Badai Petir dan Hujan Lebat Ancam Lima Negara Bagian Malaysia, Wilayah Kuala Lumpur dan Putrajaya Siaga
Baca dalam 60 detik
- MetMalaysia mengeluarkan peringatan cuaca buruk untuk lima negara bagian serta Kuala Lumpur dan Putrajaya, berlaku hingga pukul 13.00 waktu setempat.
- Peringatan ini dikeluarkan karena potensi hujan dengan intensitas lebih dari 20 mm per jam yang dapat berlangsung lebih dari satu jam.
- Warga di wilayah terdampak diminta waspada terhadap kemungkinan banjir kilat dan pohon tumbang akibat angin kencang.

Badai petir disertai hujan lebat dan angin kencang diprediksi melanda sejumlah wilayah di Malaysia pada Selasa (18/8). Departemen Meteorologi Malaysia (MetMalaysia) mengeluarkan peringatan dini yang mencakup lima negara bagian, termasuk wilayah federal Kuala Lumpur dan Putrajaya, dengan masa berlaku hingga pukul 13.00 waktu setempat.
Peringatan ini dikeluarkan setelah terdeteksi adanya potensi pembentukan awan cumulonimbus yang signifikan di wilayah utara dan tengah Semenanjung Malaysia. Di kawasan utara, seluruh wilayah Penang berstatus waspada, sementara di Kedah, dua daerah yakni Kuala Muda dan Yan turut masuk dalam daftar. Di Perak, peringatan awal berlaku untuk Bagan Datuk hingga tengah hari, dan diperpanjang hingga pukul 13.00 untuk beberapa daerah lain seperti Kerian, Larut Matang, Selama, Manjung, Perak Tengah, dan Hilir Perak.
Sementara itu, di kawasan tengah, hujan deras diperkirakan mengguyur sejumlah daerah di Selangor, antara lain Klang, Kuala Langat, Sepang, Kuala Selangor, Petaling, Sabak Bernam, dan Gombak. Wilayah Kuala Lumpur dan Putrajaya juga tidak luput dari peringatan ini. MetMalaysia menetapkan status siaga ketika indikasi hujan dengan intensitas melebihi 20 milimeter per jam diprediksi berlangsung lebih dari satu jam.
Peringatan cuaca ini merupakan bagian dari sistem peringatan dini yang dikeluarkan MetMalaysia untuk mengantisipasi potensi bencana hidrometeorologi. Meski bersifat jangka pendek, dampaknya bisa signifikan, terutama bagi aktivitas perkotaan yang padat seperti di Kuala Lumpur dan kawasan industri di Selangor. Genangan air dan gangguan lalu lintas sering kali menjadi konsekuensi langsung dari hujan deras dalam durasi singkat.
Bagi warga yang beraktivitas di luar ruangan, imbauan untuk menghindari area terbuka dan berteduh di tempat aman menjadi penting. Angin kencang yang menyertai badai petir juga berpotensi merobohkan pohon atau menerbangkan benda-benda ringan. Pihak berwenang setempat biasanya bersiaga untuk menghadapi kemungkinan banjir kilat di titik-titik rawan, terutama di daerah perkotaan dengan drainase yang kurang optimal.
Fenomena cuaca ekstrem seperti ini bukan hal baru di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Di Indonesia, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kerap mengeluarkan peringatan serupa, terutama saat memasuki musim pancaroba. Masyarakat di wilayah perkotaan seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan juga sering menghadapi risiko banjir kilat akibat hujan dengan intensitas tinggi dalam waktu singkat. Oleh karena itu, pola peringatan dini seperti yang dilakukan MetMalaysia menjadi contoh penting dalam upaya mitigasi bencana di kawasan ini.
MetMalaysia mengeluarkan peringatan ini pada pukul 10.00 pagi waktu setempat. Publik diimbau untuk memantau perkembangan informasi cuaca melalui kanal resmi dan mengambil langkah antisipasi yang diperlukan. Pertanyaannya, apakah sistem peringatan dini di negara-negara ASEAN sudah cukup responsif untuk menghadapi intensitas cuaca ekstrem yang semakin tidak menentu akibat perubahan iklim?



