Startup AI Militer Smack Raup Rp950 Miliar: Tekanan Pentagon Ubah Peta Pemasok Teknologi Perang
Baca dalam 60 detik
- Smack Technologies mengamankan pendanaan Seri B senilai 61 juta dolar AS untuk mempercepat produksi sistem AI militer dan mengembangkan perangkat wearable.
- Keputusan Pentagon yang melarang Anthropic sebagai pemasok memicu pergeseran besar ke startup AI pertahanan, menjadikan Smack primadona baru.
- Dana segar ini akan digunakan untuk memproduksi perangkat AI lengan Alpha dan menggandakan jumlah karyawan, menandakan meningkatnya kebutuhan militer akan teknologi otonom.

Washington, 17 Agustus 2026 โ Smack Technologies, perusahaan rintisan teknologi pertahanan yang mengembangkan perangkat pengambil keputusan berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk militer, mengumumkan perolehan pendanaan Seri B senilai 61 juta dolar AS (sekitar Rp950 miliar). Dana tersebut akan digunakan untuk mempercepat produksi produk andalannya serta mengembangkan perangkat keras AI yang dapat dikenakan di medan perang.
Keputusan ini datang di tengah gejolak besar di industri pertahanan AS. Pada Maret lalu, Departemen Pertahanan AS secara resmi menyatakan Anthropic, salah satu pengembang AI terkemuka, sebagai "risiko rantai pasokan". Langkah ini memaksa seluruh cabang militer untuk mencari pemasok AI alternatif, mengubah startup seperti Smack dari sekadar pemain kecil menjadi komoditas panas yang diperebutkan.
Menurut Andy Markoff, salah satu pendiri sekaligus CEO Smack, dampak dari insiden Anthropic tersebut membuka pintu bagi perusahaannya untuk menjalin komunikasi dengan Korps Marinir dan Angkatan Laut AS pada musim semi lalu. Kedua cabang militer tersebut mendesak Smack untuk mempercepat produksi. "Mereka melihat kebutuhan mendesak akan teknologi yang mampu beroperasi dalam kondisi perang modern yang terdegradasi," ujar Markoff.
Urgensi ini muncul dari kekhawatiran mendalam di Pentagon tentang skenario konflik masa depan dengan lawan yang setara. Dalam perang semacam itu, medan pertempuran akan terdesentralisasi dan komunikasi akan terganggu, sehingga pasukan tidak bisa lagi bergantung pada pusat operasi yang terhubung baik seperti yang terjadi di Irak dan Afghanistan. "Masa depan perang akan lebih terdesentralisasi daripada konflik apa pun yang pernah kita hadapi," tegas Markoff, menekankan bahwa sebagian besar keputusan taktis harus dibuat di lapangan sebelum data mencapai sistem terpusat.
Teknologi inti Smack, yang diberi nama Omega, dirancang untuk mempersingkat proses perencanaan tembakan (fires-planning) di Korps Marinir. Sistem ini membantu menentukan target dan cara menyerang, serta beradaptasi secara real-time ketika amunisi, sensor, atau penembak keluar dari rencana pertempuran. Omega menggunakan model pembelajaran penguatan (reinforcement learning) dan visi komputer real-time untuk menghasilkan opsi dalam hitungan menit dan memperbaiki rencana yang kacau dalam hitungan detik. Perusahaan menyebut rantai pembunuhan (kill chain) tradisional "rentan terhadap gangguan dan terlalu lambat beradaptasi" dalam pertempuran yang bergerak cepat.
Dana segar dari putaran pendanaan ini juga akan dialokasikan untuk pengembangan Alpha, sebuah layar AI fleksibel yang dipasang di lengan bawah, dirancang untuk menggantikan papan tulis darurat yang selama ini digunakan tentara di lapangan. Smack telah membuka kantor khusus di Austin, Texas, untuk menggarap proyek ini dan menargetkan produksi 10 hingga 20 unit prototipe dalam enam bulan ke depan.
Kontrak prototipe yang diraih Smack pada bulan Juli lalu, dari Joint Fires Network (JFN) dan Marine Corps Warfighting Lab, menjadi bukti kepercayaan militer terhadap teknologi ini. Meskipun nilai kontrak tidak diungkapkan secara rinci, perusahaan menyatakan totalnya mencapai lebih dari tujuh digit dolar AS. Putaran pendanaan Seri B ini diikuti oleh sejumlah investor ternama, termasuk Costanoa Ventures, First In, Point72 Ventures, dan Geodesic Capital, dengan valuasi perusahaan yang tidak dipublikasikan.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi sinyal penting tentang arah teknologi pertahanan global. Adopsi AI dalam militer semakin masif, dan negara-negara mulai berlomba memperkuat kemampuan pertahanan siber serta sistem otonom. Indonesia, dengan kondisi geografis yang kompleks dan ancaman keamanan yang beragam, perlu mencermati tren ini. Kemandirian dalam pengembangan teknologi AI untuk pertahanan menjadi krusial, mengingat ketergantungan pada pemasok asing dapat menjadi celah keamanan. Keputusan Pentagon untuk mendiversifikasi pemasok AI menunjukkan bahwa risiko rantai pasokan adalah nyata, dan Indonesia perlu mengantisipasi hal serupa.
Dengan pertumbuhan karyawan yang hampir tiga kali lipat dalam beberapa bulan, Smack menunjukkan ekspansi yang agresif. Namun, pertanyaan besarnya adalah: apakah teknologi AI otonom seperti Omega dan Alpha akan benar-benar mengubah wajah perang modern, atau justru menciptakan risiko baru yang belum terbayangkan? Ke depan, uji coba di lapangan dan integrasi dengan sistem militer yang ada akan menjadi penentu. Jika berhasil, bukan tidak mungkin negara-negara lain, termasuk di kawasan Asia Tenggara, akan mulai melirik teknologi serupa.



