Negosiasi Dagang Kanada-AS Hampir Final: Ottawa Yakin Hindari Tarif Baru Trump
Baca dalam 60 detik
- Perunding utama Kanada menyatakan progres signifikan dalam dialog dagang dengan AS untuk mencegah penerapan tarif baru.
- Kesepakatan yang hampir final ini berpotensi mengamankan arus perdagangan bilateral senilai miliaran dolar dan meredakan ketegangan ekonomi kawasan.
- Jika terealisasi, perjanjian ini bisa menjadi preseden bagi negara lain, termasuk Indonesia, dalam menghadapi kebijakan proteksionisme AS.

Kanada dan Amerika Serikat berada di ambang kesepakatan dagang yang dapat menghentikan rencana penerapan tarif baru yang sebelumnya mengancam stabilitas ekonomi kawasan. Pernyataan ini disampaikan langsung oleh negosiator utama Kanada, Dominic LeBlanc, yang memimpin delegasi Ottawa dalam pertemuan dengan Perwakilan Dagang AS, Jamieson Greer, di Washington pekan ini.
LeBlanc, yang juga menjabat sebagai Menteri yang bertanggung jawab atas hubungan dagang Kanada-AS, mengungkapkan bahwa kedua pihak telah mencapai kemajuan nyata dalam sejumlah isu krusial. Meski detail teknis masih dirahasiakan, sumber internal menyebut pembahasan mencakup aturan asal-usul barang, akses pasar untuk produk pertanian, serta mekanisme penyelesaian sengketa yang lebih transparan. Ini adalah perkembangan yang dinanti pelaku bisnis di kedua negara, mengingat tarif baru yang sempat diwacanakan dapat memukul sektor otomotif, aluminium, dan produk susu Kanada.
Bagi Kanada, kesepakatan ini bukan sekadar soal ekonomi, melainkan juga politik domestik. Pemerintah PM Justin Trudeau tengah berupaya menunjukkan kemampuan diplomasi di tengah tekanan oposisi yang mengkritik pendekatan lunak terhadap Washington. Di sisi lain, AS juga berkepentingan menjaga hubungan dagang dengan tetangga terdekatnya, terutama menjelang siklus politik dalam negeri yang semakin memanas. Dengan nilai perdagangan bilateral yang mencapai lebih dari US$700 miliar per tahun, setiap ketidakpastian tarif akan langsung berdampak pada rantai pasok dan harga konsumen.
Konteks Indonesia: Perkembangan ini menjadi sinyal penting bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, yang kerap menjadi sasaran kebijakan proteksionisme AS. Jika Kanada berhasil mengamankan kesepakatan yang saling menguntungkan, hal itu dapat menjadi model diplomasi dagang yang lebih efektif. Indonesia sendiri tengah menjajaki perjanjian dagang dengan AS melalui kerangka Indo-Pacific Economic Framework (IPEF), dan hasil negosiasi Kanada-AS bisa memberikan pelajaran berharga tentang strategi negosiasi dan kompromi yang realistis.
โKami sangat dekat dengan kesepakatan yang akan menguntungkan kedua negara. Ini bukan tentang menang atau kalah, tetapi tentang menciptakan kepastian bagi pekerja dan bisnis di kedua sisi perbatasan,โ ujar LeBlanc dalam konferensi pers singkat usai pertemuan.
Namun, sejumlah analis mengingatkan bahwa kesepakatan ini belum final. Masih ada perbedaan pandangan soal tarif baja dan aluminium yang sempat memicu sengketa di masa lalu. Selain itu, tekanan politik dari kelompok industri dalam negeri AS yang menginginkan perlindungan lebih ketat masih menjadi hambatan. Meski demikian, optimisme dari kedua pihak menunjukkan adanya keinginan kuat untuk menghindari perang dagang yang merugikan.
Ke depan, publik menantikan apakah kesepakatan ini akan ditandatangani sebelum tenggat waktu yang ditetapkan, dan bagaimana implementasinya di lapangan. Jika berhasil, ini akan menjadi kemenangan diplomasi bagi Ottawa dan membuka babak baru hubungan dagang bilateral. Pertanyaannya, akankah negara-negara lain mampu meniru pendekatan Kanada, atau justru semakin terdesak oleh kebijakan tarif AS yang agresif?



