Google Beli Data Internal Spirit Airlines Rp160 Miliar untuk Latih AI
Baca dalam 60 detik
- Raksasa teknologi Alphabet mengakuisisi data operasional maskapai yang bangkrut itu sebagai bahan baku pengembangan produk dan pelatihan model kecerdasan buatan.
- Transaksi senilai US$10 juta ini menandai tren baru pemanfaatan aset data perusahaan yang kolaps, dengan penawaran dari pesaing Mercor mencapai US$7,5 juta.
- Keputusan hakim pengadilan kebangkrutan AS pada Rabu akan menentukan sahnya penjualan data yang telah dianonimkan tersebut, membuka preseden bagi kasus serupa.

Alphabet, perusahaan induk Google, menggelontorkan dana US$10 juta atau sekitar Rp160 miliar untuk membeli data bisnis internal Spirit Airlines yang tengah berjuang dalam proses kebangkrutan. Langkah ini bukan sekadar akuisisi aset biasa, melainkan sinyal kuat bagaimana data perusahaan yang gulung tikar menjadi komoditas berharga bagi pengembangan kecerdasan buatan (AI).
Data yang diperoleh mencakup email karyawan, pesan Microsoft Teams, spreadsheet, kalender, serta data pemasaran, produktivitas, dan operasional maskapai berbiaya rendah asal Amerika Serikat itu. Google menegaskan seluruh data akan dianonimkan sebelum transaksi final, sehingga tidak memuat informasi pelanggan maupun data pribadi yang dapat diidentifikasi. Langkah ini menjadi sorotan karena melibatkan data internal perusahaan yang biasanya bersifat rahasia, namun dalam proses kebangkrutan, aset semacam ini dapat dijual untuk menutup utang.
Spirit Airlines, yang menghentikan operasinya pada Mei lalu akibat beban utang dan biaya bahan bakar yang melonjak, kini tengah melelang aset-asetnya. Selain Google, perusahaan data AI bernama Mercor juga mengajukan tawaran senilai US$7,5 juta untuk data serupa. Persaingan ini menunjukkan bahwa data operasional, meski bukan data pelanggan, memiliki nilai strategis tinggi bagi perusahaan teknologi yang haus akan data pelatihan AI.
Keputusan akhir berada di tangan hakim pengadilan kebangkrutan AS yang dijadwalkan mempertimbangkan persetujuan penjualan ini dalam sidang Rabu. Jika disetujui, transaksi ini akan menjadi preseden baru dalam dunia bisnis dan teknologi, di mana aset data perusahaan yang bangkrut menjadi rebutan raksasa digital. Para analis menilai langkah Google ini sejalan dengan strategi mereka untuk memperkaya model AI dengan data dunia nyata, meskipun harus melalui jalur kebangkrutan yang kontroversial.
Bagi Indonesia, fenomena ini membuka mata akan nilai ekonomi data di tengah maraknya perusahaan rintisan dan korporasi yang kesulitan finansial. Di dalam negeri, regulasi perlindungan data pribadi (UU PDP) yang telah berlaku sejak 2022 menjadi payung hukum penting untuk mencegah penyalahgunaan data perusahaan yang bangkrut. Namun, celah dalam proses kebangkrutan bisa menjadi perhatian, terutama jika data operasional yang dijual mengandung informasi sensitif karyawan atau mitra bisnis.
Para pengamat teknologi menilai bahwa akuisisi data semacam ini akan semakin umum seiring meningkatnya kebutuhan data untuk melatih AI. Namun, mereka juga mengingatkan pentingnya transparansi dan etika dalam pemanfaatan data, terutama yang berasal dari perusahaan yang tidak lagi beroperasi. Pertanyaan yang muncul kemudian: apakah data yang diperoleh dari kebangkrutan sebuah maskapai akan digunakan secara bertanggung jawab, atau justru menjadi celah bagi praktik monopoli data oleh raksasa teknologi?
Ke depan, keputusan hakim pada sidang Rabu akan menjadi tonggak penting. Jika disetujui, bukan tidak mungkin akan muncul lebih banyak kasus serupa, di mana perusahaan teknologi berlomba membeli data dari perusahaan yang bangkrut. Namun, apakah tren ini akan diimbangi dengan regulasi yang ketat, atau justru berjalan tanpa kendali? Hanya waktu yang akan menjawab, tetapi yang jelas, data kini telah menjadi aset paling berharga di era digital, bahkan ketika pemiliknya sudah tidak lagi beroperasi.



