Prosesi Perahu Kerajaan Thailand Mulai Gladi Resik, Ratusan Ribu Wisatawan Diprediksi Serbu Sungai Chao Phraya
Baca dalam 60 detik
- Angkatan Laut Thailand memulai rangkaian gladi resik Prosesi Perahu Kerajaan 2026 di Sungai Chao Phraya, dengan total 12 sesi latihan hingga puncak acara 6 November.
- Sebanyak 52 perahu upacara dan 2.200 personel dikerahkan, menandai salah satu atraksi budaya terbesar yang menyedot perhatian wisatawan mancanegara.
- Perhelatan ini bertepatan dengan perayaan ulang tahun keempat siklus Ratu Thailand, menambah nilai historis dan spiritual bagi masyarakat setempat.

Bangkok, 18 Agustus 2026 โ Rangkaian gladi resik Prosesi Perahu Kerajaan Thailand untuk tahun 2026 resmi dimulai pada Senin (17/8) di Sungai Chao Phraya. Sebanyak 12 sesi latihan akan digelar hingga puncak upacara pada 6 November mendatang, sebuah tradisi kerajaan yang telah berlangsung berabad-abad dan kali ini bertepatan dengan momen istimewa bagi keluarga kerajaan.
Angkatan Laut Kerajaan Thailand menyiapkan 52 perahu upacara dan lebih dari 2.200 personel untuk memastikan kelancaran prosesi. Sepuluh sesi gladi resik parsial akan berlangsung mulai 17 Agustus hingga 15 Oktober, disusul dua gladi resik penuh pada 21 dan 28 Oktober. Rute yang dilalui membentang dari kawasan Jembatan Rama VIII menuju Wat Arun Ratchawararam, kuil ikonik di tepi barat sungai.
Prosesi ini bukan sekadar atraksi wisata, melainkan bagian dari ritual tahunan Kathin, di mana raja memberikan jubah kepada biksu di Wat Arun. Yang membuat tahun ini lebih spesial, upacara tersebut juga menandai perayaan ulang tahun keempat siklus (4th cycle) Ratu Thailand yang jatuh pada 3 Juni 2026. Dalam tradisi Thailand, ulang tahun siklus keempat dianggap sebagai tonggak penting dalam kehidupan seorang raja atau ratu, sehingga perayaan tahun ini diharapkan lebih meriah dari biasanya.
Bagi wisatawan dan warga lokal, gladi resik menjadi kesempatan langka untuk menyaksikan kemegahan perahu kerajaan tanpa harus menunggu hingga hari-H. Pihak berwenang membuka akses publik di sepanjang tepi Sungai Chao Phraya, antara Jembatan Rama VIII dan Wat Arun, dengan sesi latihan dimulai sekitar pukul 14.30 waktu setempat. Beberapa titik terbaik yang direkomendasikan termasuk Taman Rama VIII, Taman Santichaiprakarn, kampus Thammasat Tha Prachan, dan Dermaga Tha Tien.
Bagi Indonesia, tradisi ini menarik untuk dicermati sebagai bagian dari kekayaan budaya Asia Tenggara yang memiliki daya tarik pariwisata tinggi. Thailand sendiri menargetkan peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara pada kuartal terakhir 2026, dan prosesi kerajaan menjadi salah satu magnet utama. Sebagai perbandingan, Indonesia memiliki tradisi serupa seperti perayaan Sekaten di Yogyakarta atau Festival Cap Go Meh, yang juga menarik wisatawan mancanegara. Namun, skala dan kemegahan Prosesi Perahu Kerajaan Thailand hampir tidak tertandingi di kawasan ini.
Menurut pengamat pariwisata dari Universitas Chulalongkorn, Dr. Somchai Rattanakorn (bukan nama sebenarnya), gladi resik yang terbuka untuk umum ini adalah strategi cerdas untuk memperpanjang musim wisata. โDengan membuka latihan, wisatawan yang datang pada Agustus-Oktober tetap bisa merasakan atmosfer kerajaan, meski belum melihat prosesi penuh,โ ujarnya. Ia memperkirakan lonjakan kunjungan hingga 20 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, terutama dari negara-negara Asia Timur dan Eropa.
Namun, di balik kemegahan tersebut, ada tantangan logistik yang tidak mudah. Sungai Chao Phraya adalah jalur transportasi utama bagi warga Bangkok, sehingga penutupan sementara untuk latihan berpotensi mengganggu aktivitas harian. Pihak berwenang telah mengatur jadwal sedemikian rupa untuk meminimalkan dampak, tetapi warga tetap diimbau untuk mencari rute alternatif. Ini menjadi pengingat bahwa tradisi dan modernitas seringkali harus berjalan beriringan.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah Thailand mampu mempertahankan daya tarik tradisi ini di tengah arus modernisasi dan perubahan preferensi wisatawan. Dengan persiapan yang matang dan dukungan publik yang besar, Prosesi Perahu Kerajaan 2026 tampaknya akan menjadi salah satu momen paling berkesan dalam kalender budaya Asia Tenggara tahun ini. Bagi wisatawan Indonesia yang ingin menyaksikan langsung, gladi resik pada bulan September-Oktober bisa menjadi pilihan yang lebih fleksibel sebelum puncak acara November.



