Ekspor Persik Fukushima ke Taiwan Pulih Penuh, Tanda Kepercayaan Pasar Kembali
Baca dalam 60 detik
- Pengiriman perdana 4,5 ton persik Fukushima ke Taiwan menandai pemulihan penuh ekspor pasca-bencana nuklir 2011.
- Tahun 2010, Taiwan menyerap 64% ekspor persik Fukushima; uji coba 2023 dan 2025 hanya dalam volume kecil.
- Pencabutan restriksi impor Jepang oleh Taiwan pada November lalu menjadi pintu masuk kebangkitan brand pertanian Fukushima.

Fukushima, Jepang โ Untuk pertama kalinya sejak krisis nuklir 2011, ekspor persik dari Prefektur Fukushima ke Taiwan kembali berjalan penuh. Pengiriman tahap awal yang dilakukan Senin lalu menjadi sinyal kuat bahwa kepercayaan pasar internasional terhadap produk pertanian Jepang dari wilayah terdampak bencana mulai pulih.
Sebanyak 4,5 ton persik dijadwalkan dikirim ke Taiwan hingga 11 September mendatang. Ini merupakan bagian dari upaya pemulihan ekonomi pertanian Fukushima yang sempat terpuruk setelah kecelakaan PLTN Fukushima Daiichi. Sebelum bencana, Taiwan adalah pasar utama ekspor persik Fukushima, menyerap 18,5 ton dari total 28,8 ton yang diekspor pada 2010 โ atau sekitar 64 persen.
Penghentian ekspor selama lebih dari satu dekade membuat para petani kehilangan pendapatan signifikan. Uji coba pengiriman sempat dilakukan pada 2023 dan 2025 setelah serangkaian tes radiasi membuktikan produk aman, namun volumenya masih sangat kecil. Kini, dengan pencabutan pembatasan impor oleh Taiwan pada November tahun lalu, pintu ekspor kembali terbuka lebar.
Pada pengiriman perdana, 40 kotak persik dengan berat sekitar 200 kilogram dilepas dari rumah pengepakan. Buah tersebut akan diterbangkan melalui pasar grosir Toyosu di Tokyo dan Bandara Narita, kemudian dijual di department store Taiwan. Langkah ini diharapkan menjadi awal dari pemulihan penuh pasar ekspor yang sempat hilang.
Yoshiyuki Fujino, pejabat koperasi pertanian JA Fukushima Mirai, menyambut baik kebangkitan ini. Menurutnya, hal tersebut memberi kepercayaan diri bagi para produsen dan menjadi tonggak besar dalam meningkatkan nilai merek persik Fukushima. "Ini akan memberi kepercayaan kepada produsen dan menandai langkah besar menuju peningkatan nilai merek persik Fukushima," ujarnya.
Konteks ini relevan bagi Indonesia, yang juga memiliki hubungan dagang erat dengan Jepang dan Taiwan. Meski Indonesia bukan importir utama persik Jepang, pemulihan ekspor Fukushima mencerminkan tren global meningkatnya kepercayaan terhadap produk pasca-bencana. Hal ini bisa menjadi pelajaran bagi Indonesia dalam mengelola persepsi risiko produk pertanian dari daerah yang pernah mengalami bencana alam atau industri.
Bagi Jepang, keberhasilan ini bukan sekadar soal ekonomi, tetapi juga pemulihan citra. Fukushima selama ini berjuang melawan stigma radiasi yang melekat sejak 2011. Setiap pengiriman yang berhasil membuktikan bahwa produk pertanian dari wilayah tersebut telah memenuhi standar keamanan ketat. Taiwan, sebagai mitra dagang utama, menjadi barometer penting bagi negara lain di Asia.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah pasar lain akan menyusul Taiwan. Jepang telah lama berupaya meyakinkan negara-negara seperti Tiongkok dan Korea Selatan untuk melonggarkan pembatasan impor. Jika tren positif ini berlanjut, bukan tidak mungkin ekspor persik Fukushima ke seluruh Asia akan pulih sepenuhnya dalam beberapa tahun mendatang. Namun, tantangan logistik dan persaingan dengan produsen lokal di negara tujuan tetap menjadi ujian.



