Lisa Kudrow Buka Suara: Standar Kecantikan Hollywood dan Jalan Terjal Menuju Phoebe Buffay
Baca dalam 60 detik
- Aktris Lisa Kudrow mengaku kerap ditolak untuk peran reguler di sitkom karena dianggap tidak cukup cantik, sebelum akhirnya memerankan Phoebe Buffay di Friends.
- Ia sempat mengincar peran Rachel Green, tetapi tim kreatif menilai dirinya lebih cocok untuk karakter Phoebe yang eksentrik, bukan pemeran utama romantis.
- Pengakuan ini memicu diskusi tentang standar ganda industri hiburan dan relevansinya dengan industri kreatif Indonesia yang juga kerap mengedepankan penampilan fisik.

Lisa Kudrow, yang namanya melekat lewat sosok Phoebe Buffay di serial legendaris Friends, mengungkapkan bahwa jalan menuju kesuksesannya tidak semulus yang dibayangkan. Dalam wawancara terbaru dengan The Hollywood Reporter, aktris berusia 63 tahun itu menceritakan pengalaman pahitnya di industri hiburan, di mana ia kerap ditolak untuk peran reguler di berbagai sitkom karena dianggap tidak memenuhi standar kecantikan yang berlaku saat itu.
Kudrow, yang membintangi Friends dari 1994 hingga 2004, mengaku tidak menyimpan dendam atas penolakan tersebut. Ia justru memahami logika para sutradara casting yang saat itu masih terpaku pada pakem penampilan fisik. "Saya tidak terlihat seperti perempuan yang biasa dipilih sebagai pemeran tetap di sitkom. Mereka masih menginginkan penampilan tertentu—cantik, menarik, dan semacamnya—dan tidak harus lucu," ujarnya, seraya menambahkan bahwa ia pernah secara gamblang diberi tahu bahwa dirinya "tidak cantik" dan industri menginginkan sosok yang lebih memukau secara visual.
Yang menarik, Kudrow juga mengakui bahwa ia sempat mengincar peran Rachel Green, karakter yang akhirnya diperankan oleh Jennifer Aniston. Ia bahkan sempat mengusulkan ide untuk memerankan Rachel dengan sentuhan budaya Yahudi, yang menurutnya bisa menjadi bahan komedi yang segar. Namun, usulan itu kandas karena ia tidak menyadari bahwa Rachel adalah pemeran utama romantis yang berpasangan dengan Ross. "Saya sempat bilang ke agen saya, 'Saya bisa memerankan Jewish American Princess dan membuatnya sangat lucu.' Mereka hanya menjawab, 'Uh-huh, baiklah, kami akan sampaikan ke kreatornya,'" kenangnya sambil tertawa.
Kudrow kemudian mendapat kabar bahwa ia akan memerankan Phoebe, dan ia menangkap sinyal halus dari tim produksi bahwa karakter tersebut memang sulit dicari penggantinya. "Mereka bilang, 'Tidak, tidak, mereka kesulitan menemukan Phoebe. Mereka tidak akan main-main dengan itu.' Itu cara halus untuk mengatakan, 'Ya, kamu bukan pemeran utama romantis,'" tuturnya. Pengakuan ini membuka tabir praktik casting di era 90-an yang kerap menempatkan penampilan fisik di atas kemampuan akting.
Di luar karier, Kudrow juga berbagi pengalaman emosionalnya menonton ulang Friends untuk pertama kalinya sejak syuting berakhir, terutama setelah kepergian Matthew Perry pada 2023. Ia mengaku menjadikan serial itu sebagai tontonan sebelum tidur. "Beberapa adegan terasa familiar, tapi banyak juga yang seperti menonton untuk pertama kali—terutama adegan yang tidak melibatkan Phoebe. Semua orang tampil luar biasa!" katanya. Ia bahkan sempat meminta maaf kepada David Schwimmer karena pernah melontarkan kritik bahwa karakter Ross adalah pacar yang buruk di acara Jimmy Fallon. Schwimmer, yang juga belum menonton ulang, hanya tertawa dan memaafkannya.
Kisah Kudrow ini relevan untuk direnungkan di tengah industri hiburan Indonesia yang juga tak lepas dari standar kecantikan. Banyak aktris dan aktor Tanah Air yang mengaku kesulitan mendapatkan peran karena dianggap tidak memenuhi ekspektasi fisik, meski memiliki kemampuan akting mumpuni. Fenomena ini perlahan terkikis seiring meningkatnya kesadaran akan keberagaman tubuh dan representasi, tetapi masih menjadi pekerjaan rumah bagi para pengambil keputusan di industri kreatif.
Ke depan, pertanyaan yang muncul: apakah industri hiburan global—termasuk Indonesia—akan benar-benar beranjak dari standar kecantikan sempit, atau justru semakin terpolarisasi dengan hadirnya platform digital yang memberi ruang bagi talenta nonkonvensional? Pengalaman Kudrow setidaknya menjadi pengingat bahwa bakat sejati pada akhirnya akan menemukan jalannya, meski harus melewati serangkaian penolakan yang menyakitkan.



