Aktivitas Air di Pandan Reservoir Dihentikan Sementara Usai Penampakan Buaya Muara
Baca dalam 60 detik
- PUB Singapura menghentikan sementara seluruh aktivitas air di Pandan Reservoir setelah seekor buaya muara terlihat di perairan tersebut.
- Operasi pencarian dan penangkapan melibatkan PUB dan NParks, dengan pemasangan rambu peringatan di sekitar reservoir.
- Insiden ini menambah daftar panjang penampakan buaya di perairan Singapura sepanjang 2024, memicu kekhawatiran akan keselamatan publik.

Otoritas pengelola air Singapura, PUB, memutuskan untuk menghentikan sementara seluruh aktivitas air di Pandan Reservoir pada Kamis (20/8) sore setelah seorang warga melaporkan melihat seekor buaya muara di perairan tersebut. Langkah ini diambil sebagai bentuk kewaspadaan dini, menyusul kekhawatiran akan keselamatan para pengguna fasilitas umum tersebut.
Menurut keterangan resmi PUB melalui kanal media sosialnya, laporan penampakan diterima sekitar pukul 15.00 waktu setempat. Begitu mendapat informasi, PUB segera berkoordinasi dengan National Parks Board (NParks) untuk menindaklanjuti. Dua organisasi olahraga air, Singapore Rowing Association dan Singapore Canoe Federation, telah diminta untuk menangguhkan semua kegiatan di reservoir yang berbatasan langsung dengan Teban Gardens itu.
Pandan Reservoir sendiri merupakan waduk layanan terbesar di Singapura, menjadikannya lokasi yang cukup vital bagi berbagai kegiatan rekreasi air. Penutupan sementara ini tentu berdampak pada jadwal latihan atlet dayung dan kano yang selama ini memanfaatkan lokasi tersebut. Namun, langkah ini dinilai perlu untuk memastikan tidak ada insiden yang membahayakan nyawa manusia.
NParks dan PUB kini tengah melakukan operasi pencarian dan penangkapan buaya tersebut. Selain itu, pemasangan rambu peringatan di sekitar area reservoir juga sedang dilakukan untuk mengingatkan masyarakat agar tetap waspada. "Rambu-rambu juga sedang dipasang di sekitar waduk untuk mengingatkan masyarakat dan menyarankan mereka untuk berhati-hati," demikian pernyataan resmi PUB.
Berdasarkan foto yang berhasil diabadikan, pihak berwenang menduga kuat reptil tersebut adalah buaya muara (Crocodylus porosus), spesies yang dikenal agresif dan dapat tumbuh hingga ukuran sangat besar. Penampakan buaya di perairan Singapura sepanjang tahun ini memang terbilang cukup sering. Pada Mei lalu, seekor buaya muara sempat tertangkap dan kemudian di-eutanasia setelah muncul di perairan Sentosa Cove. Keputusan tersebut diambil NParks dengan pertimbangan keselamatan publik dan minimnya opsi relokasi.
Kasus serupa juga terjadi pada akhir Januari, ketika seekor buaya terlihat di perairan Sentosa Cove dan memaksa penutupan aktivitas air di Pantai Siloso, Palawan, dan Tanjong selama satu minggu penuh. Kejadian-kejadian ini menunjukkan bahwa interaksi antara manusia dan buaya di wilayah perkotaan Singapura semakin sering terjadi, menuntut kewaspadaan ekstra dari semua pihak.
Bagi masyarakat yang mungkin menemui buaya muara, pihak berwenang mengimbau untuk tetap tenang, mundur perlahan, dan tidak mencoba mendekati, memprovokasi, atau memberi makan hewan tersebut. Penting juga untuk mematuhi rambu-rambu peringatan dan imbauan yang dipasang di sekitar area yang pernah menjadi lokasi penampakan. Jika menemukan buaya, warga dapat melaporkannya ke NParks di 1800-476-1600 atau PUB di 1800-2255-782.
Fenomena ini juga menjadi pengingat bagi negara-negara tetangga, termasuk Indonesia, yang memiliki habitat buaya muara yang luas. Meskipun kasus di Singapura terjadi di lingkungan perkotaan yang padat, pola penanganan dan komunikasi risiko yang dilakukan PUB dan NParks bisa menjadi referensi bagi pengelola kawasan wisata air di Indonesia, terutama di daerah yang berdekatan dengan habitat alami buaya.
Ke depannya, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah otoritas Singapura akan melakukan langkah-langkah pencegahan jangka panjang, seperti pemantauan rutin atau pengelolaan habitat, untuk mengurangi frekuensi kemunculan buaya di area publik. Atau, apakah ini akan menjadi siklus tahunan yang harus dihadapi dengan kewaspadaan yang sama? Hanya waktu yang bisa menjawab, namun yang jelas, keselamatan publik harus tetap menjadi prioritas utama.



