Dorong Inovasi Lokal, Malaysia Tinggalkan Model Murah: Pelajaran bagi RI
Baca dalam 60 detik
- Menteri Koperasi Malaysia, Steven Sim, meminta pelaku usaha beralih dari sekadar produksi murah ke inovasi berbasis talenta lokal.
- Program PowerUp10K telah mengucurkan RM9 miliar untuk 250.000 wirausaha, menandai pergeseran strategi ekonomi nasional.
- Langkah ini menjadi sinyal bagi Indonesia untuk memperkuat daya saing di tengah persaingan regional yang semakin ketat.

KUALA LUMPUR — Malaysia secara eksplisit menolak masa depan ekonominya yang bertumpu pada upah murah dan persaingan harga. Menteri Pengembangan Kewirausahaan dan Koperasi, Steven Sim, menyerukan transformasi paradigma dari sekadar produk berlabel 'Made in Malaysia' menjadi karya yang lahir dari kecerdasan, desain, dan inovasi anak bangsa—sebuah model yang ia sebut 'Made by Malaysia'. Seruan ini bukan sekadar retorika, melainkan respons atas derasnya arus disrupsi teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI), yang mengubah peta persaingan global secara fundamental.
Dalam pidatonya pada pembukaan BrandQuest Programme 2026 di Kuala Lumpur, Selasa (18/8), Sim menggarisbawahi bahwa model bisnis lama yang mengandalkan biaya produksi rendah sudah usang. Ia mencontohkan bagaimana siklus hidup teknologi AI kini begitu pendek—sebuah langganan layanan AI bisa menjadi usang hanya dalam hitungan minggu karena kompetitor meluncurkan versi yang lebih canggih. Kondisi ini memaksa perusahaan untuk terus mengejar ketertinggalan, sebuah perlombaan yang menurutnya hanya akan menguras sumber daya tanpa henti.
Lebih jauh, Sim menyoroti bahaya laten dari perang harga yang selama ini menjadi andalan. "Kompetisi ini hanya akan mengarah ke satu arah—ke bawah—dan pada akhirnya kita tidak akan lagi memiliki keunggulan harga yang kompetitif," ujarnya. Ia menilai bahwa persaingan berbasis biaya murah tidak hanya merugikan margin keuntungan, tetapi juga menghambat investasi pada riset dan pengembangan. Alih-alih terus berjibaku dengan perang diskon, Sim mendorong agar merek Malaysia dibangun di atas nilai tambah, keamanan produk, dan jaminan kesehatan—sebuah fondasi yang lebih kokoh di tengah ketidakpastian global.
Menariknya, Sim justru melihat gejolak global sebagai peluang emas. Di tengah ketidakstabilan geopolitik dan ekonomi dunia, Malaysia dapat memposisikan diri sebagai destinasi bisnis yang aman dan terpercaya. "Kesempatan terbaik bagi merek Malaysia saat ini adalah merefleksikan nilai, keamanan, dan kesehatan, bukan sekadar harga. Kita harus bergerak melampaui imitasi menuju inovasi," tegasnya. Pernyataan ini mengisyaratkan adanya pergeseran strategi dari sekadar mengejar volume ekspor menjadi membangun reputasi sebagai produsen berkualitas.
Untuk mewujudkan ambisi tersebut, pemerintah Malaysia tidak hanya berhenti pada imbauan. Melalui program andalan PowerUp10K, pemerintah menargetkan penyaluran pembiayaan hingga RM15 miliar (sekitar Rp52 triliun) bagi wirausaha lokal hingga akhir tahun. Hingga Juli 2026, sudah ada RM9 miliar yang disetujui dan disalurkan kepada 250.000 pengusaha di seluruh negeri. Dana ini dirancang tidak hanya untuk membantu usaha bertahan, tetapi juga untuk mendorong ekspansi, inovasi, dan kenaikan kelas di rantai nilai. Selain itu, SME Corp Malaysia telah mengalokasikan RM230.000 untuk membantu usaha kecil menengah (UKM) memperoleh sertifikasi bisnis di bawah program Malaysian Brand, yang telah dimanfaatkan oleh sekitar 40 perusahaan pada 2025-2026.
Langkah Malaysia ini memberikan pelajaran berharga bagi Indonesia. Sebagai negara dengan basis manufaktur yang besar, Indonesia masih bergulat dengan isu serupa: ketergantungan pada tenaga kerja murah dan persaingan harga yang seringkali mengorbankan kualitas. Padahal, di tengah dinamika rantai pasok global yang bergeser, negara-negara seperti Vietnam dan Bangladesh juga berlomba menawarkan biaya produksi rendah. Jika Indonesia tidak segera bertransformasi menuju ekonomi berbasis inovasi, bukan tidak mungkin posisinya akan tergerus oleh negara-negara yang lebih adaptif terhadap teknologi.
Pertanyaan yang kemudian mengemuka: apakah Indonesia memiliki keberanian untuk mengambil langkah serupa? Program-program seperti Making Indonesia 4.0 dan berbagai insentif riset telah digaungkan, namun eksekusi di lapangan masih sering tersendat. Keberhasilan Malaysia dalam mengucurkan dana besar secara cepat dan tepat sasaran bisa menjadi pembanding sekaligus pemacu. Jika Indonesia mampu meniru—bahkan melampaui—komitmen finansial dan kebijakan yang mendukung inovasi, bukan tidak mungkin dalam satu dekade ke depan, merek-merek Indonesia akan lebih dikenal karena kualitas dan kreativitasnya, bukan sekadar karena harganya yang murah.



