Kebakaran Hanguskan 50 Bus di Pangkalan PO Sirnajaya, Damkar Bekasi Kerahkan 9 Armada
Baca dalam 60 detik
- Insiden kebakaran melanda pangkalan PO Sirnajaya di Cikarang Barat, menghanguskan 50 unit bus yang sudah tidak beroperasi.
- Sembilan armada pemadam dikerahkan untuk menjinakkan api yang membesar akibat banyaknya kendaraan di lokasi, dengan proses pendinginan masih berlanjut.
- Penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan polisi, sementara kerugian material belum dapat ditaksir dan tidak ada korban jiwa.

Sebanyak 50 unit bus yang terparkir di pangkalan PO Sirnajaya, Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi, hangus dilalap api pada Selasa dini hari (18/8/2026). Insiden yang terjadi di Jalan Jarakosta, Desa Sukadanau itu memaksa Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) dan Penyelamatan setempat mengerahkan sembilan armada dari berbagai sektor untuk menjinakkan si jago merah.
Kepala Dinas Damkar dan Penyelamatan Kabupaten Bekasi, Adeng Hudaya, mengungkapkan laporan kebakaran diterima petugas pukul 01.45 WIB. Regu pemadam tiba di lokasi sekitar 15 menit kemudian dan langsung berupaya mengendalikan api yang telah membesar. Luas area yang terbakar mencapai 800 meter persegi, dengan kepadatan kendaraan mempercepat perambatan api ke bus-bus lain yang masih utuh.
Operasi pemadaman melibatkan unit dari Mako Cibitung, Sektor Cikarang Selatan, Cikarang Utara, Sektor Pemda, hingga Sektor Sukatani. Meski api berhasil dipadamkan, puluhan bus yang mayoritas sudah tidak beroperasi itu tidak dapat diselamatkan. Petugas kini melakukan pendinginan untuk mencegah munculnya titik api baru.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan resmi mengenai nilai kerugian material. Adeng menegaskan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut, namun polisi masih menyelidiki sumber awal api. "Nilai kerugian masih dalam proses pendataan, dan penyebab kebakaran sedang diperiksa lebih lanjut," ujarnya.
Insiden ini menjadi pengingat rentannya fasilitas transportasi umum di kawasan industri Cikarang terhadap risiko kebakaran. Kepadatan kendaraan yang tidak terpakai, minimnya sistem deteksi dini, serta jarak antarunit yang rapat kerap memperbesar dampak ketika api muncul. Pengamat keselamatan transportasi menilai perlu ada audit rutin terhadap pangkalan bus nonaktif, termasuk pemasangan alat pemadam api ringan (APAR) dan prosedur evakuasi kendaraan.
Bagi warga sekitar, kebakaran ini juga menimbulkan kekhawatiran akan kualitas udara dan dampak lingkungan. Asap tebal yang membubung sempat mengganggu aktivitas, meski belum ada laporan gangguan kesehatan. Pemerintah daerah diharapkan segera melakukan pendataan menyeluruh dan memastikan proses investigasi berjalan transparan.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah kejadian ini akan mendorong perbaikan standar keselamatan di pangkalan bus lain di Bekasi, atau justru menjadi catatan kelam yang berulang. Dengan penyebab yang belum jelas, publik menanti hasil penyelidikan polisi sebagai langkah awal pencegahan.



