Genting: Imbal Hasil Obligasi AS Tembus Rekor, Harga Minyak Menguat Saat Gencatan Senjata AS-Iran Berakhir
Baca dalam 60 detik
- Imbal hasil obligasi AS 30 tahun menembus level tertinggi dalam 20 tahun, menandakan kekhawatiran pasar terhadap ketegangan geopolitik dan inflasi.
- Berakhirnya gencatan senjata AS-Iran memicu aksi jual aset berisiko di Asia, dengan indeks saham utama melemah dan harga minyak melanjutkan reli.
- Kondisi ini berpotensi menekan nilai tukar rupiah dan arus modal asing, serta mendorong Bank Indonesia untuk lebih waspada dalam menjaga stabilitas pasar keuangan domestik.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS melonjak ke level tertinggi dalam dua dekade pada perdagangan Selasa (18/8), sementara harga minyak mentah menguat untuk hari ketiga berturut-turut. Pergerakan ini terjadi setelah gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran resmi berakhir, dengan Teheran mengancam akan mengadopsi postur militer yang sepenuhnya ofensif. Kondisi ini memicu aksi jual di pasar saham Asia yang sebelumnya sempat menguat di awal perdagangan.
Imbal hasil obligasi AS bertenor 30 tahun tercatat naik 1,1 basis poin ke level 5,321 persen, level tertinggi sejak hampir dua dekade terakhir. Sementara itu, imbal hasil obligasi bertenor 10 tahun naik tipis 0,4 basis poin ke 4,724 persen. Kenaikan imbal hasil ini mencerminkan kekhawatiran investor terhadap meningkatnya pasokan obligasi dan ketidakpastian geopolitik yang berkepanjangan.
Analis ING mencatat bahwa biasanya kenaikan imbal hasil di atas 4,65 persen untuk obligasi AS bertenor 10 tahun selalu diikuti oleh pernyataan menenangkan dari pemerintahan Trump, yang berfokus pada resolusi perang dengan Iran. Namun, kali ini nada yang berbeda terdengar. "Kali ini, kami tidak mendengar hal yang sama. Faktanya, indikasi terbaru menunjukkan tidak ada resolusi dalam waktu dekat karena gencatan senjata 60 hari yang rapuh telah berakhir," tulis mereka dalam catatan riset.
Di pasar saham, indeks S&P 500 e-mini futures turun 0,2 persen, sementara indeks MSCI untuk saham Asia Pasifik di luar Jepang melemah 0,3 persen, membalikkan penguatan awal yang didorong oleh pelemahan saham Taiwan dan China. Indeks KOSPI Korea Selatan yang sempat menguat lebih dari 3 persen di awal perdagangan, berakhir flat setelah pasar kembali dibuka setelah libur. Sementara itu, indeks Nikkei 225 Jepang jatuh 1,6 persen.
Harga minyak mentah Brent naik 0,4 persen menjadi US$91,20 per barel, memperpanjang reli selama tiga hari berturut-turut. Kenaikan ini didorong oleh kekhawatiran pasokan akibat ketegangan di Timur Tengah. Analis MUFG menyoroti bahwa fokus utama pasar global saat ini adalah kenaikan imbal hasil di negara maju yang berkepanjangan, terutama aksi jual besar-besaran di obligasi AS.
Di Jepang, imbal hasil obligasi pemerintah bertenor 10 tahun naik 2 basis poin ke 2,94 persen, level tertinggi dalam tiga dekade. Pelemahan di pasar obligasi global ini juga berdampak pada pasar keuangan domestik. Di Wall Street, S&P 500 dan Nasdaq masing-masing melemah 0,5 persen dan 0,3 persen setelah data ekonomi AS yang lemah, termasuk penurunan penjualan ritel yang tak terduga, mendorong pelaku pasar mengurangi ekspektasi penurunan suku bunga oleh Federal Reserve.
Analis Westpac mencatat bahwa pasar mengadopsi nada risk-off secara umum setelah Presiden Trump menegaskan tidak tertarik memperpanjang gencatan senjata dengan Iran. Dolar AS menguat tipis 0,1 persen ke level 99,60, sementara emas turun 0,3 persen ke US$4.402,89 per ons, memutus kenaikan dua hari berturut-turut. Di pasar kripto, bitcoin dan ether masing-masing turun 0,3 persen ke US$64.159,76 dan US$1.899,34.
Bagi Indonesia, kondisi ini menjadi sinyal waspada. Kenaikan imbal hasil obligasi AS berpotensi memperlebar selisih imbal hasil dengan obligasi Indonesia, yang dapat memicu arus modal keluar dan menekan nilai tukar rupiah. Bank Indonesia perlu mencermati pergerakan ini untuk menjaga stabilitas pasar keuangan domestik. Selain itu, kenaikan harga minyak dapat menambah tekanan pada inflasi dan defisit transaksi berjalan, mengingat Indonesia merupakan importir minyak. Pemerintah perlu mengantisipasi dampak lanjutan dari ketidakpastian geopolitik ini terhadap perekonomian nasional.
Ke depan, pasar akan terus memantau perkembangan negosiasi AS-Iran dan data ekonomi AS. Pertanyaannya, akankah ketegangan ini mereda dengan adanya intervensi diplomatik, atau justru memicu gejolak yang lebih dalam di pasar keuangan global? Jawabannya akan menentukan arah pergerakan aset berisiko, termasuk di Indonesia.



