IHSG Tertekan, Pasar Asia Cemas: Konflik Timur Tengah dan Imbal Hasil Obligasi AS Kembali Mengguncang Bursa Tokyo
Baca dalam 60 detik
- Indeks Nikkei dan Topix dibuka melemah pada perdagangan Jumat, dipicu kekhawatiran eskalasi konflik di Timur Tengah dan rebound imbal hasil obligasi pemerintah AS.
- Investor global cenderung mengambil untung di akhir pekan, sementara rencana pembelian kembali obligasi jangka panjang oleh Departemen Keuangan AS dinilai hanya solusi jangka pendek.
- Penguatan dolar AS ke kisaran 159 yen menjadi sinyal risk-off yang berpotensi memengaruhi arus modal asing ke pasar emerging market, termasuk Indonesia.

Bursa saham Tokyo dibuka dengan nada negatif pada Jumat pagi (21/8/2026), ketika sentimen pelaku pasar kembali diliputi kecemasan akan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta rebound imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat. Kondisi ini memangkas optimisme yang sempat terbangun sehari sebelumnya, ketika penurunan imbal hasil obligasi sempat mendorong aksi beli di lantai bursa.
Indeks Nikkei 225 tercatat anjlok 208,34 poin atau 0,31 persen ke level 66.008,45, sementara indeks Topix yang lebih luas melemah 5,07 poin atau 0,12 persen ke posisi 4.054,66. Pelemahan ini terjadi di tengah kekhawatiran bahwa gangguan pasokan minyak akibat konflik dapat memicu inflasi dan menggerus laju ekonomi global.
Para dealer di Tokyo menilai bahwa rencana Departemen Keuangan AS untuk melipatgandakan pembelian kembali obligasi jangka panjang hanyalah solusi sementara yang tidak mampu menjawab akar permasalahan fiskal. Di sisi lain, investor cenderung mengunci keuntungan di akhir pekan, terutama menjelang konferensi pers Menteri Keuangan AS Scott Bessent yang dijadwalkan Senin mendatang untuk memaparkan apa yang disebutnya sebagai "sanksi paling keras dalam sejarah" terhadap Iran.
Di pasar valuta asing, dolar AS bergerak di sekitar level 159 yen di Tokyo, mencerminkan minimnya sentimen baru yang mampu menggerakkan pasar. Pada tengah hari, dolar diperdagangkan pada 158,96โ97 yen, dibandingkan dengan 159,03โ13 yen di New York dan 158,44โ45 yen di Tokyo pada penutupan Kamis sore. Sementara itu, euro bertengger di $1,1696 dan 185,92โ94 yen, dengan pergerakan yang relatif stabil.
Bagi pasar Indonesia, gejolak di bursa Tokyo dan penguatan dolar AS menjadi sinyal yang patut dicermati. Penguatan greenback berpotensi menekan nilai tukar rupiah dan memicu arus modal keluar dari pasar obligasi dan saham domestik. Analis memperkirakan, jika ketegangan di Timur Tengah terus berlanjut, harga minyak mentah berpotensi naik, yang pada gilirannya akan menambah tekanan inflasi di negara-negara importir minyak seperti Indonesia.
"Investor global sedang dalam mode risk-off, dan ini biasanya berdampak pada pasar emerging market. Indonesia perlu waspada terhadap potensi pelepasan aset oleh investor asing," ujar seorang analis pasar di Jakarta, yang enggan disebutkan namanya.
Ke depan, pasar akan mencermati pernyataan resmi Bessent mengenai sanksi terhadap Iran, serta data ekonomi AS yang dijadwalkan rilis pekan depan. Jika sanksi tersebut benar-benar diimplementasikan secara agresif, harga minyak bisa melonjak dan memicu volatilitas di pasar keuangan global. Pertanyaannya, akankah bank sentral di kawasan Asia, termasuk Bank Indonesia, merespons dengan kebijakan yang lebih hawkish untuk menahan dampak inflasi?



