Banjir Bandang Landa Korea Selatan: 2.500 Laporan Kerusakan, Satu Tewas
Baca dalam 60 detik
- Hujan ekstrem di wilayah tenggara Korea Selatan memicu 2.574 laporan kerusakan dan 162 operasi penyelamatan hingga Selasa pagi.
- Longsor di Geoje menewaskan satu orang dan melukai empat lainnya, memaksa lebih dari 560 warga mengungsi di tiga wilayah.
- Curah hujan mencapai 956 mm di Geoje, memicu pembatasan akses di taman nasional dan area rawan, sementara transportasi mulai pulih.

Banjir dan tanah longsor akibat hujan deras yang memecahkan rekor melanda wilayah tenggara Korea Selatan sejak akhir pekan, memicu lebih dari 2.500 laporan kerusakan dan menewaskan sedikitnya satu orang. Pusat Penanggulangan Bencana dan Keselamatan Korea Selatan mencatat 2.574 laporan kerusakan hingga Selasa (18/8) pukul 06.00 waktu setempat, termasuk rumah dan jalan tergenang serta pohon tumbang. Dari jumlah tersebut, 162 di antaranya merupakan operasi penyelamatan.
Hujan lebat yang mengguyur Provinsi Gyeongsang Selatan dan daerah sekitarnya sejak Sabtu telah menyebabkan satu kematian dan empat luka-luka. Insiden paling mematikan terjadi di kota Geoje, di mana tanah longsor menerjang sebuah gedung apartemen pada Minggu (17/8), menewaskan satu orang dan melukai dua lainnya. Dua korban luka lainnya dilaporkan akibat kejadian terpisah yang dipicu cuaca ekstrem.
Otoritas setempat mengevakuasi lebih dari 560 warga dari Provinsi Gyeongsang Selatan, kota Busan, dan Pulau Jeju di selatan. Hingga Selasa pagi, 316 orang telah diperbolehkan kembali ke rumah, sementara 248 lainnya masih mengungsi di tempat penampungan sementara. Selain banjir dan longsor, laporan kerusakan juga mencakup pemadaman listrik dan gangguan pasokan air bersih di sejumlah wilayah.
Meski peringatan hujan lebat telah dicabut, otoritas masih membatasi akses ke 255 seksi di tiga taman nasional dan 306 area berbahaya, seperti jalur pejalan kaki di tepi sungai dan jembatan rendah. Langkah ini diambil untuk mencegah risiko lanjutan, mengingat tanah yang jenuh air masih rawan longsor. Sementara itu, layanan kereta api, penerbangan, dan feri dilaporkan telah beroperasi normal kembali.
Bencana ini menjadi pengingat akan meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem di kawasan Asia Timur, yang juga berdampak pada Indonesia. Meski secara geografis berbeda, pola curah hujan tinggi yang memicu banjir dan longsor kerap terjadi di Tanah Air, terutama di daerah dengan topografi curam. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah berulang kali memperingatkan potensi bencana hidrometeorologi akibat perubahan iklim, sehingga langkah mitigasi seperti pemetaan daerah rawan longsor dan sistem peringatan dini menjadi krusial.
Menurut analis kebencanaan, respons cepat Korea Selatan dalam evakuasi dan penanganan darurat menunjukkan pentingnya kesiapsiagaan. Namun, dengan intensitas hujan yang semakin ekstrem, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah infrastruktur dan tata ruang di berbagai negara, termasuk Indonesia, mampu beradaptasi dengan pola cuaca baru. Ke depan, investasi dalam sistem drainase perkotaan, restorasi ekosistem, dan edukasi publik akan menjadi kunci untuk mengurangi dampak bencana serupa.



