Anthropic Catat Pendapatan Tahunan Tembus US$65 Miliar, Siap Melantai di Bursa?
Baca dalam 60 detik
- Pendapatan tahunan Anthropic mencapai US$65 miliar hingga Juli, melonjak dari US$47 miliar pada Mei dan US$9 miliar di akhir 2025.
- Perusahaan AI di balik Claude ini menargetkan pendapatan US$190-200 miliar pada 2028, yang menjadi kunci valuasi IPO mereka.
- Dengan valuasi US$965 miliar, Anthropic siap bersaing dengan OpenAI dalam debut pasar di tengah gairah investor terhadap AI.

Anthropic, perusahaan pengembang model kecerdasan buatan (AI) di balik asisten Claude, mencatatkan pendapatan tahunan (annual revenue run rate) yang menembus US$65 miliar pada akhir Juli. Angka ini disampaikan langsung oleh sumber internal yang mengetahui perkembangan finansial perusahaan, dan menjadi sinyal kuat bahwa startup AI ini tengah bersiap melantai di bursa efek Amerika Serikat pada akhir tahun ini.
Lonjakan pendapatan ini bukan sekadar angka biasa. Jika dibandingkan dengan capaian Mei yang masih berada di level US$47 miliar, pertumbuhan tersebut menunjukkan akselerasi yang luar biasa. Bahkan, jika ditarik lebih jauh ke belakang, pada akhir 2025 pendapatan tahunan Anthropic baru sekitar US$9 miliar. Artinya, dalam kurun waktu kurang dari dua tahun, perusahaan yang didirikan oleh mantan eksekutif OpenAI ini berhasil melipatgandakan pendapatannya lebih dari tujuh kali lipat.
Informasi ini pertama kali diungkapkan oleh Bloomberg pada Senin (17/8) waktu setempat. Menurut sumber tersebut, angka terbaru ini telah dibagikan kepada para investor sebagai bagian dari pembaruan finansial berkala. Langkah ini dinilai sebagai upaya transparansi sekaligus membangun kepercayaan investor menjelang penawaran umum perdana (IPO) yang telah direncanakan.
Kabar ini muncul di tengah persaingan ketat antara Anthropic dan rival utamanya, OpenAI, yang sama-sama berambisi untuk segera melantai di bursa. Kedua perusahaan ini berlomba-lomba menarik minat investor yang tengah gandrung pada sektor AI. Sebelumnya, Anthropic telah mengajukan dokumen IPO secara rahasia kepada otoritas pasar modal AS, langkah yang umum dilakukan perusahaan rintisan sebelum menentukan waktu resmi pencatatan saham.
Kesuksesan Anthropic tidak lepas dari performa produk unggulannya, Claude, yang semakin populer di kalangan pengembang perangkat lunak. Claude, yang dikenal sebagai agen pengkode (coding agent), berhasil menarik minat korporasi besar untuk mengadopsi teknologi AI dalam operasional mereka. Hal ini tercermin dari aliran pendapatan enterprise yang stabil dan terus bertumbuh, menjadi tulang punggung finansial perusahaan.
Menurut laporan Reuters, Anthropic memproyeksikan pendapatan pada 2028 akan mencapai angka fantastis, yakni sekitar US$190 miliar hingga US$200 miliar. Proyeksi ini menjadi salah satu faktor penentu dalam penilaian valuasi IPO perusahaan. Jika terealisasi, angka tersebut akan menempatkan Anthropic sejajar dengan raksasa teknologi global seperti Microsoft dan Google dalam hal pendapatan tahunan.
Fenomena ini tidak hanya berdampak pada pasar modal AS, tetapi juga memicu gelombang diskusi di Indonesia. Para pelaku industri teknologi dan investor lokal mulai melirik potensi AI sebagai sektor yang menjanjikan. Kehadiran perusahaan seperti Anthropic dan OpenAI di pasar global diharapkan dapat mendorong adopsi AI di dalam negeri, baik di sektor pemerintahan maupun swasta. Namun, para pengamat mengingatkan bahwa Indonesia perlu menyiapkan infrastruktur digital dan regulasi yang matang agar tidak tertinggal dalam persaingan global.
โPertumbuhan Anthropic menunjukkan bahwa AI bukan lagi sekadar tren, melainkan kebutuhan strategis bagi perusahaan di seluruh dunia,โ ujar seorang analis teknologi yang enggan disebutkan namanya.
Dengan valuasi yang sudah menembus US$965 miliar, Anthropic kini berada di ambang pintu untuk menjadi salah satu perusahaan publik paling bernilai di dunia. Pertanyaannya, apakah proyeksi pendapatan yang ambisius tersebut mampu bertahan di tengah dinamika pasar yang penuh ketidakpastian? Atau justru akan menjadi bumerang bagi valuasi perusahaan? Hanya waktu yang akan membuktikan, tetapi satu hal yang pasti: persaingan di industri AI semakin memanas, dan Indonesia perlu bersiap mengambil peran.



