El Nino Memperparah Kebakaran Hutan di Kalimantan, Indonesia Andalkan Teknologi Modifikasi Cuaca
Baca dalam 60 detik
- Lebih dari 285.000 hektare lahan terbakar di Indonesia hingga Juli 2024, melampaui total luas kebakaran sepanjang 2023.
- Teknologi modifikasi cuaca (TMC) digencarkan, dengan 252 operasi sejak 2021, namun efektivitasnya di musim kemarau dipertanyakan.
- Para aktivis mendesak pemerintah untuk fokus pada perlindungan lahan gambut dan penegakan hukum, bukan sekadar mitigasi jangka pendek.

Kalimantan, pulau yang selama ini dijuluki paru-paru dunia, kembali dilanda kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meluas. Di tengah keganasan musim kemarau yang diperparah fenomena El Nino, pemerintah Indonesia mengandalkan teknologi modifikasi cuaca (TMC) atau yang lebih dikenal dengan istilah hujan buatan untuk menjinakkan api. Namun, langkah ini dinilai hanya solusi sementara yang tidak menyentuh akar masalah.
Data resmi pemerintah mencatat lebih dari 100.000 hektare lahan hangus pada semester pertama tahun ini. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan analisis independen dari Nusantara Atlas, sebuah lembaga pemantau deforestasi, yang menyebut luas lahan terbakar hingga Juli telah menembus 285.000 hektareโlebih dari empat kali luas Kota Jakarta. Luas tersebut bahkan telah melampaui total area yang terbakar sepanjang tahun 2023, ketika El Nino terakhir kali terjadi.
Menghadapi situasi ini, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengintensifkan operasi TMC. Sejak 2021 hingga Agustus 2024, telah dilakukan 252 operasi penyemaian awan, lompatan signifikan dibandingkan dekade sebelumnya yang hanya 85 operasi. Metode ini melibatkan penyebaran garam atau perak iodida ke dalam awan untuk memicu hujan. Meski jarang digunakan untuk memadamkan kebakaran di dunia, Indonesia menggencarkannya, mengingat pengalaman pahit karhutla 2015 yang menciptakan kabut asap regional dan mencekik negara tetangga.
"Modifikasi cuaca bukan menciptakan awan, melainkan mengoptimalkan awan yang berpotensi hujan," ujar Safillah Anggie Wahyuni, meteorolog yang baru berusia 25 tahun, setelah penerbangan di atas Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Ia mengakui bahwa teknik ini hanya efektif jika kondisi atmosfer mendukung. Sayangnya, di musim kemarau, ketersediaan awan justru sangat minim. "Efektivitasnya akan sangat rendah karena kurangnya awan," kritik I Putu Santikayasa, dosen hidroklimatologi IPB University.
Meski demikian, pemerintah tetap bersikukuh. Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Djamari Chaniago, menyatakan kesiapan puluhan helikopter dan pesawat untuk operasi TMC di seluruh Indonesia. "Kami siaga terhadap perubahan cuaca sekecil apa pun yang bisa menghasilkan awan hujan," tegasnya. Di sisi lain, upaya pemadaman di lapangan masih mengandalkan hampir 50.000 personel. Direktur Modifikasi Cuaca BMKG, Budi Harsoyo, mengakui TMC hanyalah "upaya mitigasi, bukan solusi permanen", namun ia membantah adanya dampak negatif dari penggunaan perak iodida. Penelitiannya sendiri menunjukkan operasi TMC selama 12 hari pada 2023 berhasil menggandakan curah hujan dan menghilangkan titik api.
Di balik perdebatan teknis, para aktivis lingkungan menyoroti akar persoalan: konversi besar-besaran hutan dan lahan gambut. Indonesia memiliki lahan gambut tropis yang luas, yang berfungsi sebagai penyimpan karbon penting saat basah, namun menjadi sangat mudah terbakar saat kering. Api di gambut bisa membara di bawah tanah dan kembali menyala sewaktu-waktu. Uli Arta Siagian, koordinator kampanye WALHI, menegaskan bahwa tanggung jawab perlindungan ada di tangan negara. "Negara seharusnya tidak menerbitkan izin di daerah rawan kebakaran," tegasnya. Ia menilai upaya mitigasi seperti TMC hanya mengobati gejala, bukan penyakit.
Kebakaran tahun ini diperkirakan akan semakin parah akibat El Nino yang kuat. Fenomena iklim alami ini menyebabkan kondisi lebih kering di Indonesia dan dikaitkan dengan kebakaran hebat. Kelompok aktivis 350.org memperingatkan bahwa perubahan iklim memperburuk tren ini, karena El Nino "tiba di atas suhu dasar global yang lebih tinggi, memicu cuaca ekstrem". Kabut asap yang dihasilkan pun telah memicu penutupan sekolah di Malaysia bagian Borneo, mengulang krisis regional seperti tahun 2015.
Pemerintah sebenarnya telah melarang penggunaan api untuk membuka lahan di perkebunan skala besar, namun praktik ini masih umum dan dituding sebagai penyebab utama kebakaran. Menteri Lingkungan Hidup telah meminta pemerintah daerah meningkatkan patroli dan menjatuhkan sanksi hukum bagi pembakar lahan. Selain TMC, pemerintah juga melakukan pembasahan lahan gambut dan pemantauan titik api melalui satelit.
Pertanyaannya, apakah teknologi modifikasi cuaca cukup untuk mengatasi karhutla yang kian akut? Atau justru diperlukan perubahan fundamental dalam tata kelola lahan dan penegakan hukum yang lebih tegas? Tanpa langkah preventif yang serius, siklus kebakaran dan kabut asap diprediksi akan terus berulang, mengancam kesehatan jutaan orang dan mempercepat laju perubahan iklim.



