IHSG Anjlok 1,62%: Perang AS-Iran dan Inflasi Global Kembali Hantui Pasar Asia
Baca dalam 60 detik
- Indeks Nikkei 225 dibuka melemah tajam setelah negosiasi AS-Iran gagal mencapai kesepakatan, memicu aksi jual di pasar saham Tokyo.
- Kekhawatiran inflasi akibat kenaikan harga minyak mentah di atas US$80 per barel turut menekan imbal hasil obligasi global, termasuk Jepang.
- Eskalasi geopolitik Timur Tengah berpotensi memicu gejolak pasar keuangan Indonesia, terutama nilai tukar rupiah dan sektor energi.

Bursa saham Tokyo dibuka dengan penurunan signifikan pada Selasa pagi (18/8), ketika pasar merespons negatif kebuntuan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran serta kekhawatiran inflasi yang kembali menguat. Indeks Nikkei 225 ambles 1.121,71 poin atau 1,62 persen ke level 68.098,54, sementara indeks Topix yang lebih luas terkoreksi 19,00 poin atau 0,45 persen ke posisi 4.165,11.
Tekanan jual dipicu oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menegaskan tidak akan memperpanjang nota kesepahaman dengan Iran yang berakhir pada Senin (17/8). Pernyataan tersebut langsung membebani berbagai sektor saham, terutama yang terkait dengan energi dan properti. Beberapa saham real estat bahkan menyentuh titik terendah tahun ini, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap dampak kenaikan biaya modal.
Di pasar komoditas, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak di atas US$80 per barel, mendorong imbal hasil obligasi pemerintah Jepang bertenor 10 tahun naik ke level 2,945 persen, tertinggi sejak Oktober 1996. Kenaikan ini sejalan dengan pergerakan imbal hasil Treasury AS yang dipicu oleh kekhawatiran pasokan minyak yang tidak stabil. Kondisi ini menciptakan tekanan ganda bagi pasar saham: biaya pinjaman yang lebih tinggi dan potensi perlambatan ekonomi.
Di pasar valuta asing, dolar AS diperdagangkan di kisaran 159,45-47 yen pada siang hari, didukung oleh permintaan safe-haven di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Euro juga menunjukkan pergerakan tipis, diperdagangkan di level US$1,1580 dan 184,65-66 yen. Penguatan dolar terhadap yen mencerminkan aliran modal ke aset aman, yang biasanya menjadi indikator meningkatnya risiko geopolitik.
Bagi pasar Indonesia, eskalasi konflik di Timur Tengah dan kenaikan harga minyak memiliki implikasi langsung. Sebagai negara pengimpor minyak, Indonesia akan menghadapi tekanan pada neraca perdagangan dan nilai tukar rupiah. Kenaikan harga minyak juga berpotensi mendorong inflasi domestik, yang dapat mempengaruhi kebijakan moneter Bank Indonesia. Investor domestik perlu mencermati pergerakan rupiah dan sektor energi, yang seringkali menjadi barometer sentimen pasar terhadap risiko geopolitik.
Analis memperkirakan bahwa ketidakpastian politik di kawasan akan terus membayangi pasar keuangan Asia dalam jangka pendek. Jika negosiasi AS-Iran tidak menemui titik terang, volatilitas harga minyak dan imbal hasil obligasi dapat meningkat lebih lanjut. Sebaliknya, jika ada sinyal de-eskalasi, pasar berpotensi mengalami rebound teknis. Pertanyaannya, mampukah investor global menahan gejolak ini, atau justru akan terjadi koreksi yang lebih dalam?



