16 Pendaki Dievakuasi dari Gunung Bawakaraeng: Hipotermia dan Kelelahan Ekstrem Warnai Peringatan HUT RI
Baca dalam 60 detik
- Sebanyak 16 pendaki dievakuasi dari Gunung Bawakaraeng, Sulawesi Selatan, akibat hipotermia dan cedera saat peringatan HUT ke-81 RI.
- Operasi penyelamatan melibatkan 295 personel gabungan, menyusul lonjakan pendaki yang mencapai 3.786 orang untuk upacara bendera di puncak.
- Insiden ini mengulang kejadian tahun lalu yang menewaskan satu pendaki, menyoroti perlunya manajemen pendakian yang lebih ketat.

Sebanyak 16 pendaki harus dievakuasi dari Gunung Bawakaraeng, Sulawesi Selatan, setelah mengalami hipotermia, cedera kaki, dan kelelahan parah saat mengikuti pendakian dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia. Evakuasi dilakukan bertahap sejak Senin (17/8) malam oleh tim gabungan yang diterjunkan ke lokasi.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Makassar, Muhammad Arif Anwar, mengatakan mayoritas korban menunjukkan gejala hipotermia akibat suhu dingin ekstrem di ketinggian. "Sebagian besar yang dievakuasi mengalami gejala hipotermia karena cuaca dingin, cedera kaki, dan kelelahan fisik yang berat," ujarnya kepada Antara. Dari 16 pendaki yang terdampak, delapan orang telah dievakuasi pada Senin pagi dan dilaporkan dalam kondisi baik setelah dibawa ke pos pendaftaran Bulu Balea.
Gunung Bawakaraeng, yang memiliki ketinggian 2.830 meter di atas permukaan laut dan terletak di Kabupaten Gowa, menjadi tujuan pendakian massal untuk upacara pengibaran bendera. Sebanyak 3.786 pendaki tercatat mendaftar untuk mengikuti kegiatan tersebut. Lonjakan jumlah pendaki yang signifikan ini meningkatkan risiko kecelakaan, terutama di jalur yang terjal dan cuaca yang tidak menentu.
Tim SAR memantau pergerakan pendaki di empat jalur menuju puncak dan melakukan patroli rutin. Operasi siaga yang berlangsung 15โ18 Agustus ini melibatkan personel Basarnas, komunitas SAR, relawan, dan tim medis. Mereka disiagakan untuk memberikan pertolongan cepat jika terjadi keadaan darurat. Arif mengimbau para pendaki untuk mengutamakan keselamatan, memantau kondisi fisik, dan tidak memaksakan diri mencapai puncak. Ia juga menekankan pentingnya membawa perlengkapan yang memadai untuk melindungi diri dari hawa dingin.
Insiden ini menyoroti tantangan besar dalam pengelolaan pendakian gunung di Indonesia, terutama saat momen-momen puncak seperti perayaan kemerdekaan. Lonjakan jumlah pendaki yang tidak diimbangi dengan kesiapan fisik dan perlengkapan yang memadai sering kali berujung pada kecelakaan. Tahun lalu, operasi serupa mengevakuasi 65 pendaki, sebagian besar karena hipotermia, dan satu orang meninggal dunia. Angka ini menunjukkan bahwa masalah ini bukan sekadar insiden tahunan, melainkan gejala dari kurangnya edukasi dan penegakan aturan pendakian.
Ke depan, perlu ada evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan pendakian gunung, termasuk pembatasan kuota, pemeriksaan kelayakan fisik, dan kewajiban perlengkapan standar. Pertanyaannya, akankah pihak berwenang mengambil langkah tegas untuk mencegah terulangnya tragedi serupa, atau justru membiarkan risiko ini terus menghantui para pencinta alam? Jawabannya akan menentukan keselamatan ribuan pendaki di masa mendatang.



