Marina Hyde Pamit dari The Guardian Setelah 25 Tahun: Kolom Terakhir dan Warisan Kritiknya
Baca dalam 60 detik
- Marina Hyde mengakhiri kolomnya di The Guardian setelah seperempat abad berkarier sebagai penulis opini.
- Sepanjang kariernya, ia dikenal lewat gaya satir tajam yang kerap memicu surat pembaca, termasuk dari klub tenis real Cambridge.
- Kepergiannya menandai berakhirnya satu era kolumnisme opini yang mengandalkan dialog intens dengan pembaca melalui email pribadi.

Setelah 25 tahun menulis untuk The Guardian, Marina Hyde resmi mengakhiri kolomnya. Dalam tulisan perpisahan yang terbit pada 2 Oktober 2026, ia mengungkapkan bahwa ini adalah kolom terakhirnya untuk surat kabar Inggris tersebut. Hyde, yang dikenal lewat komentar satirnya tentang politik dan budaya populer, menghabiskan lebih dari dua dekade terakhir sebagai kolumnis tetap di bagian Opini.
Keputusan Hyde untuk mundur bukan sekadar pergantian penulis biasa. Selama kariernya, ia telah meliput berbagai peristiwa besar, mulai dari Piala Dunia, Olimpiade, hingga 47 pemilihan umum. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, ia lebih sering mengisi halaman opini dengan kritik sosial yang tajam. Gaya penulisannya yang berani dan sering kali kontroversial membuatnya menjadi salah satu suara paling berpengaruh di jurnalisme Inggris.
Dalam kolom perpisahannya, Hyde mengenang berbagai momen unik, termasuk insiden saat ia membawa boneka Osama bin Laden ke depan Kedutaan Prancis di London. Boneka lateks itu membawa AK-47 mainan, dan Hyde sempat ditarik masuk oleh petugas keamanan Prancis. Insiden tersebut mengundang sepuluh mobil polisi dan lima sepeda motor polisi, serta menghentikan lalu lintas di Knightsbridge. Meski tampak konyol, kejadian itu mencerminkan gaya jurnalisme yang berani dan sering kali tidak terduga pada masa itu.
Hyde juga menyoroti hubungannya dengan pembaca. Ia mengaku tidak pernah memiliki email pribadi selama bekerja di The Guardian, sehingga ia terus-menerus berinteraksi dengan pembaca yang mengirim tanggapan tentang kolomnya. Email-email tersebut, menurutnya, berkisar dari pujian hingga kritik pedas. "Jika Anda menulis opini tentang berita, pada akhirnya Anda berada dalam bisnis audiens," tulisnya, seraya menambahkan bahwa dialog dengan pembaca adalah privilese yang tak ternilai.
"Saya tidak akan menukar pengalaman ini dengan apa pun. Terima kasih yang sebesar-besarnya, para pembaca yang budiman," tulis Hyde dalam penutup kolomnya.
Selain itu, Hyde menyampaikan terima kasih kepada tim opini dan departemen hukum The Guardian. Ia mengakui bahwa dirinya sering kali menjadi "klien" yang menantang bagi tim hukum, tetapi justru dari sana ia belajar banyak. Salah satu pujian yang paling ia kenang adalah ketika seseorang di departemen hukum mengatakan bahwa orang yang paling mampu melakukan pemeriksaan hukum terhadap kolomnya adalah Hyde sendiri. "Itu mungkin pujian terbesar yang pernah saya terima," ujarnya.
Kepergian Hyde dari The Guardian menandai berakhirnya sebuah era dalam jurnalisme opini. Di tengah lanskap media yang semakin didominasi oleh metrik digital dan algoritma, gaya Hyde yang mengutamakan interaksi manusiawi dengan pembaca menjadi semakin langka. Ia tidak hanya menulis, tetapi juga membangun hubungan personal dengan audiensnya melalui surat elektronik, jauh sebelum data analitik menjadi alat ukur utama.
Bagi pembaca di Indonesia, fenomena Hyde mengingatkan pada pentingnya kolom opini yang berani dan berkarakter di media nasional. Di saat banyak media arus utama cenderung hati-hati, sosok seperti Hyde menunjukkan bahwa kritik tajam dan humor satir tetap memiliki tempat. Namun, tantangannya adalah bagaimana mempertahankan independensi dan kedekatan dengan pembaca di tengah tekanan komersial dan politik.
Ke depan, apakah The Guardian akan menemukan pengganti yang mampu mengisi kekosongan yang ditinggalkan Hyde? Atau akankah kolom opini mereka kehilangan sentuhan khas yang membuat pembaca setia? Hanya waktu yang akan menjawab, tetapi warisan Hyde akan terus dikenang sebagai contoh jurnalisme yang tidak takut mengambil risiko.



