FIA Ungkap Penyebab Mobil F1 Mati Mendadak di Lintasan Basah Malaysia
Baca dalam 60 detik
- FIA menyatakan bug perangkat lunak pada unit daya menjadi biang keladi insiden pembekuan mobil di Sirkuit Sepang.
- Kurangnya pengujian dalam kondisi basah membuat tim teknis tidak siap menghadapi reaksi tak terduga saat mobil melaju sangat lambat.
- Insiden ini memicu pertanyaan tentang kesiapan regulasi teknis baru F1 yang mengandalkan 47% tenaga listrik.

Federasi Otomotif Internasional (FIA) akhirnya membuka penyebab di balik insiden yang membuat sejumlah mobil Formula 1 berhenti mendadak pada balapan Grand Prix Bahrain di Sirkuit Sepang, Malaysia, akhir pekan lalu. Bug pada perangkat lunak unit daya membuat input gas tidak berfungsi ketika mobil melaju sangat pelan di bawah guyuran hujan deras.
Balapan yang semestinya dimulai tepat waktu harus ditunda 40 menit akibat hujan lebat. Saat lap formasi, pembalap baris depan Max Verstappen dan Lewis Hamilton mengalami masalah yang sama: mobil mereka kehilangan respons terhadap pedal gas. Beberapa mobil lain ikut terhenti, memaksa pengibaran bendera merah. Sergio Perez menyebut situasi itu "tidak dapat diterima", sementara Lando Norris menilainya "sangat buruk" dan bukti bahwa "kita seharusnya tidak memiliki semua perangkat elektronik itu" โ merujuk pada sistem tenaga hibrida generasi terbaru F1 yang menyumbang 47% tenaga listrik.
Nikolas Tombazis, perwakilan FIA untuk kursi tunggal, menjelaskan bahwa F1 belum pernah menjalani sesi kompetitif dalam kondisi basah sepanjang musim ini. Akibatnya, reaksi unit daya terhadap mobil yang bergerak sangat lambat โ nyaris berhenti โ tidak terprediksi. "Kami tidak dapat menguji perangkat lunak secara ekstensif karena sangat sedikit kesempatan berlari di lintasan basah tahun ini," ujarnya. "Kombinasi keadaan memicu bug ini."
Menurut Tombazis, efek akordeon antar mobil di lap formasi membuat beberapa kendaraan hampir berhenti total. Bug tersebut mencegah tenaga listrik dialirkan kembali, sehingga mobil tidak bisa bergerak lagi. "Jika ada lebih banyak pengujian, kami mungkin bisa menangkapnya lebih awal," tambahnya. Ia memuji respons cepat tim teknis FIA yang dalam waktu sekitar 20 menit menyiapkan pembaruan perangkat lunak dan mengirimkannya ke tim untuk dipasang di mobil. "Bagi penonton, 20 menit mungkin terasa seperti lima jam. Kami minta maaf, tetapi reaksi kami terbilang cepat."
"Saya mengalami 50% DNF tahun ini, dan mereka tidak pernah menghentikan balapan untuk kami," canda Fernando Alonso, pembalap Aston Martin-Honda yang finis kedelapan.
Insiden ini menyoroti tantangan transisi teknologi hibrida di F1. Ketergantungan pada perangkat lunak yang kompleks dan minimnya data pengujian basah menciptakan celah yang bisa berujung pada gangguan balapan. Meski FIA telah memperbaiki masalah, pertanyaan tentang kesiapan sistem elektronik di kondisi ekstrem tetap terbuka. Pembalap dan tim menuntut jaminan bahwa kejadian serupa tidak terulang, terutama menjelang balapan di sirkuit yang rawan hujan seperti Sepang dan Suzuka.
Bagi Indonesia, yang tengah mengembangkan sirkuit internasional dan berambisi menjadi tuan rumah balapan kelas dunia, pelajaran ini relevan. Investasi pada infrastruktur dan teknologi balap harus diimbangi dengan pengujian menyeluruh dalam berbagai kondisi cuaca tropis. Kegagalan perangkat lunak bukan hanya soal prestise, tetapi juga keselamatan dan kredibilitas penyelenggara. FIA perlu memastikan bahwa regulasi teknis tidak hanya mengejar inovasi, tetapi juga keandalan di lintasan basah.
Ke depan, apakah FIA akan mengubah protokol pengujian untuk kondisi basah? Atau akankah tim diberikan kebebasan lebih besar dalam menyesuaikan perangkat lunak? Jawabannya akan menentukan arah kompetisi F1 musim depan.



