Kabut Asap Kalimantan Kian Parah, Sarawak Tutup 591 Sekolah: 197 Ribu Siswa Terdampak
Baca dalam 60 detik
- Otoritas pendidikan Sarawak memerintahkan libur dua hari bagi 591 sekolah di sepuluh distrik menyusul memburuknya kualitas udara.
- Indeks polutan udara di Serian menyentuh level 'sangat tidak sehat' (239), memicu kekhawatiran akan kabut asap lintas batas yang meluas.
- Langkah ini merupakan respons kedua dalam sebulan terakhir, menyoroti krisis lingkungan yang berulang di kawasan Borneo.

KUALA LUMPUR โ Kabut asap yang bersumber dari kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan kembali memaksa pemerintah negara bagian Sarawak, Malaysia Timur, menutup ratusan sekolah. Sebanyak 591 sekolah di sepuluh distrik diliburkan selama dua hari mulai Kamis (20/8), memengaruhi sekitar 197.323 pelajar, menurut pernyataan resmi Dinas Pendidikan Sarawak.
Penutupan ini merupakan yang kedua kalinya dalam sebulan terakhir. Pekan lalu, sekolah-sekolah di Serian sudah lebih dulu ditutup selama tiga hari setelah indeks polutan udara (API) sempat menembus angka 200. Pada Jumat pagi, API di Serian tercatat 239, masuk kategori "sangat tidak sehat" menurut skala Badan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Sarawak (NREB). Angka ini jauh di atas ambang batas normal dan memicu kekhawatiran akan dampak kesehatan jangka panjang bagi warga, terutama anak-anak.
Dinas Pendidikan setempat menyebut kebijakan ini sebagai langkah antisipatif untuk melindungi keselamatan dan kesehatan siswa. Selama masa penutupan, pembelajaran jarak jauh akan diberlakukan agar kegiatan belajar tidak terhenti. Keputusan ini diumumkan melalui media sosial dan kanal resmi lainnya, dengan perkembangan lebih lanjut akan disampaikan melalui kantor pendidikan distrik masing-masing.
Fenomena kabut asap ini bukan hanya melanda Malaysia. Singapura juga mulai merasakan dampaknya, dengan Majelis Ulama Islam Singapura (MUIS) memutuskan untuk memperpendek durasi khotbah Jumat mulai pekan ini. Sementara itu, Dinas Meteorologi Singapura (MSS) memperingatkan bahwa kondisi kering di kawasan ini diprediksi akan berlanjut, memperbesar risiko kebakaran dan kabut asap yang lebih parah.
Para ahli mengaitkan kabut asap ini dengan kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan, Indonesia. Data dari Pusat Meteorologi Khusus ASEAN (ASMC) menunjukkan bahwa lebih dari 7.000 titik panas terdeteksi di Kalimantan sejak awal Agustus, sementara Sarawak hanya mencatat 148 titik. Asap tebal dari kebakaran ini terbawa angin ke arah barat laut, menyelimuti sebagian besar wilayah Sarawak. Menteri Kehutanan Indonesia, Raja Juli Antoni, menyatakan bahwa pemerintah tengah menyiapkan operasi teknologi modifikasi cuaca untuk memadamkan api dan mencegah kebakaran lebih lanjut.
Bagi Indonesia, kabut asap lintas batas ini bukan sekadar masalah lingkungan, tetapi juga menyangkut hubungan diplomatik dan ekonomi dengan negara tetangga. Setiap tahun, kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan sering kali memicu protes dari Malaysia dan Singapura. Dampaknya tidak hanya pada kesehatan masyarakat, tetapi juga pada sektor pariwisata, penerbangan, dan produktivitas ekonomi secara keseluruhan. Pemerintah Indonesia sendiri telah berulang kali berjanji untuk menindak tegas pelaku pembakaran lahan, namun implementasi di lapangan masih menghadapi banyak tantangan.
Kondisi ini diperkirakan akan berlanjut selama musim kemarau masih berlangsung. Para pejabat lingkungan Sarawak memperingatkan bahwa kabut asap bisa bertahan hingga akhir pekan jika pembakaran biomassa terus terjadi. Pertanyaannya, apakah negara-negara di kawasan ASEAN mampu bersinergi untuk mengatasi akar masalah kebakaran hutan ini, atau akankah kita terus berulang kali menyaksikan krisis kabut asap yang melumpuhkan aktivitas jutaan orang?



