Dakar sebelum pindah ke Prancis pada usia delapan tahun, kini mengemban misi membangkitkan Singa Teranga. Ia menggantikan Pape Thiaw yang dipecat setelah timnya tersingkir di babak 32 besar Piala Dunia 2026. Dengan pengalaman panjang sebagai pemain dan pelatih, Vieira diharapkan mampu membawa stabilitas dan mentalitas juara ke skuad yang sarat talenta.
Karier kepelatihan Vieira memang penuh warna. Setelah pensiun pada 2011, ia menangani New York City FC pada 2016, lalu pindah ke Nice dan membawa tim tersebut finis ketujuh di Ligue 1 pada musim pertamanya. Namun, ia dipecat pada Desember 2020 setelah performa menurun. Selanjutnya, ia melatih Crystal Palace dan berhasil membawa The Eagles ke posisi 12 Premier League serta semifinal Piala FA pada 2021-22, sebelum akhirnya didepak pada Maret 2023 setelah 12 laga tanpa kemenangan. Pengalaman terakhirnya di Genoa juga berakhir dengan saling sepakat pada November 2024, saat tim berada di dasar klasemen Serie A.
Keputusan FSF menunjuk Vieira tidak lepas dari situasi pelik yang membayangi tim. Pendahulunya, Pape Thiaw, menjadi sorotan setelah insiden walk-off saat final Piala Afrika 2025 melawan Maroko. Saat itu, Thiaw mengajak pemain meninggalkan lapangan setelah wasit memberikan penalti di masa injury time. Setelah penundaan 17 menit, pemain kembali dan Brahim Diaz gagal mengeksekusi penalti, namun Maroko tetap dinyatakan menang melalui gol Pape Gueye di perpanjangan waktu. Keputusan itu kemudian dibatalkan oleh badan banding CAF pada Maret, yang menganugerahkan gelar kepada Maroko. Senegal pun mengajukan banding ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) dengan sidang dijadwalkan 8 Oktober.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, penunjukan Vieira menambah daftar pelatih bintang yang menangani tim Afrika. Ini juga menjadi pengingat bahwa sepak bola Afrika semakin serius dalam membangun tim berkelas dunia. Bagi Indonesia yang tengah mengembangkan sepak bola, langkah Senegal bisa menjadi pelajaran tentang pentingnya manajemen krisis dan pemilihan pelatih yang tepat. Vieira, dengan reputasi dan pengalamannya, diharapkan mampu membawa Senegal tampil konsisten di pentas internasional, sekaligus memperbaiki citra tim yang sempat tercoreng.
Kini, pertanyaan besarnya adalah bagaimana Vieira akan menyusun strategi dan mengelola ego pemain bintang seperti Sadio Mane dan Kalidou Koulibaly. Mampukah ia membawa Senegal meraih gelar Piala Afrika yang telah lama dinanti? Atau justru tekanan ekspektasi tinggi akan menjadi bumerang? Hanya waktu yang bisa menjawab, namun satu hal pasti: kehadiran Vieira telah menggebrak peta persaingan sepak bola Afrika.



