Kategori Asian Pop Grammy Dipertanyakan: BTS Mundur, Akademi Rekaman Buka Evaluasi Ulang
Baca dalam 60 detik
- BTS memboikot Grammy 2027 karena syarat bahasa Asia dalam kategori Asian Pop dinilai memecah belah musik.
- Recording Academy mengaku telah berdialog dengan para pemangku kepentingan dan berkomitmen mengevaluasi ulang kategori tersebut.
- Langkah BTS memicu diskusi global tentang representasi dan inklusivitas dalam industri musik, termasuk di Indonesia.

Keputusan BTS untuk tidak mengirimkan karyanya ke ajang Grammy Awards 2027 memaksa Recording Academy, lembaga di balik penghargaan musik paling prestisius di dunia itu, membuka kembali perdebatan tentang kategori Asian Pop yang baru diluncurkan. CEO Harvey Mason Jr. mengakui bahwa kategori yang dirancang untuk merayakan musik pop Asia tersebut belum berjalan sesuai harapan, dan pihaknya kini menjalani serangkaian dialog intensif dengan para musisi yang merasa tidak terwakili.
Mason, dalam wawancara dengan Billboard, mengungkapkan bahwa selama dua pekan terakhir akademi telah menggelar banyak pembicaraan dengan pemangku kepentingan. Ia menegaskan, “Organisasi Grammy ada untuk melayani semua pelaku musik, dan bagian dari itu adalah memastikan tidak ada suara atau komunitas yang terlewat atau disalahpahami.” Pernyataan ini muncul setelah ketujuh anggota BTS—RM, Jimin, V, Suga, Jungkook, Jin, dan J-Hope—secara serentak mengumumkan penolakan mereka terhadap kategori yang mensyaratkan penggunaan bahasa Asia secara signifikan.
BTS, yang baru saja mencetak sejarah dengan single “Swim” menempati puncak tangga lagu Amerika Serikat, sebenarnya diprediksi kuat masuk nominasi Song of the Year. Namun, karena lirik lagu tersebut berbahasa Inggris, mereka tidak memenuhi syarat untuk kategori Asian Pop. Dalam pernyataan bersama, grup asal Korea Selatan itu menegaskan, “Kami memutuskan untuk tidak mengikuti Grammy tahun ini. Saya berharap musik dapat didengar dan dicintai apa adanya, bukan dibagi berdasarkan wilayah atau bahasa.”
Keputusan BTS ini memicu gelombang kritik terhadap Recording Academy, yang sebelumnya dituding kurang inklusif terhadap musisi non-Barat. Mason sendiri sebelumnya menghormati keputusan BTS, tetapi bersikeras bahwa kategori tersebut dibuat untuk “memperluas” pengakuan, bukan memecah belah. Namun, ia kini mengakui bahwa ada kekeliruan dalam implementasi. “Jelas bahwa, terlepas dari niat kami untuk lebih inklusif, ada beberapa seniman di ruang ini yang merasa kategori ini tidak mewakili karya yang mereka buat dengan susah payah, sesuai harapan mereka. Sebagai musisi, saya menanggapi hal ini dengan serius,” ujarnya.
Kontroversi ini memiliki resonansi kuat di Indonesia, di mana industri musik pop berbahasa daerah dan nasional terus berkembang. Banyak musisi Tanah Air, seperti yang berkarya dalam bahasa Jawa, Sunda, atau Batak, sering kali terpinggirkan dalam ajang penghargaan internasional yang lebih mengutamakan bahasa Inggris. Kasus BTS menjadi preseden bahwa penolakan terhadap kategori yang dianggap membatasi justru dapat mendorong perubahan kebijakan yang lebih adil. Pengamat musik Indonesia, seperti yang diungkapkan oleh beberapa akademisi, menilai bahwa langkah BTS adalah bentuk keberanian yang patut dicontoh, karena menempatkan integritas artistik di atas ambisi penghargaan.
Ke depan, Recording Academy menghadapi dilema: mempertahankan kategori yang dianggap memecah belah atau menghapusnya dan kembali ke sistem yang lebih universal. Mason menegaskan bahwa akademi dapat “bertindak tegas” jika diperlukan, dan berkomitmen untuk memastikan musisi “merasa benar-benar dilihat dan didengar”. Namun, pertanyaan besarnya adalah apakah perubahan yang dijanjikan akan cukup untuk mengembalikan kepercayaan BTS dan musisi Asia lainnya. Jika tidak, boikot ini bisa menjadi awal dari gerakan yang lebih luas menuntut reformasi total dalam cara Grammy menilai musik global.



