Wanita 35 Tahun Ditangkap FBI atas Rencana Bom di Gedung Capitol New York
Baca dalam 60 detik
- Jessica Bowie, 35, didakwa mendukung kelompok teroris asing setelah mengungkapkan niatnya kepada informan FBI untuk menghancurkan Capitol New York.
- Investigasi mengungkap rencana Bowie menyamar sebagai kurir makanan untuk menanam bom, dengan target tambahan termasuk Times Square.
- Penangkapan ini menyoroti meningkatnya ancaman terorisme domestik yang terinspirasi kelompok ekstremis, memicu kewaspadaan aparat keamanan global.

Otoritas Amerika Serikat menangkap seorang perempuan berusia 35 tahun, Jessica Bowie, atas dugaan keterlibatan dalam rencana pengeboman gedung Capitol Negara Bagian New York di Albany. Penangkapan ini terjadi setelah Bowie mengungkapkan niatnya kepada seorang informan FBI, sebagaimana tercantum dalam dokumen pengadilan yang dirilis Kamis (20/8).
Bowie didakwa dengan upaya memberikan dukungan material kepada organisasi teroris asing yang telah ditetapkan pemerintah AS. Dalam komunikasi dengan informan, ia mengaku telah memeluk Islam dan menjadi pendukung vokal kelompok Islamic State (ISIS) di dunia maya, termasuk menyebarkan pesan anti-Amerika dan memuji pelaku serangan 11 September 2001.
Menurut berkas dakwaan, Bowie tidak hanya mengungkapkan simpatinya, tetapi juga aktif mencari panduan untuk merakit bahan peledak. Ia bahkan berencana melakukan observasi dengan berpiknik di sekitar gedung Capitol untuk mempelajari sistem keamanan. Dalam percakapan melalui aplikasi pesan terenkripsi, ia menulis, "Saya ingin menghancurkan sebanyak mungkin bangunan dan membunuh para senator saat mereka sedang bersidang. Saya juga ingin mereka kehilangan banyak dokumen penting."
Rencana tersebut semakin matang ketika Bowie mengusulkan penyamaran sebagai kurir makanan untuk mengakses area terlarang. Ia telah membeli tas bermerek DoorDash serta komponen bom, termasuk paku yang akan digunakan sebagai serpihan. Ia juga sempat membayangkan melarikan diri ke Suriah setelah aksinya, dan jika berhasil, berencana kembali menyerang target bernilai tinggi seperti Times Square di New York.
Bowie akhirnya ditangkap agen FBI pada 19 Agustus, sehari sebelum dakwaan dibacakan. Saat ditangkap, ia dilaporkan mengatakan, "Tidak ada yang bisa menolong saya, kalian sudah tahu cukup banyak."
Kasus ini menjadi pengingat akan ancaman terorisme domestik yang terus berkembang, terutama yang terinspirasi oleh propaganda kelompok ekstremis. Menurut analis keamanan, pola rekrutmen melalui media sosial dan penggunaan aplikasi terenkripsi mempersulit upaya pencegahan. Namun, keberhasilan FBI dalam mengungkap rencana ini menunjukkan pentingnya peran informan dan pengawasan siber.
Bagi Indonesia, peristiwa ini relevan dengan upaya deradikalisasi dan kontra-terorisme yang terus digalakkan. Meskipun tidak ada kaitan langsung, modus penyamaran dan pemanfaatan platform digital menjadi pelajaran berharga bagi aparat keamanan dalam negeri. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) pernah menekankan perlunya kewaspadaan terhadap radikalisasi online, yang kini semakin masif.
Pertanyaan yang mengemuka adalah bagaimana keseimbangan antara kebebasan sipil dan kebutuhan keamanan dalam memantau aktivitas daring. Kasus Bowie menunjukkan bahwa deteksi dini melalui informan dan analisis data menjadi kunci, tetapi juga memicu perdebatan tentang privasi. Ke depan, kolaborasi internasional dan pertukaran intelijen akan semakin penting untuk mencegah serangan serupa.



